THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Sepanjang perjalanan, Jiro dan Zoya saling berpegangan tangan erat. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang selama 17 tahun redup. Dalam pikiran mereka terbayang wajah Ryu dan Davira menyambut mereka, dalam benak mereka juga menyimpan banyak pertanyaan. Apakah selama ini Ryu tidak berusaha mencari mereka?


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Ryu. Jiro membuka kaca jendela mobil, menatap ke arah rumah Ryu. Tidak ada perubahan, semua masih sama seperti tujub belas tahun lalu.


"Tuan, Nyonya, silahkan!" sapa sopir pribadi yang sudah membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.


"Ayo!" Jiro menarik tangan Zoya keluar dari dalam mobil. Mereka berdua berdiri tegap menatap ke arah rumah Ryu, senyum mengembang terukir di bibir pasangan suami istri itu.


"Silahkan Tuan!"


Jiro kembali melangkahkan kakinya bersama Zoya dengan tergesa gesa. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adiknya. Langkah mereka terhenti di depan pintu rumah yang tertutup rapat. Perlahan Jiro membuka pintu rumah lebar lebar. Suasana di dalam rumah itu hening, Jiro dan Zoya tidak menemukan siapapun di dalam rumah itu.


"Siapa itu!"


Mereka berdua tengadahkan wajahnya, menatap sosok yang tidak mereka sangka akan bertemu lagi.


"Jiro?" ucap Siena bergegas menuruni anak tangga.


'I, Ibbuu!!! pekik Jiro menubruk tubuh Siena dengan erat.


"Jiro, putra Ibu..kau kemana saja sayang," ucap Siena terisak.


"Ceritanya panjang Bu, tapi aku sekarang bahagia bisa bertemu Ibu lagi."


"Jiro? Zoya?"


Jiro melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Kenzi lalu memeluknya dengan erat.


"Ayah!"


"Anakku.." ucap Kenzi lirih.


Giliran Siena memeluk Zoya. Melepaskan semua kerinduan dan kebahagiaan yang tidak dapat di jelaskan dengan kata kata.


"Ayah, putriku hilang."


"Tidak Nak, putrimu ada bersamaku. Tapi kondisinya mengkhawatirkan." Jawab Kenzi.


"Aira? putriku? benarkah ayah?' tanya Zoya, suaranya tercekat di tenggorokan. " Di mana putriku, Ayah!" pekik Zoya, air matanya mengalir deras.


"Kemarilah Nak!"


Mereka melangkah bersama menaiki anak tangga menuju kamar Aira. Sesampainya di dalam kamar Aira, tangisanpun pecah. Bagaimana tidak? Jiro dan Zoya kehilangan putrinya sejak usia 8 tahun. Sekarang putrinya sudah menginjak 25 tahun.


Kenzi dan Siena saling berpelukan, menangis dalam diam. Melihat pertemuan anak dan kedua orang tuanya yang terpisah sejak lama. Jangankan berharap bertemu, berpikir putrinya masih hiduppun tak terlintas di benak mereka.


Setelah mereka saling melepas rindu dan bercerita apa yang terjadi dengan mereka semua, kini Kenzi semakin mengerti siapa dalang di balik penculikan anak anaknya.


"Kita sudah di tikam dari belakang, musuh dalam selimut," ucap Kenzi geram.


"Pantas saja, mereka tahu kapan kita lengah. Dan aktifitas kita sudah di ketahui dia." Timpal Jiro.


"Bagaimana dengan nasib Angela, Ya Tuhan.." sela Siena mengusap wajahnya pelan. "Ryu, putraku, Davira."


"Tenanglah sayang," tangan Kenzi terulur mengusap punggung Siena. "Kita pasti menemukan mereka semua, pasti. Tapi kita tidak bisa gegabah seperti dulu."


"Kau benar sayang."


"Tuan, yang terpenting kita harus menemukan kode dan data data yang di sembunyikan Tuan Ryu, itu satu satunya petunjuk yang kita miliki sekarang." Samuel kembali mengingatkan.


"Kau benar, Sam. Tapi di mana Ryu menyembunyikannya?" pikir Kenzi.


"Ayah, Ibu, aku lupa. Bagaimana dengan putra Ryu?" tanya Zoya.


