THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
End



Sesampainya di sebuah rumah kecil jauh dari kota, Livian menepikan mobilnya. Ia menoleh ke arah Siena dan tertawa kecil.


"Kau pintar mencari tempat yang romantis, baby!"


"Tentu." Siena menjawab sinis.


Kemudian mereka keluar dari pintu mobil bersamaan, Livian menggandenga bahu Siena lalu mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Siena.


"Sabar sayang." Tangan Siena menepis wajah Livian. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah, sementara di luar rumah dua anak buah Siena sudah berjaga dengan membawa sebotol besar bensin.


"Ayo sayang, aku sudah tidak sabar lagi." Livian menarik tangan Siena supaya duduk di pangkuannya.


"Bersabarlah." Bisik Siena di telinga Livian. Lalu ia berdiri dan mendorong tubuh Livian supaya berbaring di atas tempat tidur. Jari jemari Siena dengan manja membuka kancing kemeja yang Livian kenakan.


Tangan Livian merengkuh pinggang Siena dan mendekapnya erat. "Aku sudah tidak sabar lagi.'


Siena tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya. " Tenanglah, aku akan membuatmu tak mampu lagi membuka mata sayang."


"Oya?"


Siena menganggukkan kepalanya, menyentuh dada Livian. Mengusapnya dengan lembut, menyusuri hingga ke perut. Perlahan jari jemarinya membuka celana Livian. Gerakannya terhenti menatap benci wajah Livian meski bibirnya tersenyum manja.


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu." Siena berdiri tegap.


"Ahh, jangan lama lama." Livian melenguh kecewa.


"Hanya lima menit." Siena tersenyum lalu balik badan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Sementara dua anak buah Siena langsung masuk ke kamar tempat Livian tengah berkhayal menikmati tubuh Siena.


"Siapa kalian!" seru Livian terkejut, ia langsung bangun hendak berdiri.


Namun salah satu anak buah Siena langsung memukul wajah Livian hingga tersungkur di atas tempat tidur, mereka berdua langsung mengikat tubuh Livian dengan tali yang cukup kuat sehingga pria itu tidak mampu melepaskan diri.


"Kalian siapa? apa maumu?!" tanyanya mulai panik. Menoleh ke arah Siena yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan senjata api mengarah ke wajahnya.


"Halo Livian, apa kau masih mengenalku? tanya Siena tertawa menyeringai.


"Siapa kau sebenarnya?" Livian menauykan kedua alis menatap wajah Siena, mencoba untuk mengingat namun ia sama sekali tidak mengenalinya.


"Aku Siena, tentu kau ingat bukan?"


"Siena? benarkah kau itu?" Livian masih ragu.


Siena menganggukkan kepalanya. "Itu tidak penting kau percaya atau tidak, kedatanganku untuk mengantarkanmu ke neraka!


" Dor!"


Siena melesatkan peluru ke bawah kaki Livian membuat pria iti berusah beringsut menjauh. Melihat raut wajah Livian yang mulai ketakutan membuat Siena semakin menyukainya.


"Dor!


Kembali wanita itu menakut nakuti Livian yang semakin panik, begitu bodohnya dia terpedaya oleh kecantikan yang di miliki Siena.


"Sekarang, aku ingin melihat kau menderita sebelum kau mati!"


Siena memerintahkan anak buahnya untuk menyiramkan bensin di tubuh Livian. Pria yang memegang botol bensin langsung naik ke atas tempat tidur, berdiri tegap di hadapan Livian lalu membuka tutup botol dan menyiram tubuh Livian dengan bensin.


"Tidak, Siena tolong lepaskan aku!" pekik Livian menatap wajah Siena penuh harap.


Wanita bukannya merasa iba, tapi ia tertawa terkekeh melihat Livian semakin ketakutan saat salah satu anak buahnya menyalakan pematik.


"Tidak, aku mohon jangan lakukan itu padaku. Siena tolong! aku akan melakukan apa saja asal kau bebaskan aku." Livian terus merengek untuk nyawanya, pria kejam dan tidak tahu malu saat berkuasa, berubah seperti anak kecil yang merengek minta sesuatu pada Ibunya.


"Lepaskan aku Siena, lepaskan aku!"


Livian berusaha untuk melepaskan ikatan di tubuhnya, namun usahanya sia sia.


"Bakar dia!" perintah Siena.


Pria yang memegang pematik maju mendekati tempat tidur, lalu menyalakan pematiknya membakar ujung sprei.


"Blar!


Api mulai menyala membakar ujung Sprei, pelan tapi pasti. Api semakin menjalar.


" Tidaaaaakkkk!" jerit memilukan dari mulut Livian saat api menyambar bensin dan membakar tubuhnya.


Siena tertawa terbahak bahak lalu mundur perlahan menjauh dari tempat tidur bersama anak buahnya. Ia terus tertawa melihat tubuh Livian menggeliat kesakitan, erangan kesakitan dari mulut Livian seakan membasuh luka di hatinya.


Asap tebal semakin memenuhi ruangan, api mulai merembet kemana mana, Siena dan dua anak buahnya berlari keluar menjauh dan berdiri di halaman rumah kecil yang mulai mengeluarkan asap tebal ke udara, api melahap apa saja yang ada di rumah itu.


Siena menatap tajam rumah yang mulai terbakar. Kebenciannya, amarahnya dan luka di hatinya melebihi api yang tengah berkobar.


Kematian seperti sebuah lelucon, jiwa mati bersetubuh dengan amarah, jiwa telah mati, bisu dan kaku. Lidah tak seindah wajah, mata terpejam dari seorang wanita jiwanya kelam oleh dendam bagai selaksa bulan kehilangan warna.


"Musnahkan, jangan tinggalkan jejak!" perintah Siena pada anak buahnya.


Lalu pria itu mengeluarkan satu bahan peledak dari dalam tas kecil, lalu ia membuka kunci peledak dan melemparkannya ke arah rumah yang terbakar.


"DUARRR!!!


Rumah itu meledak bersamaan dengan Siena dan dua anak buahnya berjalan dengan santai meninggalkan Livian yang hangus terbakar lalu hancur berkeping keping tanpa sisa.


"Tunggu giliran kalian berikutnya." Siena bergumam pelan sembari tersenyum menyeringai tanpa menoleh lagi ke belakang.