THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



"Zidan, aku kehabisan peluru," ucap Jiro.


"Sama kak!" sahut Zidan, membungkuk mengambil pedang yang berserakan di tanah. Pedang milik musuh yang tumbang. Lalu Jiro ikut memungut pedang dan berlari ke arah musuh bersamaan dengan Zidan. Membantu Samuel yang terdesak melawan musuh menggunakan pedang.


"Trank!


" Trank!


'Srettt!!!


"Ahhkkk!!


Suara pedang saling beradu, bersama erangan musuh yang terkena sabetan pedang Jiro dan Zidan.


Sementara Kenzi tengah bertarung habis habisan melawan musuh juga Avram. Tak jauh dari tempat Samuel dan yang lain. Akhirnya kedua duanya kehabisan peluru setelah dari pihak Kenzi ataupun pihak Avram banyak yang tewas.


Dua duanya saling menatap tajam, dengan sebilah pedang berlumuran darah hingga menetes ke tanah. Avram tertawa menyeringai menatap benci ke arah Kenzi.


" Hahahahaha! ternyata kau tidak bisa di remehkan Kenzi, tapi sayang. Sehebat apapun kau sekarang. Tidak mungkin bisa membuat Siena kembali, cuihhh!" Avram meludah darah ke tanah.


"Terserah kau mau bicara apa, bagaimana istriku. Hanya aku yang tahu, kau tidak tahu apa apa!" seru Kenzi berlari ke arah Avram menyabetkan pedangnya.


"Trankkkk!!"


Mereka saling tatap tajam, keduanya menahan pedang masing masing. Avram tertawa lebar menatap Kenzi.


"Mungkin kau yang tahu, tapi apa kau lupa pengkhianatan yang sudah kau lakukan?"


"Brengsek! tutup mulutmu!"


Pedang ia putar ke bawah, kaki kanan menendang perut Avram, hingga terhuyung ke belakang.


Avram menatap geram Kenzi lalu berlari ke arahnya menyabetkan pedang.


"Trankk!


Kenzi mampu mengimbangi, namun detik berikutnya Avram berhasil melukai dada Kenzi.


" Sreettt


Pakaian Kenzi sobek bersamaan darah segar mengalir.


"Sial!"


Kenzi berlari ke arah Avram lagi, namun pria itu berguling mengambil senjata api yang tergeletak di tanah.


"Dor!!


" Ahhkk!


Kenzi memegang bahunya yang terkena tembakan, pedang di tangannya terlempar jauh ke tanah.


"Hahahahaa!"


Avram tertawa lebar, mengarahkan senjata api ke wajah Kenzi.


"Ayah!" pekik Jiro dan Zidan berlari ke arah mereka berdua, di ikuti Samuel.


"Diam! atau Ayahmu mati!" ancam Avram.


"Klikk!"


Suara pelatuk di tarik. Semuanya menahan napas, mengingat Avram yang kejam.


"Matilah kau Kenzi!! pekik Avram.


"Dor Dor!!


" Bukkk!


Tubuh Avram tiba tiba saja ambruk ke tanah. Kenzi dan yang lain menatap ke arah Siena yang berdiri tak jauh dari mereka. Rupanya yang menembak Avram dari belakang adalah Siena.


"Siena?" ucap Kenzi pelan menatap rindu ke arah Siena.


"DOR DOR DOR!!!!


Tubuh Avram kembali ambruk, Siena tersenyum menyeringai menatap tubuh Avram.


" Dor Dor Dor!!!


Siena masih belum puas, ia menghabiskan pelurunya menghujani tubuh Avram hingga tewas seketika.


"Ibu..." ucap Jiro memperhatikan betapa sadisnya Ibunya sekarang.


"Apakah itu Ibu mertua?" tanya Zidan menatao ke arah Siena


"Ya kau benar." Sahut Jiro.


"Siena..pulanglah.." Kenzi maju mendekati Siena dan menggengam tangannya erat. "Maafkan aku, beri aku kesempatan."


