THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Sesampainya di sekolah, Genzo langsung menemui Kitaro dan Ariela. Ia juga mengajak Alexa yang baru saja tiba di sekolah, lalu membawa mereka ke halaman belakang sekolah.


"Alexa, kenapa dengan pipimu?" tanya Genzo menatap pipi Alexa yang kulitnya berubah warna merah bekas telapak tangan.


"Ah ini, tidak apa apa Genzo. Mungkin, aku sedikit demam," jawab Alexa sedikit berbohong.


"Alexa, sebaiknya kau istirahat." Sela Ariela meletakkan telapak tangannya di kening Alexa. Namun gadis itu menolak dan menepis pelan tangan Ariela.


"Tidak apa apa, aku baik baik saja. Oya Genzo, ada apa kau membawa kami ke sini?" tanya Alexa mengalihkan pembicaraan.


"Iya, aku lupa!" sahut Genzo. Lalu ia mengajak teman temannya duduk di atas rumput. "Aku membutuhkan bantuan kalian." Ucap Genzo seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Bantuan apa?" tanya Kitaro memperhatikan ponsel dalam genggaman tangan Genzo.


Genzo memperlihatkan ponsel itu kepada sahabatnya lalu menceritakan semuanya pada mereka. "Aku sudah berkali kali menggunakan kata sandi berbeda tapi tidak ada yang benar."


Kitaro terdiam memperhatikan ponsel di tangan Genzo. Sementara Ariela sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Alexa sendiri mulai bingung, antara membantu Genzo dan siap mendapatkan hukuman dari Ayahnya atau memilih diam dan membiarkan Genzo dan keluarganya kebingungan mencari keberadaan Ryu.


"Apa kau sudah mencoba tanggal lahirmu? ayahmu atau sesuatu yang istimewa?" tanya Kitaro pada Genzo.


Genzo terhenyak, ia sama sekali tidak terpikirkan sejauh itu. Lalu ia mencoba semua tanggal kelahiran keluarganya yang ia tahu saja. Namun tak satupun yang cocok, akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan tanggal kelahirannya. Dan hasilnya? di luar dugaan Genzo. Di dalam ponsel itu terdapat data data dan kode rahasia. Mata Genzo terbelalak membaca kode kode itu dalam hati, otaknya bekerja keras mencernanya.


"Aku yakin, ini semua ada hubungannya dengan ayah!" seru Genzo, kemudian ia mempertanyakan sebuah alamat yang tertera di layar ponsel itu. Namun Kitaro maupun Ariela tidak ada yang tahu.


"Aku tahu!" sahut Alexa.


Genzo dan kedua sahabatnya menatap kearah Alexa. "Benarkah kau tahu? tanya Genzo.


Alexa terdiam sesaat mencoba meyakinkan pilihannya untuk membantu Genzo meski harus menerima hukuman dari ayahnya.


" Ya, aku tahu. Dan kemungkinan, ayahmu berada di sana!"


"Kalau begitu, aku harus kesana!" Genzo berdiri di ikuti ketiga sahabatnya.


"Tidak, kau tidak semudah itu datang kesana. Kita harus menyusun rencana," sela Alexa.


"Kau benar!" sahut Kitaro membenarkan.


"Dan kita butuh senjata," timpal Ariela. "Aku bisa dapatkan senjatanya, sekarang kita susun rencana."


"Ayo kita mulai susun rencana!" usul Kitaro antusias.


***


Empat remaja mengendap menyusuri lorong. Sesampainya di pintu rahasia, Alexa meminta semuanya untuk diam dan tidak melakukan pergerakan dan bersembunyi di balik pilar yang berdiri kokoh. Nampak tiga orang pria keluar dari pintu rahasia itu, setelah ketiga pria itu pergi, keempat remaja itu masuk ke dalam ruangan.


Mereka berempat berdiri terpaku menatap seorang pria paruh baya dalam keadaan terikat di sudut ruangan. Wajahnya lebam, terlihat bekas noda darah di sudut bibir dan pakaian yang pria itu kenakan.


"Apa kau mengenalinya?" tanya Alexa pada Genzo.


Genzo berjalan perlahan mendekati pria itu dan jongkok dihadapannya. Tangannya terulur mengusap noda darah di sudut bibirnya. Perlahan pria itu membuka mata, menatap tajam wajah Genzo.


