THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



"PLAKKK!!"


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Alexa. Gadis itu mengerang kesakitan memegang pipinya. Belum cukup rasa sakit di pipinya, ia harus menerima hukum cambuk dari sang ayah karena telah membantu Genzo membebaskan Ryu dari ruangan laboratorium.


"Cetarrr!!!


" Ampuni aku, Ayah! jerit Alexa, telungkup di bawah lantai menahan cambukan yang langsung di berikan Zidan


"Anak tidak tahu diri!! berani sekali kau khianati ayahmu sendiri!!" seru Zidan marah seraya mengayunkan cemeti ketubuh putrinya sendiri.


"Ampun Ayah..." suara Alexa semakin lama semakin lemah, matanya mulai terpejam. Gadis itu tetap berusaha meraih kesadarannya, meski tubuh mungilnya tak mampu lagi menahan siksaan yang harus ia terima.


"Pengawal! kurung dia!! perintahnya pada salah satu pria yang sedari tadi menikmati pertunjukan. " Jangan beri dia makan dan minum, biarkan dia mati!"


Kemudian pria itu mengangkat tubuh Alexa dan menyeret paksa keluar dari ruangan menuju penjara bawah tanah.


"Bukkk!! Pria itu menghempaskan tubuh Alexa ke lantai layaknya tawanan.


" Maafkan aku, Ayah. Bukan aku tak menyangimu, tapi kau sudah keliru ayah. Aku hanya ingin hidup normal, memiliki ayah yang baik seperti orang lain." Ucap Alexa dalam hati. Pandangannya mulai menguning, lalu terpejam. Meski ia masih bisa mendengar suara langkah kaki para pengawal yang berjaga.


"Genzo, rasa sakit yang kuterima. Tidak ada apa apanya, dibanding rasa sakitmu selama tujuh belas tahun berpisah dengan orangtuamu. Aku melakukan ini, karena aku cinta kau..." Alexa akhirnya telah kehilangan kesadarannya.


***


"Ibuuuu! Grandpa! Grandma!


Genzo memanggil nama anggota keluarganya memasuki ruangan sambil memapah tubuh Ryu. Langkah mereka terhenti tepat di depan Davira dan anggota keluarganya yang lain.


" A, apakah ini nyata? atau khayalanku saja?" ucap Davira, bibirnya bergetar. Air mata perlahan tapi pasti mengalir dengan deras membasahi pipinya. "Kau kah itu?"


"Ini aku.." sapa Ryu lemah.


"Suamiku.." perlahan Davira berjalan mendekat, kedua tangannya terulur menyambut tubuh suaminya dan memeluk erat dengan segenap perasaan yang ia miliki.


"Sayang, kau masih hidup, kau masih hidup!" ucap Davira.


"Aku senang, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi juga putra kita." Timpal Ryu.


Tangis kebahagiaan mewarnai pertemuan tak terduga itu, Siena dan Kenzi saling berpelukan memperhatikan mereka. Begitu juga Jiro dan Zoya.


"Akhirnya, aku bisa berkumpul lagi," ucap Ryu terisak, matanya melirik ke arah Kenzi dan Siena. "Ayah, Ibu."


Kenzi dan Siena hanya menganggukkan kepalanya, lalu keduanya memeluk erat tubuh keduanya. Air mata, isak tangis, kebahagiaan sekaligus kesedihan memenuhi ruangan itu. Disusul Jiro dan Zoya, mereka saling berpelukan erat. Genzo dan yang lain hanya diam memperhatikan keluarganya yang terpisah cukup lama.


"Putraku.." Ryu melepaskan peluakan keluarganya, menoleh ke arah Genzo yang tengah terisak. "Kemarilah, Nak."


"Ayah!" Genzo mendekat dan bergantian memeluk erat tubuh Ryu. Mereka berdua berpelukan cukup lama. Melepaskan rasa rindu yang selama ini mereka rasakan. Penantian panjang Genzo, akhirnya membuahkan hasil.


"Aku sangat merindukanmu Nak," ucap Ryu tak mau melepas pelukannya


"Sebaiknya kau obati lukamu," sela Kenzi.


"Baiklah ayah," jawab Ryu melepaskan pelukannya.


Setelah puas melepas rindu, Ryu membersihkan dirinya dan mengobati luka luka di wajahnya. Sementara Siena dan Davira menyiapkan makanan untuk mereka semua.


Sementara Genzo, duduk termenung di teras rumahnya. Di sisi lain, ia bahagia bisa menyelamatkan ayahnya, berkumpul kembali bersama mereka. Akan tetapi, di sisi lain ia sangat sedih memikirkan Alexa. Ia sangat khawatir terjadi apa apa dengan gadis itu. Apa yang di lakukan Alexa, bagi Genzo adalah suatu pengorbanan besar. Tetapi mengapa gadis itu melakukan itu semua?


"Kau memikirkan Alexa?" tanya Ariela, lalu duduk di kursi bersebelahan dengan Genzo.


"Kau tahu itu, dan aku tidak perlu menjelaskan," jawab Genzo datar


"Apakah kau akan kembali ke sana? aku siap membantumu," sahut Ariela menundukkan kepalanya sesaat.


"Entahlah, aku tidak yakin Alexa ada di sana." Genzo menoleh ke arah Ariela lalu memperhatikan Kitaro yang baru saja datang lalu duduk berhadapan dengan mereka.


"Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkannya?" tanya Kitaro.


"Kita tidak boleh gegabah. Mereka bukan penjahat biasa," sela Ariela. "Kita harus selidiki, sebelum bertindak. Mungkin, aku akan meminta bantuan papa."


"Kau benar Ariela, tapi aku tidak mau melibatkan kalian. Terlalu beresiko, aku tidak mau terjadi apa apa pada kalian." Genzo tersenyum tipis menatap mereka berdua.


"Secara tidak langsung, kita sudah terlibat. Mau atau tidak, aku akan tetap membantumu." Kitaro meletakkan telapak tangannya di atas meja. "Kita sahabat!"


"Sahabat, tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Sahabat kita terluka, kita semua ikut merasakan luka itu," timpal Ariela, tangannya terulur menimpa telapak tangan Kitaro.


"Kita sahabat, selamanya kita sahabat!" ujar Kitaro.


Genzo terdiam, matanya berkaca kaca menatap kedua sahabatnya. "Demi Alexa dan demi kita semua!" seru Genzo seraya tangannya ia letakkan di atas telapak tangan kedua sahabatnya.


Mereka tersenyum lalu tertawa kecil, saling mengeratkan pegangan tangannya masing masing. Genzo bersukur, memiliki tiga sahabat yang bisa di andalkan.


"Kalian di sini?" sapa Siena berdiri di ambang pintu, membawa nampan yang berisi makanan dan minuman segar. "Boleh aku gabung?"


"Tentu, Grandma!" sahut Genzo kembali menarik tangannya.


Siena tersenyum, lalu berjalan mendekati mereka. Ia letakkan nampan di atas meja, lalu duduk di sebelah Kitaro.


"Kalian ada apa? boleh aku tahu?" tanya Siena menatap satu persatu ketiga remaja itu.


"Tidak ada, Grandma!" jawab Genzo tersenyum, lalu mengambil gelas minuman segar.


Siena hanya tersenyum memperhatikan cucunya bercanda bersama kedua sahabatnya. Ia tahu, meski bibir Genzo tersenyum, tapi hatinya tengah bersedih memikirkan Alexa.


"Kau mirip Ayahmu, Nak. Aku pasti membantumu, pasti." Ucap Siena dalam hati.