
Sesampainya di rumah, Siena langsung membawa Ryu ke kamarnya dan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Ryu yang baru saja ia ketahui. Di saat mereka tengah khawatir, di kejutkan oleh kedatangan beberapa anak buah Laila yang mencari keberadaan Kenzi.
Meski sempat terjadi baku hantam, namun Siena berhasil mengatasinya bersama Samuel.
"Kenzi pergi kemana? apa kau tahu?" tanya Siena pada Samuel.
"Aku tidak tahu Nyonya," sahut Samuel.
"Aneh, apa mungkin ini hanya permainan mereka saja?" gumam Siena bingung.
"Nyonya, sebaiknya kita pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang putra Nyonya." Samuel memberikan saran.
"Ya, kau benar."
"Ibu, apa yang terjadi dengan kakak?" tanya Angela yang baru saja pulang kuliah.
"Ibu belum tahu sayang, kakakmu masih di periksa."
Tak lama pintu kamar di buka, Dokter keluar dari kamar Ryu menghampiri Siena dan yang lain.
"Bagaimana Dok?" tanya Siena menatap ke arah pintu sesaat.
"Dokter Ryu kelelahan, sepertinya dia tidak tidur dalam beberapa hari ke belakang." Dokter menjekaskan, jika pembengkakkan di kaki Ryu di akibatkan terlalu lama berdiri selama 24 jam tanpa istirahat.
Siena mengerutkan dahi nenatap Dokter di hadapannya. "Tidak tidur? tapi Dok-?"
"Mungkin Nyonya bisa bertanya pada Dokter Ryu sendiri, selama ini dia melakukan pekerjaan apa?" potong Dokter itu.
"Baiklah Dok, terima kasih."
"Kalau begitu, saya permisi Nyonya."
Siena menganggukkan kepalanya, lalu meminta Angela untuk mengantarkan Dokter tersebut sampai teras rumah. Sementara Siena dan Samuel masuk ke dalam kamar menemui Ryu yang tengah duduk di atas tempat tidur.
Siena duduk di kursi menatap wajah putranya terlihat sangat pucat.
"Silahkan Ibu.." sahut Ryu.
"Apa yang kau kerjakan selama ini? Dokter bilang kau tidak pernah tidur. Setahu Ibu, kau tidur di kamarmu tiap malan?" tanya Siena penuh selidik. "Ibu tidak suka kebohongan, jujur pada Ibumu."
Ryu menundukkan kepalanya, lalu menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Tangannya meraih tangan Siena erat.
"Maafkan aku, Ibu. Bukan maksudku membohongi Ibu. Tapi kulakukan semua ini demi keutuhan keluarga kita."
"Apa maksudmu?" tanya Siena bingung.
Ryu mulai menceritakan apa yang selama ini ia kerjakan tanpa sepengetahuan Siena. Ia dan beberapa temannya yang sudah lebih dulu menjadi ilmuwan untuk membawa Kenzi keluar dari organisasi itu, tapi jika Kenzi wajahnya masih sama maka itu akan menjadi percuma. Oleh karena itu ia meminta teman teman sejawatnya untuk membawa Kenzi ke Amerika dan melakukan operasi wajah serta tubuhnya supaya tidak di kenali oleh pihak musuh. Dan Ryu sangat ingin Ayah dan Ibunya bersatu sebelum penyakit yang ia derita merenggut nyawanya. Sebagai permintaan terakhir Ryu.
"Apa!" Siena langsung berdiri menatap tajam Ryu. "Kau korbankan dirimu demi Aku dan Ayahmu?!" Siena menggelengkan kepalanya, tubuhnya membungkuk, meraih dagu Ryu. "Ibu sudah cukup bahagia tanpa adanya Ayahmu."
"Tapi aku menginginkannya Ibu! aku ingin melihat kalian bersama lagi sebelum kumati!" pekik Ryu, matanya berkaca kaca menatap Siena.
"Ryu putraku, kenapa kau lakukan itu Nak.." Siena naik ke atas tempat tidur, dan memeluk erat Ryu.
"Aku yakin, dalam dua hari ke depan. Ayah sudah kembali ke Hongkong. Tapi aku juga belum tahu seperti apa wajah Ayah yang sekarang." Bisik Ryu di telinga Siena.
***
Kenzi yang telah berhasil mengakses semua file, lalu menyalinnya. Sementara yang file yang asli ia sembunyikan tentang dokumen rahasia yang organisasi itu miliki.
Dari hari ke hari setiap barang selundupan mereka berhasil di tahan pihak berwajib di pelabuhan. Maupun barang barang ilegal yang di impor dari Amerika atau Negara lain di tahan Bea Cukai di setiap pelabuhan yang mereka lewati. Organisasi itu mengalami penurunan drastis, kerugian hingga milyaran dolar harus mereka telan.
Sementara Kenzi sendiri hilang dari markas itu. Tidak hanya Laila dan Hernet yang merasa di tipu mentah mentah oleh Kenzi. Bos utama mereka menjadi geram dan mengerahkan orang orangnya untuk mencari keberadaan Kenzi yang telah membawa kabur informasi rahasia.
Mereka juga sempat menyelidiki di rumah Siena, namun Kenzi tidak berada di manapun. Laila hampir saja menjadi gila karena telah kehilangan Kenzi. Dan pria itu hanya meninggalkan dokumen surat cerai yang di letakkan di kamarnya.
"Matilah kalian semua, kalian pikir aku mudah di perdaya," gumam Kenzi. "Lihat pembalasan yang akan kalian terima."