
Entah sudah berapa lama Althea duduk terdiam di sofa, menunggu Genzo pulang. Tatapan mata Althea kosong, tertuju pada pintu rumah. Pikirannya mengembara jauh memikirkan nasibnya dan janin yang ia kandung.
Althea tidak mungkin mengatakan kalau dia sedang hamil. Jelas sudah kalau Genzo tidak mencintainya, bahkan pernikahan itu dia lakukan semata mata hanya ingin bertanggung jawab atas perbuatannya meski Althea tidak memintanya. Terlebih ada wanita lain yang Genzo cintai dan sering di temuinya tanpa sepengetahuan Althea dan memang Genzo tidak memerlukan izin itu.
Tak lama pintu utama terbuka, Althea tersenyum lalu bangkit dari duduknya menatap ke arah Genzo yang berjalan mendekat.
"Kau sudah pulang?" tanya Althea.
"Hmm."
"Aku sudah siapkan makan malam, apa kau mau makan bersamaku?" tanya Althea mengikuti langkah Genzo dari belakang hingga di depan pintu kamar Genzo.
"Kalau kau mau mandi, aku siapkan pakaianmu." Tawar Althea tidak menyerah.
Namun Genzo hanya diam, membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Deg!"
Untuk pertama kalinya dada Althea serasa sesak, merasakan sakit yang tiba tiba menyeruak ke dalam dadanya. Perlahan bulir air mata jatuh dari sudut matanya.
"Tidak apa apa, bukankah aku sudah menyepakatinya? pernikahanku hanyalah di atas kertas." Gumam Althea hatinya perih. lalu ia balik badan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya.
Althea duduk di kursi, kedua kakinya di naikkan ke atas lalu berbaring menatap langit langit kamar.
"Dulu..aku sangat menginginkan harta. Aku lelah hidup miskin, mencuri, di hina orang lain. Tapi sekarang, apa nyatanya..harta sudah kudapatkan, tapi aku kesepian..sendirian..yang aku butuhkan saat ini perhatian dari suamiku..tapi itu pun tidak bisa ku raih. Apa gunanya semua harta dan kenyamanan kalau setiap hari aku harus merasakan sakit hati?" ucap Althea dalam hati.
***
Tiga bulan sudah, Althea menjalani pernikahan di atas kertas. Selama itu pula, Althea berusaha mencuri perhatian Genzo dan sedikit kasih sayang. Benih cinta yang tumbuh di hati Althea ia biarkan meski hanya sebelah pihak.
Althea mulai mengemasi pakaiannya ke dalam koper, dan barang barang miliknya. Setelah selesai berkemas, ia membuka laci meja yang ada di sampingnya lalu mengambil dua botol kecil obat obatan yang di berikan Dokter untuk kehamilannya. Althea menarik napas dalam dalam lalu ia buang dua botol obat itu ke kolong meja. Setelah itu ia menarik kopernya keluar dari dalam kamar untuk menemui Genzo dan juga Joe.
"Nona silahkan kau tanda tangani dokumen ini." Joe menyodorkan dokumen berwarna coklat kehadapan Althea.
"Baik!" sahut Althea tetap berusaha bersikap tenang.
Joe menyodorkan balpoin pada Althea. Dengan tangan gemetar, Althea mengambil balpoin di tangan Joe. Sesaat ia melirik ke arah Genzo yang hanya diam. Althea berharap, Genzo mencegahnya namun itu semua hanyalah mimpi.Tekad Althea semakin bulat, lalu ia menandatangani surat cerai itu lalu bernapas panjang.
Kemudian Joe memindahkan dokumen itu kehadapan Genzo untuk di tandatangani. Tanpa ada beban sedikitpun, Genzo menandatangani surat itu.
"Kau bebas." Ucap Genzo untuk yang pertama dan terakhir yang Althea dengar selama menikah dengan Genzo.
"Ya!" sahut Althea menatap tajam wajah Genzo.
Kemudian Genzo mengeluarkan cek dari dalam laci meja. Ia menuliskan jumlah uang sesuai kesepakatan awal. Setelah itu ia berikan cek itu pada Althea.
Althea tersenyum samar, ia ambil cek itu dari tangan Genzo lalu mereka sama sama berdiri. "Terima kasih!"
Althea menarik napas dalam dalam, lalu balik badan melangkahkan kakinya keluar dari rumah di ikuti Joe dan Genzo dari belakang.
Sesampainya di halaman rumah, Althea menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang menatap lama ke arah Genzo. Ia tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah Genzo.
"Paman, kerahkan pasukan sekarang juga. Jemput ayah dan ibuku!" perintah Genzo.
"Baik Tuan!" sahut Joe.
Hari ini, Genzo akan melakukan penjemputan kedua orang tuanya setelah sekian lama melakukan pencarian di mana letak pulau terpencil itu. Sementara Althea pergi entah kemana membawa cinta dan janin di dalam kandungannya