
Dengan bantuan Yu dan Samuel yang kembali ikut bergabung dengan Kenzi membangun organisasi yang sempat bangkrut di bawah pimpinan Avram. Kini Kenzi mengambil alih dan menjadi pemimpin langsung anak buah Avram. Uang yang di gelontorkan Ryu dan Zidan dalam membantu Kenzi cukup lumayan besar.
Hanya butuh waktu satu minggu, Kenzi berhasil menaikkan citra Crips menjadi naik dan lebih baik dari sebelumnya. Nama organisasi itu kembali di lirik kalangan mafia elit lainnya untuk bekerja sama.
Kenzi berdiri di depan meja, menata foto Siena yang tersisa, yang di dapat dari ponsel milik Ryu. Ia tersenyum sendiri memperhatikan.
"Pernikahan tidak saja tentang kebersamaan dan cinta, tapi juga pertengkaran," gumam Kenzi pelan. "Tugasku sekarang melenyapkan Avram dan merebutmu kembali dari tangan Dareen."
Sebagaimana orang berpikir, pernikahan adalah awal yang membahagiaakan seperti yang di pikirkan Kenzi selama ini. Hanya ada cinta dan kebahagiaan karena telah a pasangan hidup yang tepat. Namun jika pertengkaran, permasalahan dalam suka dan duka rumah tangga jika bisa meramunya dengan tepat bisa membuat keluarga menjadi kokoh dan kuat. Tapi pada kenyataannya tidak, Kenzi harus banyak kehilangan termasuk istrinya sendiri. Tidak banyak orang terlahir dan tumbuh di tengah kegelapan, dan tak mudah keluar dari kegelapan
"Siena, maafkan aku."
Lamunan Kenzi buyar saat seseorang mengetuk pintu ruangan.
"Masuk!" sahut Kenzi memutar tubuhnya menghadap ke pintu.
"Tuan." Pria itu membungkuk hormat.
"Katakan, ada apa?" tanya Kenzi.
"Tuan, salah satu ketua Triad akan menyerang."
"Avram?"
"Benar Tuan!"
"Baik, kau atur semuanya!" perintah Kenzi pada pria itu.
"Baik tuan!" kemudian pria itu keluar dari ruangan. Sementara Kenzi menghubungi Samuel untuk berjaga dan mewaspadai jika ada serangan mendadak.
***
Sementara di rumah Dokter Ryu, setelah mendapatkan peringatan dari Kenzi bahwa Avram akan menyerang. Samuel memerintahkan anak buah Kenzi untuk waspada dan bersembunyi untuk mengintai.
"Kalian semua, jika terjadi keributan. Segera masuk ke ruang rahasia. Kalian paham?" Samuel memperingatkan Zoya dan yang lain supaya hal hal serupa di masa lalu tidak terjadi lagi.
"Baik paman!" sahut Angela dan Zoya.
"Paman, aku ikut denganmu membantu Ayah." Usul Jiro, karena ia ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu. Beruntung Zoya mendukung niat Jiro.
"Pergilah, dan pastikan kau pulang lagi ke rumah." Zoya memberikan dukungan. "Balaskan kematian papaku." Matanya berkaca kaca teringat Adelfo.
"Tentu sayang, aku janji. Kali ini, aku tidak akan mengulagi kesalahan yang sama."
"Aku ikut paman!" sela Zidan yang baru saja pulang dari bekerja.
"Kau? apa kau bisa?" tanya Angela meragukan suaminya sendiri.
"Tenang Angela, aku tidak akan membuatmu menjadi janda!" goda Zidan membuat yang lain tertawa kecil.
"Baiklah, kalau kalian mau ikut. Persiapkan diri kalian sekarang juga. Nona Zoya dan Angela, jika terjadi sesuatu, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan bukan?" tanya Samuel sekali lagi mengingatkan.
"Tentu paman!" sahut mereka serempak.
"Bagaimana dengan aku paman?"
Samuel dan yang lain menoleh ke arah Ryu yang baru saja keluar dari ruang laboratoriumnya.
"Kau temani mereka berdua. Aku tahu, kau sangat ingin membantu. Tapi kali ini kumohon kau tetap tinggal di sini."
"Aku mengerti paman," Ryu tersenyum dan menyadari kalau ia tidak punya keahlian apa apa, jika memaksakan diri membantu ayahnya. Yang ada justru sebaliknya akan merepotkan.
"Terima kasih kau mau mendengarku, Nak. Kalian berdua ayo bersiap. Kita pergi sekarang."
"Siap!"
Kemudian Samuel dan yang lain mempersiapkan senjatanya, setelah selesai mereka bergegas menuju markas Kenzi. Samuel dan yang lain dengan tenang meninggalkan Zoya, Angela dan Ryu di rumah. Selain memiliki banyak penjaga di setiap sudut rumah. Kenzi juga sudah membuat ruang rahasia untuk sembunyi dan jalan rahasia untuk melarikan diri jika sesuatu terjadi di luar dugaan.
***
Sementara di tempat lain, di mansion Dareen. Siena yang mendapat kabar kalau Avram hendak melakukan serangan besar besaran. Ia juga tidak mau tinggal diam. Tanpa sepengetahuan Dareen, ia memerintahkan anak buahnya untuk membantu Kenzi melawan Avram.
"Siena, apa kau tidak ikut membantu?" tanya Keenan.
"Kalau aku membantu Kenzi secara langsung, itu namanya aku bunuh diri. Kau tahu bukan, keselamatan nyawa anak anakku di pertaruhkan." Siena mendengus geram.
"Baik, kalau begitu. Biarkan kami yang membantu Kenzi."
"Apa kau sudah gila? kalau kalian ikut membantu Kenzi secara langsung, sama saja Dareen akan menganggap kita membelot. Apa kau paham?" Siena tidak setuju dengan usul Rei.
"Baiklah, aku ikuti apa maumu," sela Keenan.
Siena mengangguk pelan, menatap punggung dua sahabatnya meninggalkan ruangan. Ia duduk termenung bersandar di kursi.
"Sayang, sekeras kerasnya aku, aku begitu ringkih di hadapanmu. Aku yang mudah luluh oleh bujuk rayumu. Atau aku yang lemah karena luka yang kau goreskan terlalu menyakitkan. Tak perlu kau tanya bagaiman hatiku saat ini padamu, tak usah kau tahu apa alasanku pergi. Yang harus kau tahu, kepergianku bukanlah perpisahan yang kuinginkan, aku hanya ingin tenang untuk sementara sampai kutemukan bahwa kita mampu bertahan dan bisa memaafkanmu," gumam Siena dalam hati. Tak terasa air matanya menetes, karena telah menemukan Kenzi yang dulu pernah ia sanjungi.
***
Avram yang sudah bergabung dengan Triad dan menjadi salah satu ketua di sana, mendengar kabar Kenzi telah kembali ke dunia hitam membuat dia gerah.
"Aku tidak boleh tinggal diam, sebelum dia menyerang. Aku harus lebih dulu menyerang mereka sebelum semua terlambat." Avram mendengus geram menatap anak buah di hadapannya.
"Persiapkan semuanya, kita serang mereka secepatnya!" perintah Avram.
"Baik Tuan!" sahut salah satu anak buahnya membungkuk hormat lalu bergegas keluar untuk mempersiapkan peperangan malam ini.
"Tunggu saja kematianmu Kenzi!! Avram berdiri dan tertawa menyeringai. " Kali ini, aku tidak akan membiarkan kau hidup. Itu kesalahanku dulu!"