
Detik berlalu, menit berganti. sudah lebih satu jam mereka menunggu. Saat Genzo memutuskan untuk kembali pulang, di saat bersamaan nampak empat buah mobil box keluar dari pintu gerbang markas musuh. Pelan tapi pasti, mobil box tersebut mulai melaju dengan kecepatan maksimal. Di saat bersamaan, Genzo mengeluarkan alat peledak di dalam tas ransel miliknya. Ia keluar dari persembunyiannya bersama Cristoper, lalu melemparkan bahan peledak ke arah mobil Box yang melaju beriringan.
"DUARRR!
" DUARR!
"DUARR!
" DUARR!
Suara ledakan dahsyat terdengar bersamaan dengan hancurnya mobil box tersebut. Di saat itu pula, musuh berhamburan dari dalam markas lalu berpencar dengan senjata api laras panjang di tangan mereka.
"DOR DOR DOR!!!"
Peluru berseliweran, suara bising tembakan mulai terdengar di markas. Meski situasi gelap dan minimnya pencahayaan lampu, tidak mengulitkan pihak musuh atau anak buah Genzo untuk saling menembak.
"DOR DOR DOR!!
Dari pihak musuh semakin banyak keluar dari dalam markas, begitu juga anak buah Genzo yang cukup banyak dan bisa mengimbangi.
" DOR DOR DOR!!"
Genzo meraih tasnya kembali, lalu ia gantungkan di punggungnya. Saat Cristoper fokus ke arah musuh, perlahan Genzo berlari sembari merunduk, meninggalkan Cristoper. Ia terus berlari masuk ke dalam markas melalui pintu belakang.
Meski usianya yang masih menginjak 17 tahun. Namun tidak menyulutkan adrenalinnya untuk mengetahui segala hal dan tidak perduli bahaya apa yang ada di depan.
"BRAKKK!!
Kaki kanannya mendobrak pintu belakang, baru saja ia melangkah. Di dalam ruangan, dua musuh menghadangnya masuk.
" DOR DOR!!"
Dengan sigap, Genzo menjatuhkan tubuhnya seraya melesatkan peluru ke arah musuh. Ia kembali bangkit, dan melesatkan peluru ke arah tiga musuh lainnya yang berada di dalam ruangan.
"DOR DOR DOR!!"
Musuh ambruk seketika bersimbah darah di lantai. Lalu ia berlari masuk ke dalam markas, menuju ruangan lain. Nampak beberapa orang tengah mengemas obat obatan terlarang dan sejata ilegal. Genzo langsung mengarahkan senjatanya ke arah mereka.
"DOR DOR DOR!!
Mereka tidak tinggal diam, membalas serangan Genzo. Tidak ingin berlama lama, ia berlari ke luar ruangan sembari melemparkan bahan peledak ke ruangan tersebut.
"DUARRR!!!
" DUAARR!!
Kepulan asap memenuhi setiap ruangan, api mulai melahap gudang tempat penyimpanan narkoba dan senjata ilegal. Genzo berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua markas.Namun sebelum ia sampai, dari arah atas tangga bermunculan musuh dan melesatkan peluru ke arah Genzo.
"Dor dor dor!!
Seketika Genzo bersembunyi di balik dinding, peluru musuh hanya mengenai dinding dan besi yang ada di sekitar tangga.
" DOR DOR DOR!!"
Genzo membalas serangan mereka tanpa ampun, tanpa membiarkan mereka hidup lagi. Ia kembali berlari ke lantai dua gedung. Namun baru saja membuka pintu menuju lantai dua, beberapa pria sudah melesatkan peluru ke arahnya.
Peluru mengenai pintu besi, Genzo terdiam di balik pintu seraya mengisi peluru. Lalu kepalanya menyembul, peluru melesat ke arah musuh. Satu persatu tumbang bersimbah darah dan tewas seketika.
"Pergi!!! Seru seorang pria dengan lantang dari kejauhan.