"Ibu, aku menantumu!" seru Zidan menyela. Membuat Jiro menepuk keningnya sendiri.


Siena menoleh ke arah Zidan menatapnya dan tersenyum.


"Halo sayang."


"Ibu, pulanglah. Tengok cucu Ibu!" potong Zidan lagi, membuat Jiro mengusap wajahnya kasar, karena tidak memberikan kesempatan Kenzi bicara.


"Sssst diamlah," ucap Jiro pelan.


Zidan menoleh menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Siena, pulanglah.." Kenzi kembali membujuk Siena. Namun wanita itu hanya diam menatap Kenzi tajam. Namun ia membiarkan Kenzi menggenggam erat tangannya. Rasa hangat dan cinta dari Kenzi, kembali ia rasakan. Namun semua sudah terlambat, Siena sudah melakukan perjanjian kontrak dengan Dareen demi melindungi putra putrinya.


"Katakan sesuatu sayang, beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Kenzi berjalan lebih dekat dan memeluknya erat. "Maafkan aku yang telah menyakitimu, maafkan aku sayang..maafkan aku.."


Siena hanya diam, mendengarkan semua kata kata penyesalan dari mulut Kenzi. Ia diam bukan membencinya, rasa bencinya telah hilang. Namun Siena ingin merasakan lagi hangatnya pelukan Kenzi yang telah lama hilang.


"Ayah awas!" pekik Jiro memperingatkan saat mereka di kepung pasukan Dareen yang baru saja tiba.


Kenzi melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Siena dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.


"Klikkk!! suara pelatuk di tarik dari senjata api milik Dareen yang mengarah ke kepala Kenzi.


"Berikan Siena padaku!" perintah Avram pada Kenzi.


"Tidak! dia istriku!" Kenzi merangkul bahu Siena dan memeluknya erat.


"Dia milikku sekarang, tuan Kenzi!" ucap Dareen nyolot.


Jiro dan yang lain hanya bisa menggeram marah, mereka tak dapat berbuat apa apa karena di bawah ancaman anak buah Kenzi dengan senjata api laras panjang.


"Berikan dia padaku!" seru Avram menarik tangan Siena lalu menyembunyikannya di belakang tubuh Dareen.


"Apa maksudmu?!" Kenzi melangkah untuk merebut kembali Siena.


"Cukup! diam di tempatmu, atau mereka mati!" Avram melirik ke arah Jiro dan yang lain.


'Kau tahu?" Dareen tersenyum mencemooh. "Siena telah menyerahkan hidupnya padaku, dengan jaminan keselamatan putra putrinya. Jadi, kau tidak usah macam macam Kenzi! nikmati saja kedamaian yang selama ini kau rasakan bersama keluarga kecilmu. Aku bisa menjamin kau akan hidup tenang dan bisa menikahi wanita manapun seperti yang kau inginkan. Dan Siena menjadi milikku! kau paham?!"


"Tidak! dia istriku!" Kenzi menarik tangan Siena. Namun Dareen menendang perut Kenzi hingga terhuyung ke belakang menjauh dari Siena.


"Ayo kita pergi!" Dareen menarik tangan Siena dan membawanya pergi. Siena menoleh ke belakang menatap Kenzi yang berusaha menyusulnya.


"Pulanglah! gunakan cara lain!" seru Siena pada Kenzi, lalu tersenyum dan membetikan ciuman jarak jauh. Membuat Dareen marah dan memaksa Siena masuk ke dalam mobil.


Kenzi terpaku menatap mobil Dareen meninggalkan markas Crips, namun detik berikutnya ia tersenyum penuh arti.


"Sayang, kau sudah memaafkanku. Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. Akan kurebut kau kembali bagaimanapun caranya," gumam Kenzi.


Jiro langsung merangkul Kenzi. "Ayah, ibu sudah memaafkanmu."


"Kau benar nak, kita pulang sekarang."