
Dua orang pria menggunakan pakaian serba putih seperti seorang Dokter. Tengah berjalan tergesa gesa menuruni anak tangga menuju ruangan bawah tanah yang cukup besar, tempat laboratorium kimia. Terdapat pula beberapa pria yang bekerja di dalam laboratorium itu. Dari peralatan klasik serta perlengkapan khusus tersedia.
Kedua pria tersebut menghampiri salah satu Dokter yang tengah duduk di kursi dalam keadaan terikat. Lalu kedua pria tersebut melepaskan ikatan yang melilit tubuh sang Dokter.
"Tuan, mari ikut saya," ucap salah satu pria tersebut, seraya memapah lengan Dokter itu. Mereka melangkah bersama meninggalkan ruang laboratorium, menuju ruangan lain yang sama besarnya dengan ruangan lab tadi.
Setelah mengantarkan sang Dokter, ke hadapan dua pria yang tengah duduk di sofa. Kedua pria tersebut kembali pergi keluar ruangan.
"Dokter Ryu, apa kabarmu," sapa salah satu pria yang duduk di sofa. "Ups, kakak ipar!" pria itu tertawa terkekeh. Lalu berdiri menghampiri sang Dokter yang tak lain adalah Ryu.
"Sialan! tega sekali kau hancurkan kepercayaan keluargaku!" tangannya mencengkram kerah baju pria itu yang tak lain adalah Zidan, suami Angela.
"Omong kosong, ayahmu telah membunuh ayahku dan menghancurkan masa depanku. Sekarang kalian harus terima balasan yang setimpal!" Zidan menepis tangan Ryu, lalu mengepalkan tinju menghajar wajahnya hingga tersungkur ke lantai.
"Apa maumu!! pekik Ryu, sembari mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya..
" Mudah, katakan berapa kode rahasia untuk mengaktifkan atom nuklir." Zidan membungkukkan badannya.
"Aku tidak tahu." Jawab Ryu.
"Katakan." Zidan mendengus kesal, karena Ryu masih saja tutup mulut. "KATAKAN!!"
"Aku tidak tahuu!!! sahut Ryu marah.
"BUKKK!!"
Zidan melayangkan tinju di wajah Ryu, lalu berdiri tegap. "KATAKAN!!"
"Aku tidak tahu." jawab Ryu mencoba untuk bangun. Namun, lagi lagi Zidan menendang dada dan wajah Ryu hingga tak sanggup untuk bangun lagi.
"Papa cukupp!!
Zidan menoleh ke arah suara, nampak Alexa berlari menghampiri Ryu dan membantunya untuk bangun dan duduk di lantai.
" Kau, kau putri-?" Ryu tidak melanjutkan ucapannya.
"Dia putriku, tapi bukan hasil pernikahanku dengan Angela." Potong Zidan menjelaskan siapa Alexa.
"Jadi, kau menikahi adikku hanya untuk balas dendam? dan kau menikahi wanita lain?!! seru Ryu, matanya berkaca kaca, membayangkan Angela selama ini hidup tersiksa.
" Hahahahahaha!! kau benar, Dokter!" Zidan tertawa terbahak bahak, seolah olah sudah di atas angin. Berhasil memperdaya Kenzi dan Siena.
"Kau keterlaluan!!"
"Omong kosong!! sahut Zidan marah.
" Cukup, Pa! Alexa berdiri tegap menatap tajam Zidan. "Papa sudah berjanji padaku, untuk tidak menyakiti Dokter Ryu!"
"Diam kau! aku, Papamu. Jangan pernah membantah!" Zidan memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah putrinya yang tengah menangis.
"Papa jahat! Papa egois! hanya mementingkan diri sendiri!!" jerit Alexa kesal.
"Hentikan tangisanmu! aku sudah memenuhi permintaanmu untuk tidak melukai Genzo!"
"Genzo, putraku.." ucap Ryu dalam hati.
"Papa! apa salah? aku menyukai Genzo? di mana letak kesalahannya, Pa?!"
