THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Aversion



'Berani sekali kau menipuku!" bentak Avram dengan mencengkram tangan Davira. "Aku sudah membayar mahal untuk nyawa Dokter sialan itu, hah!" Avram hempaskan tangan Davira.


"Aku sudah kembalikan uangmu, kau minta nyawaku ambillah. Sampai kapanpun kutak akan pernah bisa membunuh Dokter Ryu." Davira mengusap pergelangan tangannya.


"Kurang ajar! berani sekali kau menantangku!"


"Bukk!


Avram mengangkat kakinya dan menendang bahu Davira hingga terjungkal ke belakang.


" Laila!" pekik Avram geram.


"Saya Tuan!" sahut Laila yang sedari tadi diam menyaksikan pertunjukan.


"Bawa gadis bodoh ini dan lenyapkan!" seru Avram langsung balik badan meninggalkan ruangan.


"Ayo ikut aku." Laila membungkuk, menarik kerah baju Davira supaya berdiri dan menyeretnya paksa keluar dari ruangan.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Davira terus mengikuti langkah Laila hingga di halaman markas.


"Kau bertanya padaku?" laila tertawa kecil. "Mencabut nyawamu, sayang." Laila tertawa terbahak bahak, lalu ia memerintahkan anak buahnya.


"Bawa pergi gadis bodoh ini, lenyapkan dan jangan tinggalkan jejak!" perintah Laila.


"Baik Bos! sahut pria itu lalu menarik lengan Davira, ia masukkan gadis itu dengan paksa ke dalam mobil.


Sementara Avram memanggil Hernet ke ruangannya. Untuk membicarakan pria yang bersama Ryu. Avram khawatir, pria itu akan merebut Siena dari tangannya.


" Apa yang harus kulakukan Tuan." Hernet duduk di kursi berhadapan dengan Avram.


"Aku mau kau menculik pria yang ada di rumah Siena dan kurung di penjara bawah tanah. Jika kau gagal, maka nyawamu taruhannya." Ancam Avram pada Hernet.


"Baik tuan, segera di laksanakan!" Hernet berdiri lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Avram di ruangannya.


"Berani sekali anak anak Siena menghina dan menipuku, kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." Gumam Avram tersenyum menyeringai.


"Kalian semua harus mati di tanganku, dengan melenyapkan kalian, aku bisa dengan mudah memiliki Siena seutuhnya."


***


Pagi pagi Kenzi sudah bersiap untuk meninggalkan rumah Siena. Ia menemui Ryu yang masih di kamarnya sebelum pergi.


Siena yang merasa curiga dengan gerak gerik Kenzi, ia langsung mengikuti dari belakang.


"Sayang, kau masih tidur? apa kau baik baik saja?" tanya Kenzi duduk di tepi tempat tidur, menatap putranya yang tengah duduk di atas tempat tidur memijit pelipisnya.


Ryu menurunkan tangannya menatap Kenzi. "Tidak apa apa Ayah, hanya pusing saja. Ayah mau kemana?" tanya Ryu balik.


"Ayah harus pergi dari sini Nak, kau bisa temui Ayah di tempat biasa." Kenzi mengusap rambut Ryu, wajahnya terlihat pucat.


"Kenapa harus pergi Yah..tetaplah tinggal di sini bersamaku." Ryu mencekal lengan Kenzi.


"Tidak bisa Nak, jika Ibumu tahu. Dia pasti marah pada Ayah."


"Ooh jadi kau rupanya.."


Kenzi terkejut bukan main mendengar suara Siena di belakang, ia langsung berdiri menghadap Siena.


"Aku bisa jelaskan." Kenzi berjalan mendekati Siena.


"Ibu, aku mohon jangan marah pada Ayah, ini semua ideku, aku yang mau Buu!"


"Diam! kau sudah membohongi Ibumu sendiri!" bentak Siena pada Ryu.


"Sayang, aku-?"


