THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Pekerjaan Ryu selain menjadi seorang ilmuwan, dia juga memiliki panti rehabilitasi untuk para pecandu narkoba. Ia juga sering ikut turun ke jalan dan bergabung dengan para aktifis lainnya. Dalam dunia modern saat ini, berada dalam posisi anti empati. Semua sudah tergantikan oleh benda benda. Dalam keadaan anti empati semua orang dengan mudah menghujat siapapun tanpa rasa bersalah, penghujatan dan pengabaian dan ketidak pedulian yang ekstrim dalam lingkup sosial.


Apa yang di kerjakan Ryu sering membuat Davira khawatir, karena sering menimbulkan pro dan kontra, baik dari pihak sipil maupun pemerintah. Bahkan sering mendapat teror dari orang yang tidak di kenal. Namun Ryu tidak berhenti untuk menyuarakan sesuatu yang di anggapnya benar. Meski Ryu sendiri tahu akan konsekwensi yang akan di terimanya. Ia percaya, keburukan tidak akan bertahan lama di dunia ini begitu pula dengan kebaikan.


Selama empati selalu bersifat terbatas, maka segala wacana tentang apa itu hitam dan putih sebuah kebenaran, keadilan sosial dan dua nilai yaitu manusia dan kehidupan, beserta nilai nilai lainnya tak lebih omong kosong, semua orang begitu mudah sedih dan tersentuh saat mahluk lain tertimpa musibah atau bencana. Tapi jika berurusan dengan tindakan menolong, segala empati menjadi macet hanya cukup dengan doa dan Share musibah itu sendiri.


"Dokter, ada yang ingin bertemu anda," salah satu suster menghadap Ryu dan mengantarkan seorang pria yang menggunakan setelan jas berdiri di belakang suster itu.


"Baik, silahkan kau pergi." Perintah Ryu pada suster itu. "Silahkan duduk Tuan!"


Pria itu membungkukkan badan sesaat lalu ia duduk di kursi berhadapan dengan Ryu.


"Anda siapa?" tanya Ryu menatap orang asing di hadapannya.


"Yung Chen, dari perusahaan Group Silver telkomunikasi." Pria yang bernama Yung Chen menjawab.


"Ada keperluan apa, Anda menemuiku?" tanya Ryu penuh selidik.


"Saya menawarkan kerjasama dengan Anda, Dokter!" jawab Pria itu lagi.


"Maaf Tuan, aku tidak bisa. Sepertinya Anda salah alamat Tuan."


"Tapi Dokter belum mendengarkan apa yang akan saya tawarkan?" ucap pria itu mulai terlihat gusar.


"Maaf, sekali lagi maaf. Aku tidak bisa." Tegas Ryu.


"Ayah, Ibu, aku mohon doa restumu. Semoga keluarga kecilku baik baik saja," gumam Ryu dalam hati, menyematkan doa terbaik untuk Genzo dan istrinya.


Ryu menghela napas panjang, sesaat ia terdiam. Lalu ia mulai membereskan pekerjaannya dan bergegas pulang.


***


Tepat pukul 19,00


Ryu sudah sampai di rumahnya, namun ia tidak mendapati anak istrinya yang biasa menunggu kepulangannya. Ryu bergegas ke kamar pribadinya dan membuka pintu kamar. Ia menarik napas lega, melihat Davira dan Genzo tengah tertidur pulas saling berpelukan. Ia tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar. Meletakkan kopernya di atas meja dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tiga puluh menit berlalu, Ryu telah selesai dengan dirinya. Setelah bersih, ia baru menghampiri anak dan istrinya. Ia membungkukkan badan, mencium pipi Genzo sekilas, lalu mencium kening istrinya.


Perlahan Davira membuka mata, dan menoleh ke arah Ryu. "Kau sudah pulang? maaf aku ketiduran." Ia bangun dan turun dari atas tempat tidur.


"Tidak apa apa, kalau kau mengantuk, tidurlah," jawab Ryu menarik pinggang Davira dan mendekapnya erat.


"Tidak sayang, biar kusiapkan kau makan malam."


"Tidak perlu, aku sudah makan. Aku hanya ingin berdua saja malam ini bersamamu." Ryu tersenyum lalu mencium bibir Davira sekilas.


"Baiklah sayang, ayo."


Davira menarik tangan Ryu, lalu mereka berjalan bersama meninggalkan Genzo kecil di kamar sendirian.