"PLAKKK!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alexa.
"Mulai sekarang, jauhi Genzo!!" ancam Zidan. "Pengawal!!
Zidan memanggil dua anak buahnya yang berada di luar ruangan. Tak lama dua orang pria masuk ke dalam ruangan, membungkuk hormat.
" Tuan!"
"Bawa putriku, dan kurung dia! perintahnya pada salah satu pengawal. " Dan kau, bawa Dokter Ryu ke dalam tahanan. Aku tahu bagaimana caranya supaya dia buka mulut!"
"Pa! aku mohon hentikan semua ini. Tidak ada gunanya, Pa! semua ini tidak akan mengembalikan apapun yang sudah terjadi!! jerit Alexa terus berusaha melepaskan diri. Namun Zidan tidak perduli lagi, ia hanya diam melihat putrinya di seret paksa keluar dari ruangan.
" Terima kasih Alexa, kau sudah membantuku," ucap Ryu dalam hati.
***
Genzo berdiri di depan layar monitor, tempat dimana Ryu bekerja. Ia tatap dalam dalam foto Ryu dan tersenyum tipis.
"Aku pasti menemukanmu, Ayah." Tatapannya beralih pada sebuah ponsel milik Ryu yang tergeletak di atas meja. "Ayah menyimpan ponsel ini pasti buat aku." Genzo tersenyum, lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Sayang, kau di sini?"
Genzo menoleh ke arah suara, lalu tersenyum dan berjalan menghampiri Davira yang berdiri di ambang pintu, di tangannya memegang segelas susu.
"Ibu!"
Genzo memeluk erat Davira dan mencium pipinya berkali kali. Davira hanya tertawa kecil mengangkat tangan kanannya supaya supaya susu dalam gelas tidak tumpah.
"Sudah sayang, nanti susu hangatnya tumpah."
Genzo melepaskan pelukannya, lalu mengambil gelas susu di tangan Davira.
"Kau merindukan ayahmu, sayang?" tanya Davira memperhatikan Genzo yang tengah menghabiskan susu hangatnya.
"Iya Bu!" sahut Genzo memberikan gelas kosong pada sang ibu.
"Ibu juga merindukan ayahmu, semoga dia baik baik saja."
"Hei, Ibu jangan menangis. Kita pasti berkumpil lagi." Kedua tangan Genzo terulur, mengusap air mata di pipi Davira. "Aku berjanji padamu Ibu, akan membawa ayah kehadapan Ibu."
"Iya sayang, kau memang jagoan ibu dan ayah." Davira kembali tersenyum, menangkup wajah Genzo. "Nanti kau kesiangan, sudah waktunya kau berangkat sekolah."
"Iya Bu!" sahut Genzo. Kemudian mereka melangkah bersama, keluar ruangan.
"Hati hati, kabari kakekmu atau paman besar kalau ada apa apa," pesan Davira pada Genzo.
"Baik Bu!" sahut Genzo.
"Sudah sana berangkat!"
Genzo melambaikan tangannya, lalu ia masuk ke dalam mobil di kawal Cristoper dan dua anak buahnya yang lain.
Di perjalanan, Genzo mengeluarkan ponsel milik Ryu di dalam saku celananya. Ia tatap cukup lama ponsel dalam genggamannya. Lalu ia menekan nekan ponsel dengan jarinya, tiba tiba saja layar ponsel terbuka.
"Aku yakin, ada sesuatu yang ayah simpan dalam ponsel ini, tapi apa?" gumam Genzo dalam hati. "Ponsel ini menggunakan kata sandi, aku tidak tahu sandi apa yang ayah gunakan."
Genzo kembali terdiam, ia mencoba menuliskan kata sandi secara acak. Namun berkali kali ia lakukan, tidak membuahkan hasil.
"Aha, Kitaro! Aku yakin dia bisa memecahkannya." Ucap Genzo dalam hati, lalu ia kembali masukkan ponsel ke dalam sakunnya.