
"Krucukkk"
Suara gemurucuk di perut Althea semakin terdengar. Gadis itu berjalan santai menuju toko makanan yang terlihat ramai pengunjung.
"Semoga kali ini berhasil," ucap Althea, lalu masuk ke dalam toko. Bersikap santai dan berpura pura melihat lihat makanan yang tertata rapi.
Matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Tatapannya tertuju pada seorang pria yang berdiri membelakangi. Perlahan ia berjalan mendekati pria itu dan menubruknya hingga pria tersebut terhuyung ke depan. Althea berpura pura memeluk pria itu dari belakang supaya tidak terjatuh. Pria itu langsung balik badan menatap tajam ke arah Althea.
"Maaf Tuan aku tidak sengaja!" ucap Althea membungkukkan badan sesaat.
"Tidak apa apa Nona." Jawab pria itu lalu kembali asik memilih barang barang.
Althea bergegas keluar dari toko dan berlari menjauh dan berhenti di sebuah halte lalu duduk di bangku. Ia merogoh saku jaketnya mengeluarkan sebungkus roti dan lembar uang yang berhasil ia curi dari kantong pria tadi.
"Ahh, lumayan buat beli makanan dua hari kedepan," ucapnya tersenyum mengembang, lalu ia masukkan kembali uangnya ke dalam saku jaket. Roti di genggaman tangannya, ia buka bungkusnya lalu memakan roti itu dengan lahap.
Saat ia tengah menikmati roti, matanya melirik ke arah samping. Althea melihat 4 pria berpakaian rapi tengah berjalan menghampirinya.
"Nona Althea?" sapa salah satu pria tersebut.
Althea berdiri, ia berpikir kalau orang orang tersebut bodyguar pria yang telah ia curi uangnya.
"Lariii!!" pekik Althea memutar badan ke arah kiri hendak melarikan diri. Namun dari arah kiri, 4 pria yang berpakaian sama sudah menghadangnya.
"Ikut kami!" salah satu pria menarik tangan Althea supaya tidak melarikan diri.
"Aku tidak mencuri, aku hanya kelaparan. Tolong, jangan bawa aku ke kantor polisi. Aku akan kembalikan uangnya."
Namun pria itu tidak menggubrisnya. Mereka membawa paksa Althea masuk ke dalam mobil.
"Sial, aku pasti mendekam lagi dalam penjara," ucap Althea merutuki dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanan, Althe coba merayu pria yang ada di sampingnya. Namun pria itu sama sekali tidak menjawab apapun. Althea kembali terdiam dan memperhatikan jalan. Ia baru menyadari jika pria itu tidak membawanya ke kantor polisi, tapi kesebuah mansion mewah di tepi perbatasan kota.
"Sepertinya aku pernah kesini." Ucap Althea dalam hati.
"Nona mari ikuti saya!" sahut pria yang ada di samping Althea membuka pintu lalu mengulurkan tangannya membantu Althea keluar dari dalam mobil.
"Aku ingat, tempat ini di mana malam itu aku melakukan sesuatu dengan..hah??" Althea membekap mulutnya sendiri, matanya melebar. "Apakah dia akan membunuhku? Ya Tuhan selamatkan aku.." ucapnya dalam hati.
Althea hanya diam, lalu mengikuti langkah pria tersebut masuk ke dalam Mansion tanpa ada perlawanan.
"Hei, beritahu aku. Apakah Tuanmu akan membunuhku?" tanya Althea menarik tangan pria itu. Lagi lagi pria itu tidak menjawab apa apa, dan Althea kembali terdiam.
Langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu. Kemudian pria itu mengetuk pintu tuangan hingga terdengar suara pria menyahut dari dalam.
"Masuk!"
Pria itu membuka pintu, lalu mempersilahkan Althea masuk ke dalam ruangan. Pertama yang Althea lihat adalah pria yang sama di malam itu yang tak lain adalah Genzo.
"Tuan, Nona Althea sudah kami temukan," ucap salah satu pria maju satu langkah lalu membungkuk hormat.
"Paman, siapkan pernikahanku dengannya segera!" perintah Genzo tanpa melihat sedikitpun ke arah Althea.
"Menikah?" tanya Althea pada Genzo. "Siapa yang mau menikah?" tanyanya lagi.
Namun Genzo tidak menjawab apapun, ia berdiri lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa Althea dan di perlakukan layaknya wanita terhormat.
"Hei, kenapa kau tidak menjawabku?!" seru Althea.
"Nona, sebaiknya kau ikut bersama kami." Salah satu anak buah Genzo, membawa Althea keluar dari ruangan menuju kamar lain yang sudah tersedia.
"Nona, mulai sekarang ini kamarmu. Semua sudah tersedia, aku harap Nona bisa bekerjasama dengan kami."
"Halah jangan khawatir, yang penting perutku kenyang!" sahut Althea tertawa kecil.
Pria itu membungkukkan badan sesaat, lalu bergegas meninggalkan Althea di kamarnya.
"Benarkah dia mau menikahiku?" tanyanya pada diri sendiri. "Tidak masalah, yang penting aku punya tempat tinggal, uang yang banyak dan aku tidak perlu mencuri lagi!" serunya kegirangan lalu ia naik ke atas tempat tidur, meloncat berkali kali sambil tertawa.
"Ternyata empuk juga!" serunya lagi sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Akhirnya aku menjadi orang kaya! hahahahaha!"
Althea tertawa terbahak bahak, lalu terdiam menatap langit langit kamar. Perlahan matanya terpejam, ada bulir air mata hampir jatuh di sudut matanya.
"Semoga ini bukan mimpi..."