"Putraku, benarkah kau itu?" ucapnya lirih.


"A, A, Ayyaaah.." ucapnya terbata bata, lalu memeluk erat tubuh pria tersebut yang tak lain Ryu sendiri. "Ayaah!" pekiknya pelan.


"Putraku, Genzo.." balas Ryu membiarkan putranya memeluk erat dan menumpahkan rasa rindunya.


"Genzo, sebaiknya kita secepatnya pergi dari sini," ucap Ariela menyentuh pundak Genzo.


"Kau benar!" sahut Genzo lalu melepaskan pelukannya dan membuka ikatan yang melilit tubuh Ryu. Setelah selesai, mereka bergegas keluar dari dalam ruangan.


Mereka terus berlari menyusuri lorong rahasia. Meski langkah Ryu tertatih, ia terus berusaha untuk menguatkan meski harus di papah oleh Genzo.


"Genzo cepat!" seru Alexa.


Namun baru saja mereka sampai di ujung lorong, dua pria menghadang dan mengarahkan senjata apinya ke arah mereka.


"Merunduk!" seru Ariela memberikan kode, sementara Kitaro mengeluarkan senjata api dari balik pakaiannya.


"DOR DOR!!


Dua pria itu terjungkal dan ambruk bersimbah darah sebelum berhasil membunuh mereka. Namun sialnya, kali ini mereka di ketahui penjaga lainnya.


" Genzo, bawa ayahmu pergi dari sini. Biarkan aku yang menghadang mereka!" seru Alexa.


"Tidak, kami tidak akan meninggalkanmu." Kitaro menarik tangan Alexa. Namun hadis itu menepis tangan Kitaro lalu berjalan mendekati Genzo.


"Pergilah, aku baik baik saja. Bawa pergi Ayahmu dari sini." Alexa tersenyum, lalu mengecup pipi Genzo sekilas. Setelah itu ia berlari menuju musuh yang menghadang mereka.


Sesaat Genzo terdiam, ia benar benar di lema. Antara ayah dan membiarkan sahabatnya bertarung sendirian.


"Ariela, Kitaro! seru Genzo. " Kalian bawa ayahku pergi dari sini, aku akan menyusul kalian!"


"Tapi-?"


"Cepat! kita tidak punya waktu!


Genzo memberikan tubuh Ryu pada dua sahabatnya. Setelah memastikan mereka keluar dari lorong. Genzo berlari menyusul Alexa dan membantunya.


" DOR DOR DOR!!


Genzo berlari seraya melesatkan peluru kearah musuh. Satu persatu musuh ambruk bersimbah darah di lantai. Lalu ia menarik tangan Alexa dan membawanya lari menjauh dari lorong itu.


"DOR DOR DOR!!"


"Cepat Alexa!" seru Genzo, mereka merunduk menghindari peluru. Sesampainya di luar lorong, musuh semakin banyak. Di saat bersamaan, Kitaro kembali dengan mengendarai sebuah mobil.


"Genzo cepat!" pekik Ariela membuka pintu mobil.


Genzo menarik tangan Alexa hendak membawanya masuk ke dalam mobil, namun gadis itu menepis tangan Genzo. Menendang pumggungnya hingga tersungkur masuk ke dalam, dan menendang pintu mobil.


"Cepat pergi!" perintah Alexa pada Kitaro.


"Alexaaaa!! jerit Genzo dari dalam mobil saat mengetahui, gadis itu tidak ikut bersamanya.


" Alexaaaa!!


Berkali kali Genzo berteriak memanggil Alexa saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


"Hentikan mobilnya Kitaro!!" perintah Genzo.


"Apa kau sudah gila? aku tidak mau!!" sungut Kitaro terus melajukan mobilnya dan mengabaikan perintah Genzo.


"Alexa.." ucap Genzo lirih. "Siapa kau sebenarnya, mengapa kau mengorbankan nyawamu demi aku dan ayah."


Genzo duduk terdiam, lalu memeluk Ryu yang kelehan dan tidak berdaya akibat siksaan yang didapatkannya selama ini.


"Bertahanlah Ayah, sebentar lagi kita sampai di rumah."


"Tenanglah Genzo, aku yakin Alexa baik baik saja," sela Ariela, melirik ke belakang.


"Alexa, terima kasih." Genzo mengusap pipinya, ciuman gadis itu masih membekas di hatinya.