
Saat ini, manusia sedang berada di era besar Anti-Empati. Era di mana segala jenis simpati dan Empati terkorosi dengan liarnya. Anti Empati yang paling ekstrem adalah para psikopat dalam ranah psikiatri dan ranah sosial. Baik dalan jajaran pemerintahan ataupun lingkungan masyarakat , suku dan budaya dan lain sebagainya. Itulah cara mafia elit global memperbudak manusia dengan dunia berbasis internet, alih alih mempermudah manusia dalam membantu kesehariannya, tapi apakah di sadari oleh manusia itu sendiri?
Ryu yang mengetahu data data rahasia para mafia elit global, berusaha keras mencari celah untuk memecahkan kode rahasia mereka. Dari mengkampanyekan untuk tidak mengkonsumsi narkoba hingga turun ke jalan bersama para aktifis lainnya. Tapi naas, sebelum langkah terakhirnya berhasil, ia dan keluarganya yang lain menghilang bak di telan bumi. Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Rasa putus asa mulai menghantui Genzo, putra tunggal Ryu.
"Ayah, Ibu, apakah kalian merindukanku seperti aku merindukanmu?" gumam Genzo duduk di kursi menatap foto kedua orang tuanya.
"Aku harus bagaimana Ayah? aku harus mencari kalian kemana Ibu?" tanyanya menatap lekat wajah kedua orangtuanya di dalam foto itu.
Genzo menarik napas dalam dalam, ia alihkan pandangannya pada sebuah komputer yang tak pernah menyala sejak Ryu dan Davira menghilang. Genzo menggeser duduknya menatap komputer cukup lama. Jari jemarinya mulai mengusap layar komputer lalu menyalakannya.
Awalnya hanya terlihat gambar hitam, lalu berubah menjadi putih. Genzo berpikir kalau komputer milik ayahnya sudah rusak. Lalu ia memukul komputer itu karena kesal. Ia berharap menemukan sesuatu namun komputernya rusak.
"Buk!!
" Ah sial!" umpat Genzo menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kedua tangan kebelakang menopang kepalanya.
Genzo terdiam cukup lama memperhatikan layar monitor, namun detik berikutnya terlihat sebuah gambar Ayahnya namun kembali layar itu menjadi hitam.
"Ayah!" serunya pelan. "Aku harus memperbaikinya."
Kemudian Genzo keluar dari ruang kerja Ryu, memanggil Cristoper dan Samuel untuk membantunya memperbaiki komputer milik Ayahnya. Tak lama kemudian mereka telah kembali, Cristoper duduk di kursi menghadap layar monitor. Sementara Genzo dan Samuel berdiri di samping memperhatikan Cristoper memperbaiki.
"Tuan Muda yakin? apa yang anda lihat?" tanya Cristoper jari jemarinya terus memperbaiki kerusakan komputer itu. Cristoper terus menh-otak atik komputer itu dan akhirnay membuahkan hasil. Layar monitor terbuka penuh, nampak Ryu tengah berbicara.
"Ayah!" seru Genzo pelan, tak terasa air matanya turun membasahi kedua pipinya. "Ayah.." Bibirnya bergetar memanggil sang Ayah. Samuel menghampiri Genzo, merangkul bahunya untuk menenangkan.
"Tuan Muda, tenanglah. Kita dengarkan apa yang ingin di sampaikan Ayah anda." Samuel menganggukkan kepalanya menatap wajah Genzo.
"Baik Paman!" sahut Genzo mengusap kedua pipinya.
Mereka mendengarkan semua apa yang di katakan Ryu dalam video itu, namun saat Ryu hendak mengatakan sebuah rahasia yang selama ini ia ketahui, tiba tiba saja gambar Ryu kembali menghilang. Layar monitor itu kembali gelap seperti semula. Cristoper berusaha memperbaikinya lagi, namun usahanya nihil.
"Bagaimana Paman?" tanya Genzo.
"Tuan, sepertinya Tuan Ryu memang sengaja memotong video ini. Bukan komputernya yang rusak." Cristoper menoleh ke arah Genzo, nampak raut wajah kecewa jelas terlihat.
"Tidak apa apa Paman, mungkin suatu hari nanti kita akan menemukan titik terang. Aku yakin, mereka masih hidup tetapi entah di mana mereka semua." Genzo menarik napas dalam dalam, membuang beban berat di dalam dada yang membuatnya sesak.
Genzo beranjak pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan sedih bercampur kecewa. Ia memilih keluar rumah dan menyusuri indahnya kota di malam hari. Ia menepikan mobilnya lalu duduk di tepi jalan memandang langit yang gelap. Memikirkan keluarganya yang entah ada di mana. Ia alihkan pandangannya memperhatikan orang yang lalu lalang, berbagi wajah yang sama. Di malam hari yang bagaikan taman, bangunan bangunan megah di hadapannya, deru suara motor dan mobil bersama ribuan kegembiraan manusia yang palsu, membuat bising malam hari.
