THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Waktu terus berlalu, bulan pun berganti. Jiro yang mendapatkan promosi dan jabatan baru di sebuah perusahaan terbesar Gold Moon. Di pindah tugaskan ke Amerika, akhirnya ia harus pindah ke sana dan memboyong Zoya dan putrinya.


Sementara Angela dan Zidan yang memiliki cabang perusahaan milik Ayahnya. Ikut terpaksa harus pindah tempat dan meninggalkan Kenzi dan Siena. Mereka berdua belum di karunia anak, dan pindah tempat ke Jepang.


Kini tinggallah Ryu dan Davira yang masih tinggal bersama Kenzi dan Siena. Davira yang tengah hamil anak pertama, usia kandungannya sekitar 6 bulan.


Hari ini, Kenzi dan Siena memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Mereka ingin menghabiskan sisa hidupnya di tempat kelahiran Siena. Tentu saja Ryu dan Davira mengizinkannya. Karena mereka merasa kalau permasalahan yang mereka hadapi telah usai.


Siang itu, Ryu dan Davira mengantarkan Kenzi dan Siena ke Bandara. Sesampainyanya di sana, Kenzi memberikan banyak pesan untuk Ryu dan Davira. Begitu juga Siena.


"Kalian sudah dewasa, sudah saatnya kami melepas kalian dan kau, jaga baik baik istri dan calon bayi kalian," ucap Siena sembari mengusap lembut pipi Davira.


"Tetaplah saling menjaga dan saling berbagi meski kalian semua berjauhan, kalau ada apa apa hubungi kami dan saudaramu yang lain." Pesan Kenzi pada Ryu.


"Ayah, Ibu, semua pesan kalian akan selalu aku ingat," timpal Ryu, matanya berkaca kaca menatap wajah Siena yang masih terlihat cantik, namun usia tidak dapat di bohongi, gerak langkah mereka semakin lambat.


"Hei, kau jangan menangis. Putra Ibu semuanya tangguh." Siena tersenyum, tangannya mengusap air mata di pipi Ryu.


"Ibu tidak perlu khawatir, aku akan menjaga putra Ibu dengan baik," ucap Davira.


"Tentu sayang."


"Sudah waktunya kami pergi, kalian jaga diri baik baik. Jangan lupa hibungi kami ya."


Davira dan Ryu menganggukkan kepalanya. Mereka saling berpelukan erat untuk melepas kepergian Kenzi dan Siena ke Indonesia.


Siena menganggukkan kepalanya, ia mencium kening Ryu dan Davira cukup lama. Kemudian mereka berdua beranjak pergi. Sesekali Siena menoleh ke belakang melambaikan tangannya pada Ryu dan Davira.


Ryu menghela napas panjang, ia merangkul bahu Davira dan mencium pipinya sekilas.


"Akhirnya hanya tinggal kita berdua."


"Itu sudah pasti, besok atau lusa. Entah itu kapan, diantara kita semua harus bisa menerima. Kita yang meninggalkan atau kita yang di tinggalkan." Davira mengusap dada Ryu pelan untuk menenangkan.


"Ya, kau benar!" sahut Ryu. "Ayo kita pulang."


Davira menganggukkan kepalanya, ia berjalan bersama Ryu kembali ke mobil. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil terasa hening, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara.


"Kehilangan yang kita sayangi, lebih menakutkan dari pada sebuah kematian," ucap Davira menecah keheningan.


"Ya, kau benar!" sahut Ryu melirik sesaat ke arah Davira.


"Kau terlahir di tengah tengah kesulitan, kau tumbuh di antara bayang bayang kematian. Kau dewasa di antara kesulitan. Aku yakin kau bisa, bisa mengatasi dirimu dan menjadi seseorang yang bisa di banggakan olehku, atau putramu ini," ungkap Davira sembari mengusap perutnya yang sudah besar.


Ryu tertawa kecil melirik ke arah perut Davira. "Tentu sayang, aku pasti melakukan yang terbaik untuk kalian. Masa lalu, akan aku jadikan pelajaran untuk kita melangkah bersama, saling menguatkan dan menjaga satu sama lain."


Davira tersenyum tipis, menganggukkan kepala sembari mengusap bahu Ryu pelan.