THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Kenzi tersenyum memperhatikan Siena yang tengah menyuapi Aira dengan penuh kasih sayang, tak terasa air matanya hampir saja jatuh membasahi pipinya. Perlahan ia usap kedua bola matanya. Jika Aira kondisinya seperti ini, bagaimana dengan Jiro dan Zoya? pertanyaan yang ada di dalam pikirannya saat ini. Rantai takdir masih terus mencengkram kuat anggota keluarganya. Kehidupan yang masih enggan berpihak pada keluarganya, prahara kehidupan masih terus ingin bermain main dengan keluargannya. Ah andai waktu bisa di putar.


"Sayang, kenapa semua ini terus menimpa keluarga kita?" tanyanya pelan.


Siena menoleh ke arah Kenzi dan tersenyum tipis. Ia mengerti kegundahan suaminya, ia juga mengerti pertanyaan suaminya, jika kehidupan ini adil lalu di mana letak keadilannya?


"Sayang, untuk apa kau pertanyakan hal itu lagi? bukankah sejak kau memilih meninggalkan dunia hitam, sejak kau memilih aku menjadi mempelaimu. Sejak saat itu, pilihanmu yang akan menentukan bagaiamana kita di masa depan. Tidak ada pilihan baik atau buruk, karena setiap pilihan akan melahirkan pilihan pilihan lain. Aku rasa, kau tidak perlu khawatir lagi. Aku yakin, anak anak kita, cucu cucu kita, mereka semua mengerti dan bisa di andalkan."


"Kau benar, sayang."


Kenzi kembali menundukkan kepalanya, jika bukan Siena yang selalu menenangkan di saat saat sulit dan terburuk sekalipun. Entah apa jadinya, ia bersyukur memiliki istri seperti Siena.


"Grandma, Grandpa selamat pagi!" sapa Genzo dari arah pintu.


Keduanya menoleh dan membalas sapaan Genzo.


"Pagi sayang!" ucap mereka serempak.


"Kemarilah sayang, biar aku buatkan sarapan," tawar Siena, lalu berdiri.


"Tidak perlu, aku sudah kesiangan. Biar aku sarapan di kantin, Granma!"


"Baiklah sayang, terserah kamu." Siena kembali duduk. " Minumlah susu hangatnya, setelah itu kau boleh berangkat sekolah."


Genzo menganggukkan kepala, lalu ia berjalan mendekati meja mengambil satu gelas susu hangat lalu meminumnya sampai habis, lalu ia letakkan kembali gelas kosong di atas meja.


"Aku berangkat dulu, Granma, Grandpa!"


Genzo mencium pipi Siena sekilas, lalu mencium pipi Kenzi.


"Hati hati sayang!" ucap Siena memperhatikan punggung Genzo hingga hilang dari balik pintu.


Sepeninggal Genzo, Siena kembali menyuapi Aira. Sementara Kenzi terlihat melamun, ia teringat saat beberapa pria menculiknya juga Siena.


Waktu itu, mereka baru saja pulang dari Bandara melepas kepergian Ryu, Davira dan bayinya untuk kembali ke Hongkong. Tiba tiba dari arah lain, datang beberapa pria asing menghadang langkah Kenzi dan Siena. Terakhir yang ia ingat, seseorang telah membiusnya. Ketika Kenzi dan Siena sadar dari pengaruh obat, mereka ada dalam penjara bawah tanah di markas Yakuza.


"Apa yang kau pikirkan?" pertanyaan Siena membuyarkan lamunan Kenzi di masa lalu.


"Sayang, sepertinya aku tahu siapa dalang di balik ini semua." Ucap Kenzi.


"Kau jangan terburu buru mengambil kesimpulan, kita harus benar benar waspada dan menyelidikinya terlebih dahulu."


"Kau benar!" sahut Kenzi.


***


"Genzo!" panggil Kitaro dari arah belakang.


Genzo menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Nampak sahabatny tengah berlari menghampirinya.


"Tumben kau terlambat?" tanya Genzo.


"Aku semalam begadang gara gara main game!" seru Kitaro. "Ayo masuk ke kelas!" Mereka berjalan bersama memasuki halaman sekolah.


"Bukankah itu Ariela?" tanya Kitaro dengan tatapan lurus ke arah Ariela yang tengah berjalan bersama dengan salah satu siswa populer di sekolah itu.


"Biarkan saja, apa urusanku?' ucap Genzo kembali melangkahkan kakinya.


" Tunggu!' Kitaro berlari mensejajarkan langkahnya dengan Genzo.


"Lihat!" tunjuk Kitaro ke arah Alexa yang tengah duduk di taman bersama seorang siswa.


"Ah sudahlah, mereka mau jalan sama siapa, pacaran sama siapa, bukan urusanku!" sahut Genzo dengan nada kesal.


"Hei tunggu dulu!" Kitaro menarik tangan Genzo mundur ke belakang.


"Ada apa lagi?" tanya Genzo menatap horor Kitaro.


"Aku rasa ada yang salah dengan otakmu." Tunjuk Kitaro ke kepalanya sendiri.


"Kenapa dengan otakku?"


"Kau menyukai kedua gadis itu bukan?" tanya Kitaro setengah menggoda.


"Aku? menyukai mereka? ah tidak mungkin. Alexa terlalu pendiam. Ariela terlalu agresif, dua duanya bukan gadis impianku!" Genzo mengibaskan tangannya lalu berjalan kembali meninggalkan Kitaro yang masih terpaku di belakang.


"Aku yakin, kau menyukai Aleca dan Ariela. Genzo tunggu!"


Kitaro berlari menyusul Genzo, lalu mereka berdua masuk ke dalam kelas. Tak lama kemudian seorang Guru masuk ke dalam kelas, dan jam pelajaranpun di mulai. Suasana di kelas hening tidak ada yang bicara. Semua sibuk mencatat kecuali Genzo yang terus memperhatikan sikap cuek Alexa. Hingga tak terasa jam pelajaran telah usai, bel berbunyi tanda istirahat.


Genzo berdiri, dan buru buru menghampiri Alexa. Ia berniat mengajak Alexa untuk makan di kantin. Namun gadis itu dengan sikap acuhnya berlalu dari hadapan Genzo, menghampiri siswa yang tadi pagi duduk bersamanya di taman.


"Hahahaha!"


Kitaro yang sedari tadi diam memperhatikan Genzo, akhirnya tidak dapat menahan tawanya.


"Sial!" umpatnya lalu ia beranjak pergi meninggalkan kelas menuju kantin, di ikuti Kitaro dari belakang.


Langkah Genzo terhenti saat berpas pasan dengan Ariela. Namun gadis itu, sikapnya sama seperti Alexa. Yang biasanya cerewet dan manja tiba tiba berubah sikap menjadi pasif.


"Hahahahaha!"


Kitaro yang berada di belakang tubuh Genzo, kembali tertawa melihat sahabatnya di abaikan dua gadis sekaligus


'Sakit ya?" tanya Kitaro setengah menggoda.


"Sial!" umpat Genzo lagi. "Terserah mereka, mau menjauhiku. Tapi lihat dua hari kemudian, mereka berdua pasti mendekatiku lagi."


"Bagaimana kalau kita taruhan?" Kitaro mengulurkan tangannya.


"Boleh, kalau aku kalah. Satu tahun, makan siangmu aku yang bayar!" tantang Genzo. Sembari membalas uluran tangan Kitaro.


"Deal!" ucap mereka serempak, lalu tertawa bersama.