
Hampir dua jam keluarga Kenzi menunggu konfirmasi Dokter tentang kondisi Angela dan Davira. Mereka menunggu dengan gelisah di sertai isak tangis Siena dan Genzo yang saling berpelukan.
Siena berusaha keras menenangkan Genzo yang terus menangis dan ingin berada di sisi Ibunya saat seperti ini. Sementara Dokter melarang siapapun untuk masuk. Sementara Kenzi tengah berbicara dengan Aranza dan Jiro.
"Dari mana Genzo tahu, keberadaan Putri putriku?" tanya Kenzi pada Aranza.
"Aku tidak tahu, tapi ada seseorang yang tidak kukenal menghubungi, dan memintaku datang ke pelabuhan. Sama seperti Alexa, sahabat Genzo yang di minta menghubungi cucumu, Tuan Kenzi." Aranza menjelaskan semuanya kepada Kenzi.
"Aku kau sama sekali tidak mengenali suara yang menghubungimu?" tanya Kenzi semakin di buat penasaran.
"Tidak Tuan!" sahut Aranza.
"Baiklah, terima kasih kau sudah banyak membantu keluargaku." Kenzi menepuk bahu Aranza sesaat, lalu ia kembali duduk di samping Genzo. Ikut menenangkannya supaya tidak larut dalam kesedihan.
"Tenanglah sayang, Ibumu pasti baik baik saja." Ucap Kenzi mengusap punggung Genzo.
"Tidak Grandpa! ibu tidak baik baik saja. Bagaimana dengan ayah? bagaimana Grandpa!"
Kenzi terdiam sesaat, menatap wajah Siena. Menghela napas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Genzo.
"Sayang, ayahmu bukan pria lemah. Aku tahu dia akan baik baik saja. Kita akan menemukannya, pasti nak."
"Lihat temanmu, dia sendirian sayang," bujuk Siena menunjuk ke arah Alexa yang berdiri di sudut ruangan.
Genzo menganggukkan kepalanya, lalu ia bangun dan berdiri. "Grandma, aku antarkan Alexa pulang."
"Hei, biar Paman Jiro yang antarkan temanmu pulang." Siena berdiri dan mencegah Genzo untuk pergi.
"Tidak Grandma, biar kuantarkan dia pulang." Genzo menolaknya. "Paman Cristoper yang akan menemaniku."
"Baiklah sayang, tapi kau cepat kembali." Siena tersenyum samar, mencium kening Genzo sesaat. "Pergilah, antarkan temanmu pulang.'
Genzo menganggukkan kepalanya, lalu ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit bersama Alexa dan Cristopher.
***
Setelah mengantarkan Alexa pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, ponsel milik Genzo berbunyi. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya.
"Siapa, Tuan Muda?" tanya Cristoper melirik sesaat ke arah Genzo.
"Tidak tahu, Paman. Aku coba terima." Genzo terdiam sesaat, lalu ia menggeser icon berwarna hijau. Ponsel ia dekatkan di telinganya. Ia hanya diam mendengarkan dengan seksama suara si penelpon yang tidak di kenal. Tak lama ia mematikan sambungan telpon, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Aku tidak tahu, Paman. Dia meminta kita untuk pergi ke Kowloon malam ini juga, Paman!" jelas Genzo. Sesuai informasi yang di dapatkan dari penelpon misterius itu.
"Kowloon?' ucap Cristoper menyebut nama sebuah kota. Tempat di mana terdapat sarang gangster.
" Iya Paman!" sahut Genzo.
"Apa rencanamu, Tuan Muda?" tanya Cristoper lagi. Lalu ia menepikan mobilnya di tepi jalan raya. 'Apa tidak sebaiknya, Tuan Muda membicarakan semua ini dengan Tuan Kenzi?" usul Cristoper.
"Tidak Paman, kita jangan melibatkan Grandpa, aku yakin kita bisa!"
"Baiklah Tuan Muda, tapi kita harus mempersiapkan segalanya. Jangan sampai kita tertipu." Saran Cristoper.
"Baik Paman!"
Cristoper menyalakan mobilnya, lalu memutar arah menuju markas Siloa. Tempat anak buah Siena yang masih setia berada, untuk mempersiapkan senjata dan anak buahnya yang akan di ikut sertakan dalam penyerangan malam ini.
Sesampainya di markas Siloa. Cristoper menepikan mobilnya, lalu mereka berdua bergegas masuk ke dalam markas. Genzo segera menyiapkan senjata api yang akan dia gunakan nanti, selain itu ia juga menyiapkan beberapa bahan peledak. Sementara Cristoper mengatur anak buah Siena untuk mengusun strategi.
Genzo berdiri di depan anak buahnya yang berdiri berjajar rapi. Menatap tajam mereka satu persatu.
"Kalian siap!"
"Siap, Tuan Muda!" jawab mereka serempak.
"Penyerangan malam ini, tidak boleh gagal dan tidak boleh ada yang terluka. Kalian paham!"
"Siap, Tuan Muda!" jawab mereka serempak.
"Kita berangkat!" perintah Genzo.
"Siap!"
Setelah bicara seperti itu, mereka semua berangkat menuju lokasi. Sepanjang perjalanan, Genzo coba menghapal suara si penelpon. Namun tetap saja ia tidak mengenali, karena suaranya terlalu pelan.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di kota Kowloon. Cristoper memutar arah mobilnya menuju pelabuhan Victoria. Sebelum mereka sampai di pelabuhan Victoria, kembali Cristoper memutar arah menuju timur. Tiga puluh menit berlalu, mereka sampai di perbatasan gunung Tate's Cairn. Cristoper menepikan mobilnya, lalu mereka keluar dari dalam mobil. Di ikuti anak buah Genzo dari belakang, lalu mereka berkumpul di satu titik.
Di tempat tersembunyi, mereka menyiapkan rencana dengan matang. Jika terjadi kemungkinan terburuk mereka bisa menyelamatkan diri. Setelah rencana selesai di persiapkan. Mereka mulai berpencar, dan mencari tempat aman untuk mengawasi sebelum menyerang.
Anak buah Genzo berada di empat titik berbeda, posisi mengepung markas. Sementara Genzo dan Cristoper, berada di gerbang utama memperhatikan setiap pergerakan. Hingga menit berlalu, namun tidak terlihat ada satu pun pergerakan di dalam markas itu. Genzo dan Cristoper saling pandang, dalam benak mereka khawatir jika telpon dari orang tak di kenal hanyalah jebakan saja.