"Diam!" potong Siena. Menatap tajam ke arah Kenzi.


"Siena, maafkan aku. Semua itu terjadi di luar kehendakku." Kenzi berjalan satu langkah mendekati Siena.


"Apa? bukan kehendakm?" Siena tertawa sinis. "Kau pikir aku percaya?! kau pikir aku mau memaafkanmu begitu saja? tidak Kenzi, kau telah berkhianat!" pekik Siena lantang, membuat Zoya, Angela mendengarnya lalu mereka langsung masuk ke kamar Ryu.


"Siena, aku-?"


"Kalau memang yang di katakan putraku itu benar, kau terpengaruh obat obatan. Kau bisa melawannya, menahan diri untuk tidak terus terjerumus ke dalam obat obatan hingga kau kecanduan. Kau pikir aku bodoh! apa narkotika hanya dengan sekali konsumsi lalu kau sama sekali tidak berdaya untuk menolaknya? katakan padaku! apa aku yang bodoh, atau kau memang pengkhianat Kenzi!" ucap Siena semakin di kuasai amarah, semua kekesalan dan kekecewaan dia lupakn saat itu juga pada Kenzi.


"Di sini aku berjuang untuk meraih kesadaranku, mencari keluargaku, mencarimu. Tapi apa yang kau lakukan di luar sana? apa Kenzi? kau mau menyangkal apa lagi!" dada Siena naik turun, napasnya memburu. "Kau bersenang senang, sementara aku dan anak anakku menderita!"


"Ibu!" pekik Ryu menarik selimut berusaha turun dari atas tempat tidur.


"Apa kau tahu? wanita yang kau nikahi? musuhmu sendiri? yang telah mengambil masa depan putramu! Miko! Adelfo! Laura! mereka korbankan nyawa demi keluargaku! tapi apa yang kau lakukan Hah??? apa?!!!! Air mata Siena turun saling memburu membasahi pipinya.


Angela hanya diam, detik berikutnya ia berlari keluar kamar. Ia sudah tidak sanggup melihat keluarganya yang tidak utuh lagi di penuhi dengan permasalahan dan pertengkaran. Zoya hanya diam menundukkan kepala teringat Papanya.


" Ibu! ini semua salahku!" Ryu mengedarkan pandangannya mencari tongkat.


"Plakk!" Tangan Siena melayang menampar wajah Kenzi cukup keras.


"Sekarang kau pergi dari rumahku, jangan harap aku memaafkanmu! jangan pernah temui anak anakku lagi! anggap kami semua sudah mati!" Siena menarik tangan Kenzi dan menyeretnya paksa.


"Ibu jangan! pekik Ryu berlari mengejar Siena. Namun kepalanya terasa pusing dan darah segar mengalir di hidung Ryu.


" Bukkk!


Siena menoleh ke arah suara, ia melihat Ryu terjatuh ke lantai tak sadarkan diri.


"Ryu!" Siena langsung berlari mendekati Ryu dan jongkok mengangkat kepala Ryu. "Darah?"


"Sam!" seru Siena memanggil Samuel.


Kenzi berjalan mendekati Ryu, namun Siena langsung membentaknya.


"Jauhi putraku! kau tidak berguna! lebih baik kau pergi dari sini!" jerit Siena menatap marah Kenzi yang terpaku dan serba salah.


"Nyonya!"


Samuel langsung menghampiri Ryu dan mengangkat tubuh Ryu.


"Kita ke rumah sakit, Nyonya!"


'Iya cepatlah!" Mereka berdiri dan beegegas keluar kamar. Kenzi mengusap wajahnya kasar menatap ke arah Zoya yang tengah menatapnya.


"Ayah, lebih baik kau pergi untuk sementara sampai situasinya tenang."


"Baiklah." Sahut Kenzi lalu beranjak keluar kamar di ikuti Zoya. Sementara Siena, dan Samuel membawa Ryu ke rumah sakit.