"Kresekkkk!!!
Genzo mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang tengah mengorek sampah, ia tersenyum saat melihat sepotong roti di genggaman tangannya. Dengan lahap wanita itu memakan rotinya, sesekali ia menengok ke kiri dan kekanan. Seorang wanita tunawisma yang di perkirakan berusia 25 tahun.
Genzo mengusap perutnya yang kenyang, ia menelan salivanya sendiri, melihat wanita itu melahap habis sepotong roti di tempat sampah. Kemudian wanita itu nampak masih kelaparan, ia kembali mengorek tempat sampah itu. Genzo brdiri dan menghampiri wanita itu. Si wanita itu terkejut dengan kehadiran Genzo. Matanya melotot,tangannya ia kibaskan berkali kali.
" Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku," ucapnya dengan nada ketakutan.
Genzo menyipitkan matanya menatap wanita itu, seketika ia teringat dengan wajah Aira yang ada di dalam foto keluarga yang masih tersimpan rapi di kamarnya. Namun Genzo menepisnya, tidak mungkin itu Aira, putri dari Jiro.
"Jangab bunuh aku!" jerit wanita itu berlari menjauh dari Genzo.
Namjn Genzo tidak membiarkannya, ia mengejar wanita itu, karena ia tahu sedang kelaparan. Di gang sempit Genzo kehilangan jejaknya, ia berhenti berlari memperhatikan sekitar. Wanita tersebut sudah tidak ada. Saat Genzo memutuskan untuk kembali, ia melihat wanita tadi tengah duduk meringkuk di pojokan tempat sampah. Tangannya gemetar, bibirnya terus berucap.
"Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku.."
Genzo jongkok di hadapan wanita itu, menyibakkan rambut gimbal yang menghalangi wajahnya.
"Kakak tenang ya, aku tidak akan menyakitimu." Perlahan tangan Genzo mengusap pipi wanita tersebut dengan lembut. Dan wanita itu terdiam memperhatikan wajah Genzo, ia pun mulai tenang. Merasakan sentuhan lembut tangan Genzo di pipinya
"Kakak lapar? bagaimana kalau kakak ikut denganku? mau?" tanyanya dengan mata berkaca kaca, rasa ingin menangis, rasa sedih yang luar biasa yang entah datangnya dari mana. "Ayo bangun!"
Genzo menarik tangan wanita itu pelan supaya berdiri. Bau pakaian yang menyengat, tidak mengurungkan niat Genzo untuk membawa wanita itu ke rumahnya. Perlahan wanita itu bangun dan mempercayakan dirinya pada orang asing. Genzo tersenyum melirik ke arah wanita itu. Lalu ia memintanya untuk masuk ke dalam mobil duduk dengan tenang.
Sepanjang perjalanan Genzo diam, sesekali ia melirik ke arah wanita itu, yang tengah tertidur di dalam mobil.
"Aku tidak tahu siapa kakak, tapi kata hatiku tidak pernah salah," gumam Genzo
***
Di kediaman Ariela. Gadis itu tengah bertengkar hebat dengan kakaknya. Ia tidak terima, jika Sean melukai Genzo, teman sekolah yang ia sukai.
"Kalau kau berhubungan lagi dengan anak itu, aku tidak segan segan memotong kakimu!" ancam Sean menunjuk ke arah Ariela.
"Sean! kau tidak perlu mencampuri urusanku! aku punya hak untuk menentukan siapa yang aku sukai!" pekik Ariela tidak terima dengan sikap kakaknya yang otoriter.
"Cukup!"
Kedua kakak beradik itu menoleh ke arah sumber suara, nampak pria paruh baya berdiri di ambang pintu, lalu berjalan menghampiri mereka.
"Siapa anak itu?" tanya pria tersebut menatap keduanya
"Genzo, Pa!" sahut Ariela. "Teman sekolahku."
"Dia hanya anak ingusan, tidak penting Papa tahu," timpal Sean.
Pria itu tertawa menyeringai, menghisap rokoknya dalam dalam. "Aku tahu betul selera putriku, tidak mungkin ia menyukai pria biasa. Katakan, siapa orang tua Genzo?" tanya pria itu yang tak lain Ayah keduanya.
"Setahu aku, orangtuanya sudah tidak ada. Dia pewaris tunggal pemilik rumah sakit terbesar di kota ini. Nama rumah sakitnya-?" Ariela tidak melanjutkan ucapannya, saat ketukan pelan di pintu mengganggu pembicaraan mereka.
"Tuan Aranza, ada Tuan Jun Cok!" ucap pria itu membungkukkan badan sesaat.
"Baik, tunggu sebentar!" sahut Ayah Ariela yang tak lain adalah Aranza. "Utusan kita belum selesai, Papa segera kembali.' Aranza berlalu meninggalkan mereka berdua di ruangan.
" Bisnis terus yang utama, anaknya sendiri tidak diperhatikan!" gerutu Ariela lalu ia beranjak pergi meninggalkan ruangan.