
Sementara di suatu tempat, jauh dari hirup pikuk kota. Di ruang bawah tanah, sempit dan pengap. Dua orang tengah berbaring di lantai yang lembab, mereka berbicara pelan. Kedua orang itu tidak lain adalah Jiro dan Zoya, selama 17 tahun mereka di sekap di ruang bawah tanah oleh sekelompok orang tak di kenal.
Tujuh belas tahun lalu, saat mereka hendak pulang ke Hongkong, selepas kaki mereka sampai di kota itu. Sekelompok orang menculik mereka, namun putri kecil mereka berhasil meloloskan diri. Yang mereka pikirkan saat ini, putrinya telah tiada
"Kita harus bisa keluar dari sini, sayang. Aku sudah tidak kuat lagi harus menahan siksaan mereka." Zoya berusaha bangun, menyeret tubuhnya mendekati lobang dinding yang selama ini mereka buat selama 17 tahun.
"Bersabarlah Zoya, sebentar lagi kita akan bebas." Timpal Jiro bangun lalu berjalan merangkak mendekati Zoya.
"Sedikit lagi sayang, ayo cepat!" pekiknya pelan.
Kemudian mereka kembali dinding bawah tanah menggunakan alat seadanya.
"Duk duk duk!!
Mereka terus menggali meski kondisi tubuh mereka semakin lemah, selama di sekap mereka tidak di beri makan dan minum. Selama ini mereka hanya mengandalkan binatang liar yang lewat di depan mata mereka untuk bertahan hidup, dan tetesan air yang mengalir dari atap yang jatuh ke bawah yang berasal dari saluran pembuangan. Tujuh belas tahun lamanya, mereka terus menggali dan akhienya hari ini membuahkan hasil. Sebuah cahaya terang menerobos lewat celah dinding yang berukuran tubuh mereka.
" Berhasil!" pekik Zoya pelan memeluk suaminya.
"Ayo kita pergi dari sini!"
Jiro keluar dari lobang dinding terlebih dahulu, untuk memastikan semuanya aman. Setelah itu di susul Zoya keluar dari lubang dinding. Mata mereka mengerjap berkali kali untuk menyesuaikan pandangan mata dengan sinar cahaya matahari yang selama tujuh belas tahun tidak pernah mereka lihat lagi.
Kemudian mereka melangkah bersama meninggalkan tempat itu, tubuh yang lemah, pakaian yang lusuh dan bau. Layaknya orang gila, tidak jarang saat berpas pasan dengan orang lain. Mereka menganggap Jiro dan Zoya sepasang orang gila.
Tujuh belas tahun lamanya, waktu berlalu, semua sudah banyak berubah. Zoya dan Jiro seperti orang linglung. Mereka tidak tahu lagi jalan pulang. Sesekali Jiro bertanya alamat rumahnya pada orang yang lewat. Namun bukan jawaban yang ia terima. Tapi caci maki dan tidak sedikit yang menendangnya.
Namun keduanya tidak ingin menyerah begitu saja, dua hari berlalu mereka terus berjalan menyusuri kota. Bertanya meski tidak ada jawaban, sesekali mereka mengais bekas makanan di tempat sampah hanya untuk mengganjal perutnya yang lapar.
***
"Bangun, bangun!"
Jiro dan Zoya bangun dan terkejut saat pemilik toko menendang kaki mereka. Kemudian Jiro mengangkat tubuh Zoya yang sudah semakin lemah supaya berdiri.
"Ayo kita pergi dari sini..." ucap Jiro lirih.
Kemudian mereka kembali melanjutkan langkah kakinya mereka yang semakin lemah, cuaca panas membuat mereka kehausan.
"Aku sudah tidak kuat," bisik Zoya di telinga Jiro. Tubuhnya merosot lalu ambruk, meski Jiro coba menahan tubuh Zoya. Namun tetap saja tidak mampu, akhirnya keduanya meringkuk di depan pintu gerbang sekolah.
"Bertahanlah, demi aku," ucap Jiro, air matanya menetes memeluk tubuh Zoya.