Genzo mengibaskan tangannya, menghilangkan asap tebal yang menghalangi pandangannya. Ia berusaha menjamkan pandangannya saat sebuah helikopter muncul dari bawah. Angin semakin berhembus kencang, dan Genzo tidak dapat berjalan lebih dekat selain asap tebal menghalangi pandangannya. Hanya terdengar suara teriakan seorang pria.
" PERGI MENJAUH!!
"Siapa dia?" tanya Genzo pada dirinya sendiri. Ia berusaha mendekati pria yang di seret masuk ke dalam helikopter. Saat Genzo berhasil mendekat, helikopter yang membawa pria tersebut mulai lepas landas dan terbang menjauh.
Genzo diam terpaku tanpa bisa berbuat apa apa lagi. Ia hanya menatap helikopter itu hingga hilang dari pandangan.
"Genzo!!
Lamunan Genzo buyar saat Cristoper memanggilnya untuk segera pergi, karena markas tersebut akan segera meledak. Genzo bergegas keluar dari dalam markas dan menjauh.
" DUARRRR!!
Ledakan terjadi di dalam markas tersebut, Genzo dan Cristoper berdiri menatap markas musuh terbakar dan hancur. Tak lama kemudian bunyi sirine terdengar dari kejauhan, Genzo dan Cristoper bergegas pergi meninggalkan tempat sebelum polisi sampai ke lokasi.
Sementara pria yang tadi berteriak, hanya memperhatikan markas tersebut meledak, dari dalam helikopter.
"Maafkan aku sudah melibatkanmu. Ternyata kau sudah besar, kau gagah dan tampan. Aku bangga padamu." Ucap pria tersebut dalam hati.
***
Setelah berhasil mengalahkan musuh, mereka berdua kembali ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Genzo memikirkan pria yang berteriak memintanya pergi. Sayang, andai saja pria itu tidak di bawa pergi. Mungkin Genzo bisa mengenali pria tersebut.
"Apa yang kau pikirkan Tuan muda?" tanya Cristoper.
"Tidak ada Paman!" sahut Genzo, melirik sesaat ke arah Cristoper.
Kembali suasana malam di dalam mobil hening. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Cristoper kembali ke rumah, karena harus memastikan Aira dan Zoya dalam keadaan baik baik saja. Genzo segera bergegas menemui Kenzi dan Siena.
"Sayang, kau dari mana?" tanya Siena khawatir, lalu memeluk Genzo erat.
"Maaf, Grandma. Aku sudah membuatmu khawatir. Bagaimana dengan Ibu?" tanya Genzo menatap pintu ruangan di mana Davira di rawat.
"Ibumu masih koma sayang, lihatlah kau ke dalam." Siena melepaskan pelukannya, lalu mengajak Genzo masuk ke dalam ruangan.
Genzo duduk di kursi, meraih tangan Davira dan meremasnya pelan. Ia tatap lekat wajah yang selama ini dirindukannya.
"Ibu..aku di sini, bangun ibu..buka matamu." ucapnya lalu mengecup tangan Davira cukup lama. "Lihat aku Bu, aku sudah besar. Apa Ibu tidak ingin memelukku?" Ucapnya lagi di sertai deraian air mata membasahi telapak tangan Davira.
Siena mengusap punggung Genzo untuk menenangkan, air mata perlahan turun membasahi pipinya. Rantai takdir, seolah mencengkram kuat hidupnya dan anak cucunya. Masa lalu, seakan enggan pergi dari kehidupannya. Terkadang, perlu untuk berlari dari masalah. Tetapi, entah itu besok atau lusa, masalah itu akan datang kembali.
"Sayang, tenanglah. Ibumu pasti baik baik saja."
"Ibu..." tangan Davira terus ia genggam erat. Ia letakkan kepalanya di samping Davira, dengan terus menggenggam erat tangannya hingga ia tertidur pulas.
Siena membungkukkan badannya, mencium puncak kepala Genzo. Ia usap pipi cucunya yang basah oleh air mata. Ia menarik napas panjang, lalu ia duduk di kursi samping Genzo, memperhatikan putri dan cucunya. Sementara Kenzk dan Aranza berada di ruangan Angela. Penjagaan di luar ruangan dan sekitar rumah sakit, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.