THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Dua hari pasca pernikahan. Siena dan Kenzi memberikan hadiah liburan buat Ryu untuk bulan madu. Namun Ryu menolaknya begitu juga Davira. Ryu sama sekali tidak ingin jauh dari keluarganya. Ia trauma terjadi hal hal yang tidak di inginkan saat ia tengah berlibur.


Hari ini Siena mengunjungi markasnya untuk memastikan kalau tidak ada lagi gangguan yang akan membuat keluarganya berantakan lagi.


"Kami sudah berusaha mencari informasi. Tapi memang Aranza tidak ada di Hongkong. Nyonya!"


"Baik, jika ada kabar terbaru cepat kalian kabari dan ambil tindakan!"


"Baik Nyonya!"


Siena menganggukkan kepalanya, lalu ia berlalu meninggalkan anak buahnya untuk kembali pulang.


Sepanjang jalan Siena terus berpikir dan membolak balikkan apa yang menjadi kekhawatirannya, senyum manis tersungging di bibirnya.


"Sejauh ini, aku bisa mengatasinya bersama keluargaku. Jika harus nyawa kukorbankan demi keluargaku, aku sudah siap."


***


Sesampainya di halaman rumah, Siena berpas pasan dengan Kenzi yang baru saja pulang dari rumah Yu.


"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Kenzi menghampiri Siena yang masih berdiri di samping mobil.


"Ya, kau sendiri?" tanya Siena balik, meski hubungan mereka tak seromantis dulu. Namun Siena tetap berusaha untuk menerima Kenzi seutuhnya., walau terkadang ada kecanggungan di antara mereka berdua.


"Sudah sayang, Kakak Yu sudah membaik kondisinya. Mungkin dia kelehan." Kenzi menjawab, lalu menarik tangan Siena untuk masuk ke dalam rumah. "Kita masuk sayang."


Siena menganggukkan kepalanya. Namun baru saja mereka hendak melangkah, dari arah gerbang tiga buah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah mereka. Siena menoleh ke arah Kenzi sesaat.


"Siapa mereka?" tanya Siena pelan.


"Triad." Sahut Kenzi menatap ke arah beberapa pria yang keluar dari pintu mobil dan menghampirinya.


Pentolan K14 Triad, satu di antaranya sengaja menemui Kenzi dan Siena.


"Tuan dan Nyonya Siena, selamat siang." Pria itu membungkukkan badannya sesaat.


Pria itu tersenyum lebar, lalu mengeluarkan sebatang cerutu ia selipkan di bibirnya. Satu anak buahnya maju menyalakan pematik.


"Tuan Kenzi, tenanglah. Aku datang ke sini bukan untuk mengajakmu berperang."


Pria itu tertawa terkekeh lalu terbatuk kecil kena asap cerutu. Kenzi dan Siena hanya terdiam memperhatikan.


"Katakan, apa tujuanmu datang menemui kami?" giliran Siena yang bertanya dan maju selangkah ke depan membelakangi Kenzi.


"Nyonya.." pria itu terdima memperhatikan Siena cukup lama, lalu ia hisap cerutunya dengan dalam.


"Katakan."


"Aku datang ke sini, hanya untuk bertanya tentang keberadaan Aranza. Mungkin saja kalian mengerahuinya dari pada kami?" jelas terlihat senyuman sinis di sudut bibir pria itu.


"Oh."


Siena maju lebih dekat ke arah pria itu menatapnya tajam, dengan kedua tangan ia silangkan di dada.


"Secara tidak langsung, anda menuduh kami yang melenyapkan Aranza. Bukan begitu?"


Pria itu tertawa lebar, membuang cerutunya ke bawah lalu menginjaknya dengan sepatu yang ia kenakan.


"Tidak Nyonya, aku sekedar bertanya. Jika kalian tidak tahu, kami permisi."


Pria itu membungkukkan badan sesaat, lalu melangkah pergi di ikuti anak buahnya kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan tempat.


Siena balik badan menghadap Kenzi yang sedari tadi diam memperhatikan istrinya menghadapi ketua Triad itu. Kedua tangan Siena melingkar di leher Kenzi. Dan Kenzi memeluk pinggang Siena dengan erat.


"Bagaimana sayang?" tanya Siena tersenyum. "Apa kau sudah siap?"


"Tentu saja, apapun itu. Yang terpenting buatku sekarang keluarga kecil kita tetap aman. Dan kau selalu ada di dekatku, apapun yang terjadi."


Siena mencium pipi Kenzi sekilas, lalu mereka berdua kembali melangkah memasuki rumahnya.