THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Dua minggu di rawat di rumah sakit, kondisi Siena sudah membaik. Ia sudah bisa bangun dan duduk di atas ranjang rumah sakit. Tersenyum bahagia menatap satu persatu putra dan putrinya, termasuk dua menantu dan satu cucu pertama Siena.


"Sayang, mereka datang untuk menjemputmu pulang ke rumah hari ini." Kenzi duduk di tepi tempat tidur merangkul bahu Siena.


"Iya Bu, kita berkumpul lagi bersama." Jiro mengangkat tubuh putri kecilnya di pangkuan Zoya lalu di berikan pada Siena.


"Hai sayang, apa kabar.." Siena tersenyum menatap wajah cucunya, lalu menggendongnya.


"Ibu mertua, kau juga segera dapat cucu kedua!" sela Zidan tertawa kecil.


Siena menoleh ke arah Zidan dan Angela. "Oya? syukurlah kalian segera dapat momongan."


"Tinggal kak Ryu, suruh dia cepat cepat menikah Bu." Timpal Angela menatap ke arah Ryu yang duduk di tepi tempat tidur samping Siena.


Semua orang menatap ke arah Ryu yang menyandarkan kepalanya di bahu Siena.


"Iya Bu, nanti aku menyusul mereka."


"Apakah kau sudah punya calon?" tanya Siena.


"Sudah Bu, aku panggil ya!" seru Angela lalu berlari keluar ruangan. Tak lama ia kembali bersama Davira.


"Ini dia Bu, namanya Davira!" Angela memperkenalkan gadis itu pada Siena.


"Kau.." ucap Siena pelan menatap tajam ke arah Davira. "Bukankah kau pembunuh bayaran yang di sewa Avram untuk membunuh putraku, Ryu?"


"Ibu.." ucap Ryu menarik kepalanya menatap Siena. Angela dan yang lain menoleh ke arah Davira yang menundukkan kepala. Mereka baru tahu kalau Davira pembunuh bayaran.


"Tenang sayang, Ibu merestui kalian. Lagipula Davira sudah menyelamatkan Ibu. Itu pertanda dia mencintai kamu dan mau brrubah." Siena tersenyum pada Ryu dan Davira.


"Terima kasih Nyonya, anda sudah memberikan kepercayaan padaku." Davira membungkuk hormat sesaat.


"Iya sayang, tidak masalah. Kalau begitu, sepulang dari sini. Ibu yang akan menentukan hari pernikahan kalian."


"Horeee! seru Angela senang.


Ryu hanya diam dan tersenyum menanggapi kata kata mereka. Tidak ada yang membuatnya bahagia selain melihat keluarganya bersatu lagi seperti mimpinya dulu. Masa sulit dan hari hari kelam telah terobati dengan bersatunya kedua orangtuanya.


Kenzi hanya diam memperhatikan keluarga kecil yang selalu ia jaga dan sayangi. Kini sudah berkumpul bersama seperti dulu, seperti yang ia inginkan. Di tengah perbincangan, Yu, Samuel, Rei dan Keenan masuk ke dalam ruangan.


"Kakak Yu."


"Terima kasih kakak Yu, Sam, Rei dan kau Keenan. Kalian selalu ada buat keluarga kecilku." Mata Siena berkaca kaca menatap mereka semua yang sudah tidak muda lagi.


"Kita keluarga Siena, melihat kalian baik baik saja aku sudah sangat senang." Keenan menimpali.


Siena menarik napas panjang, memastikan tidak ada beban lagi di hatinya.


"Ayo kita siap siap!" Kenzi berdiri lalu membereskan barang barang ke dalam tas kecil, di bantu Samuel.


Setelah selesai semuanya. Mereka bergegas pergi meninggalkan rumah sakit. Namun baru saja mereka sampai di area parkiran rumah sakit. Nampak dua pentolan K14 Triad berdiri di hadapan mereka, di belakang dua pentolan itu berjajar anak buah mereka dengan rapi. Kenzi dan yang lain terdiam sesaat. Mereka menatap ke arah dua pria itu dengan tatapan waspada. Hati mereka kembali berdebar debar, khawatir terjadi lagi hal hal yang tidak di inginkan.


Kenzi, Yu dan Samuel maju beberapa langkah berhadapan dengan dua pria pentolan Triad.


"Apa kabar Tuan Kenzi, Tuan Yu dan kau Samuel." Salah satu pria itu menyapa lalu keduanya membungkuk hormat sesaat.


"Baik." Kenzi menjawab. "Ada apa kalian menemuiku? aku tidak punya masalah dengan kalian."


"Tenang Kenzi, kami datang bukan untuk mencari masalah denganmu."


"Apa maksudmu?" Yu menyela menatap waspada.


"Kami sudah mendengar sepak terjang kalian, kami juga tahu kalian yang telah membunuh Avram dan Dareen."


"Lalu?" potong Kenzi.


Pria itu tersenyum menoleh sesaat ke arah temannya sesaat.


"Kami tidak akan mengganggumu, kalau kau tidak ikut campur dengan urusan kami."


Kenzi tertawa lebar, di ikuti Yu. "Kau tidak perlu khawatir, selama kalian tidak mengganggu kami. Maka kami juga akan diam." Kenzi menarik napas dalam dalam.


"Baik, kami percaya padamu Kenzi. Meski dalam dunia kita, tidak ada yang harus di percaya." Kedua pria itu membungkuk hormat, lalu balik badan meninggalkan area parkiran.


"Sayang, apa kita dalam masalah?" tanya Siena, berjalan mendekati Kenzi.


"Tidak ada sayang, kau tidak perlu khawatir." Kenzi menarik bahu Siena dan memeluknya erat. "Kita pulang."


Siena menganggukkan kepalanya, lalu mereka semua bergegas masuk ke dalam mobil masing masing menuju rumah.