
Hari ini adalah hari istimewa Angela, genap usianya 19 tahun. Untuk pertama kalinya ia merasa istimewa karena Jiro dan Kenzi membuatkan pesta kecil kecilan untuk Angela. Semua orang di rumah itu sibuk mempersiapkan acara ulang tahun nanti malam. Karena Kenzi mengizinkan Angela mengundang teman teman kampusnya untuk datang ke pesta ulang tahunnya nanti malam.
Mei Chan sibuk membantu Jiro dan Kenzi mempersiapkan segala halnya. Sementara Dokter Ryu sibuk dengan pekerjaannya. Ia memilih untuk diam dan tidak perduli apa yang di kerjakan keluarganya.
Bukan tanpa sebab Ryu berubah sikap menjadi dingin dan pasif. Dia memilih diam dan tak banyak bicara. Hatinya telah beku dan patah oleh sikap saudaranya juga Kenzi.
Kini hati Ryu tertutup sudah untuk berbagi kisah atau kebahagiaan bersama mereka. Ia menjadi merasa asing di tengah tengah keluarganya yang dulu begitu kompak dan saling pengertian. Tapi seiring waktu, hal itu sirna. Masing masing memiliki kesibukan dan rencana mereka untuk masa depan.
"Ryu, kau mau kemana Nak?" tanya Kenzi menoleh ke arah Ryu yang menuruni anak tangga.
"Bukan urusanmu." Ryu menjawab tanpa melihat ke arah Kenzi sedikitpun.
"Nak, adikmu ulang tahun. Apa kau tidak ingin membantuku?" Kenzi berjalan mendekati Ryu.
"Urus saja urusanmu, aku punya urusan sendiri dan tidak perlu kau ikut campur lagi." Ryu terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Kenzi hanya bisa menarik napas dalam dalam. Sudah dua hari, ia tidak pernah menyebutnya 'Ayah' lagi.
"Kau marah padaku, Nak." Kenzi bergumam dalam hati. Ia semakin di buat serba salah oleh sikap Ryu. Di sisi lain ada Jiro dan Angela yang selalu sama dalam berpendapat dan mengambil keputusan. Di sisi lain ada Ryu yang bertolak belakang dengan saudaranya yang lain. Meski satu rumah, tapi Kenzi sudah kehilangan sosok Ryu yang ceria dan suka suka hati.
"Apa yang harus aku lakukan, Siena..andai kau ada di sini. Hanya kau yang paling mengerti tentang Ryu," ucap Kenzi pelan.
"Ayah sudahlah, nanti juga Ryu akan terbiasa tanpa ada Ibu," sela Jiro menenangkan Kenzi.
Kenzi tak menjawab kata kata Jiro, ia hanya tersenyum. Lalu kembali sibuk membantu Mei Chan mempersiapkan ulang tahun.
***
Sementara di lain tempat, Ryu menandatangani semua surat surat pengesahan pembangunan pusat panti rehabilitasi untu para pecandu narkotika.
Ryu tidak hanya sebagai Dokter terkaya di kota itu, tapi ia juga bisa turun ke jalan sebagai aktifis bersama para demonstran untuk menyuarakan 'say no narkoba'
Baginya, keluarga sudah mati. Tidak ada beban lagi untuknya terus melangkah meski membahayakan nyawanya. Hatinya telah beku, perasaannya sudah mati. Seiring pengkhianatan yang di lakukan Kenzi dan saudaranya yang lain terhadap Siena.
Davira, satu satunya teman bicara Ryu. Yang mengerti banyak hal tentang Ryu, tak mampu meluluhkan hati Ryu yang telah beku. Ia tidak percaya lagi apa itu cinta, apa itu sebuah ikatan. Kecuali cinta Ibu yang benar benar tulus tak ternoda.
"Nak, malam ini Angela ulang tahun. Apa kau sudah mempersiapkan kado istinewa untuk adikmu?" tanya Samuel melirik ke arah Ryu yang duduk di belakang melamun.
"Tenang paman. Aku sudah mempersiapkan kado yang paling istimewa. Sekarang juga kita ke rumah sakit."
"Baik!" sahut Samuel. Kemudian mobil mereka melaju meninggalkan gedung menuju rumah sakit milik Ryu.
***
"Suster, apa kau sudah mempersiapkan apa yang kuminta tadi pagi?" tanya Ryu.
"Sudah Dok, semuanya sudah siap dan di kemas sesuai permintaan Dokter," imbuh suster.
"Terima kasih."
"Sama sama Dok." Suster itu menundukkan kepala sesaat, dan berlalu dari ruangan Ryu.
Sepeninggal Suster, Ryu menyandarkan tubuhnya di kursi. Menatap lurus ke depan dengan tatapan kpsong, pikirannya mengembara jauh.
Perlahan matanya terpejam, menarik napas dalam dalam. Mencari ketenangan dalam kemelut pikiran yang tak berkesudahan.
"Kenapa mereka sebegitu egoisnya, melupakan Ibu.."
Ia teringat kata kata Siena dulu.
"Cinta kasih Ibu sepanjang masa, selama nyawa masih di kandung badan. Tapi cinta seorang anak pada Ibunya hanyalah sepanjang galah. Bukan karena tidak cinta atau tidak menyayangi lagi. Seorang anak yang telah berkeluarga punya kesibukan dan urusan masinv masing sehingga harus mengesampingkan Ibu di atas segala galanya. Hanya ketika ada waktu luang, seorang anak akan menemani Ibunya, tapi seorang Ibu akan menemani anaknya sampai hembusan napas yang terakhir."