"Aku sudah tidak kuat lagi."
"Tidak, kau harus kuat, harus kuat." Pekik Jiro pelan di telinga Zoya.
Siswa yang berpas pasan dengan mereka langsung berlari menjauh dan menutup hidungnya karena bau yang tidak sedap. Lama lama, siswa sekolah itu berkumpul dari kejauhan memperhatikan mereka yang tengah berpelukan dan menangis. Tak satupun siswa yang mau menolong, meski Jiro meminta mereka untuk memberikan sedikit air untuk Zoya.
Tak lama dua buah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah. Nampak Genzo keluar dari pintu mobil saat salah satu anak buahnya membukakan pintu mobil.
"Paman ada apa?" tanya Genzo. "Apa kau butuh sesuatu?"
"Nak, istriku butuh makan dan minum. Beri kami sedikit air minum dan makanan," pinta Jiro menghiba.
Genzo menganggukkan kepalanya, lalu ia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membeli makan dan minum di kantin sekolah.
"Istrimu sakit paman?" tanya Genzo.
"Kami kelaparan, Nak." jawab Jiro mengusap air matanya.
"Paman, sebaiknya kita bawa istri Paman ke rumah sakit! kata Genzo sedih melihat Zoya mulai merasakan sesak napas.
"Tapi Nak, aku tidak punya uang."
"Tenang Paman, semua biaya aku yang tanggung, Kalian tidak perlu pikirkan itu, ayo paman!" seru Genzo.
Kemudian Genzo memerintahkan anak buahnya untuk membantunya mengangkat tubuh mereka berdua masuk ke dalam mobil. Genzo ikut mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka berdua langsung di tangani Dokter terbaik di rumah sakit itu atas perintah Genzo. Ia juga meminta anak buahnya untuk membelikan pakaian baru untuk mereka berdua.
Dua jam berlalu Genzo dan Jiro menunggu. Akhirnya Dokter menyatakan kalau Zoya mengalami luka dalam dan kelaparan, sekarang kondisinya sudah lebih baik setelah Dokter memberikannya obat. Dokter juga mempersilahkan Genzo dan Jiro untuk menjenguk Zoya.
"Sayang, apa kau sudah lebih baik?" tanya Jiro.
"Terima kasih, Nak. Kau baik sekali." Ucap Zoya tersenyum lemah pada Genzo.
"Kalian istirahat, makan sepuas yang kalian mau!" jawab Genzo dengan mata berbinar. "Paman, aku harus kembali ke sekolah, kalian jangan kemana mana, tetap di sini."
"Terima kasih, Nak!"
Genzo menganggukkan kepalanya, lalu ia melangkah keluar dari ruangan, kembali ke sekolah. Sementara Jiro memutuskan untuk bertanya alamat rumah Ryu yang masih ia ingat, pada salah satu perawat jaga.
"Benar Tuan, ini rumah sakit milik Tuan Ryu."
Salah satu perawat itu memberikan petunjuk alamat rumah Ryu pada Jiro. Setelah ia mendapatkan petunjuk alamat rumah Ryu. Jiro kembali ke ruangan Zoya dan mengajaknya pergi meninggalkan rumah sakit, menuju rumah Ryu. Beruntung, salah satu anak buah Genzo, di perintahkan menunggu Jiro dan Zoya di khawatirkan mereka membutuhkan bantuan selama Genzo sekolah.
"Antarkan kami ke alamat rumah ini," Jiro menunjukkan selembar kertas pada salah satu anak buah Genzo.
Pria itu mengerutkan dahi, kemudian menatap tajam mereka berdua. "Ini alamat rumha Tuan kami!
" Apa?" Jiro terkejut mendengar pernyataan pria itu. Rasa penasaran, dan rasa rindunya terhadap Ryu semakin bergejolak dalam dada Jiro. "Bisa kau antarkan kami?" tanya Jiro.
"Baik!"
Jiro tersenyum mengembang, menoleh sesaat ke arah Zoya yang tersenyum bahagia padanya. Kemudian anak buah Genzo, membawa mereka menuju rumah Ryu.