"Genzo, dia sudah besar nak." Jawab Siena tersenyum, lalu bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki mendekati meja, mengambil foto Genzo. Lalu ia perlihatkan pada Jiro dan Zoya.


"Kau benar!" sahut Zoya tersenyum mengembang menoleh ke arah Siena.


"Benarkah?"


"Benar Ibu!" jawab Zoya, kemudian ia menceritakan semuanya pada Siena dan Kenzi.


"Dia anak yang cerdas, aku tidak terlalu mengkhawatirkannya. Selain itu, Genzo memiliki kepedulian terhadap orang lain. Seperti Ryu, dia anak yang bisa di andalkan." Senyum mengembang dari bibir Siena. Matanya berbinar menatap bangga foto Genzo.


****


Sementara di sekolah. Genzo yang mendapatkan hukuman atas keterlambatannya masuk sekolah karena mengantarkan Jiro dan Zoya ke rumah sakit.


Genzo berdiri di halaman sekolah dengan satu kaki di angkat, kedua tangan menegang telinganya sendiri. Hingga tak terasa suara bel berbunyi, tanda jam istirahat. Genzo menurunkan kaki dan tangannya, bernapas dengan lega sudah melewati hukumannya.


Genzo menoleh ke arah Kitaro yang berlari ke arahnya. "Ke kantin yuk!"


Di saat bersamaan, Alexa dan Ariela datang membawakan makanan dan air mineral.


"Genzo, ini air minum buatmu." Alexa menyodorkan botol air mineral pada Genzo.


Genzo melirik ke arah Ariela yang tengah memegang kotak makanan, berdiri di belakang Alexa.


"Kalau aku ambil salah satu, pasti terjadi kesalahpahaman lagi," ucap Genzo dalam hati.


"Ayo berikan makanan dan minumannya padaku, aku lapar juga haus!" Genzo mengambil botol air mineral di tangan Alexa, lalu tangan kanannya mengambil kotak makanan di tangan Ariela.


"Terima kasih, ayo Kitaro. Kita makan!"


Genzo ngeloyor begitu saja meninggalkan kedua gadis itu yang masih terpaku di tempatnya. Sementara Kitaro mengikuti langkah Genzo.


"Alex!"


Alexa menoleh ke arah Ariela. "Ya!"


"Enak saja Genzo ambil makanan dan minuman kita. Terus pergi begitu saja tanpa permisi. Ayo kita rebut lagi! Ariela menarik tangan Alexa dan berlari menyusul Genzo.


" Berikan makananku!" pinta Ariela.


Genzo terdiam menatap kedua gadis di hadapannya.


"Bukankah makanan dan minuman ini untukku?" tanya Genzo.


"Enak saja!" sahut Alexa merebut kembali botol air mineral di tangan kiri Genzo. Begitu juga yang di lakukan Ariela, ia mengambil kotak makanan di tangan kanan Genzo.


"Ayo kita makan!" ajak Ariela pada Alexa, lalu mereka berjalan menuju taman sekolah.


"Hahahaha! memang enak, sekarang kau bukan lagi di rebutin mereka!" goda Kitaro lalu berlari menyusul kedua gadis itu ke taman.


"Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu repot repot jagain Alexa lagi. Sekarang mereka sudah berteman." Gumam Genzo tertawa kecil, lalu ia memutuskan untuk menyusul teman temannya.


"Hei, aku juga lapar. Boleh aku ikut?" Genzo langsung duduk di samping Kitaro.


"Harusnya kau yang traktir kami!" ucap Ariela sembari mengunyah makanannya.


"Iya, besok besok. Aku yang traktir kalian," ucap Genzo.


"Nah gitu dong!" sela Alexa.


"Hahahahaha!' mereka tertawa bersama melihat Genzo yang hanya kebagian sepotong roti saja. Namun Genzo tidak masalah, ia senang melihat Ariela bersikap baik terhadap Alexa.


Saat mereka tengah asik berbincang, tertawa bersama. Duduk di atas rumput yang hijau, tanpa mereka sadari. Beberapa pasang mata tengah memperhatikan Genzo.


"Anak laki laki yang berambut gondrong, dia target kita. Dia satu satunya yang bisa kita jadikan alat untuk memaksa Ayahnya bekerjanya dengan baik."