THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 3



Iring iringan mobil Genzo dan anak buahnya menuju pulau terpencil, di mana Ryu dan Davira berada. Butuh wakti satu jam untuk sampai ke pulau tersebut. Selain medan yang sulit, mereka harus melewati laut menggunakan jetski.


Tak lama kemudian mereka semua telah sampai di pulau terpencil tersebut. Nampak pos pos penjagaan juga terdapat puluhan pria berjaga jaga.


Genzo dan anak buahnya yang sudah menyelidiki terlebih dahulu sebelum menyerang, dengan mudah melumpuhkan satu persatu musuhnya.


Tanpa harus menunggu Aba aba lagi, anak buah Genzo meledakkan semua pos penjagaan di pulau itu.


"DUARRR!!"


Satu persatu pos penjagaan meledak bersamaan dengan suara lengkingan keras dari pihak musuh yang tumbang. Api berkobar, asap tebal membumbung tinggi ke udara.


"Dor Dor Dor!!"


Satu persatu musuh tumbang, rumput yang hijau berubah warna menjadi merah darah.


"Duarrrr!!"


Genzo tersenyum puas memperhatikan Joe menimpin anak buahnya terus merangsek memukul mundur lawan.


"Ayah..Ibu.." ucap Genzo, ia edarkan pandangan keseluruh tempat mencari keberadaan orang tuanya.


Suara jeritan memanggil namanya, membuat Genzo balik badan sambil melepas kaca mata hitamnya.


"Ayah, Ibu?"


Tatapannya tertuju pada seorang pria kekar tengah mengarahkan senjata apinya pada kedua orang tua Genzo.


"Lepaskan Ibuku!!" pekik Genzo.


"Dor Dor Dor!!


Tanpa memberikan kesempatan pada pria itu, Genzo mengambil resiko menembak pria tersebut hingga tersungkur ke tanah tak bernyawa lagi.


"Genzo!!" seru Davira, berlari menubruk tubuh putranya dan memeluknya dengan erat, di ikuti Ryu dari belakang langkah kakinya tertatih.


"Ayah, Ibu..maafkan aku yang datang terlambat." Ucap Genzo membalas pelukan mereka berdua.


"Tidak Nak, akhirnya kita bertemu lagi.." sela Davira. "Aku pikir, hidupku akan berakhir di sini."


"Tidak Ibu..tidak akan kubiarkan hal itu terjadi." Timpal Genzo lalu melepas pelukan mereka berdua.


"Genzo, kau sudah besar nak.." ucap Ryu sambil mengusap air mata di pipinya.


"Ayah.." Kembali Genzo memeluk keduanya, tak ada kata yang terucap selain perasaan rindu.


'Tuan, semuanya sudah selesai!"


Genzo melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Joe.


"Paman, ini ayah dan Ibuku." Genzo memperkenalkan mereka berdua.


"Aku sudah mengenal mereka!" sahut Joe membungkukkan badan sesaat.


"Apa aku mengenalmu?" tanya Ryu, kedua alisnya bertaut menatap ke arah Joe.


"Benarkah?" tanya Genzo.


"Joe, putra Adrian salah satu orang kepercayaan Tuan Kenzi." Joe membungkukkan badannya.


"Aku pernah mendengar tentang Paman Adrian dari Ayah." Timpal Ryu.


"Ayah, Ibu, sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya. Paman, tarik semua pasukan, kita kembali." Perintah Genzo.


"Baik Tuan!" sahut Joe lalu ia berlari ke arah lain menarik pasukannya meninggalkan pulau tersebut.


***


Tiga hari berlalu sejak penjemputan Ryu dan Davira di pulau terpencil. Kini Genzo tidak bersedih lagi, kedua orang tuanya sudah berkumpul lagi dan menunggu kabar dari anak buahnya tentang Kenzi dan Siena.


Genzo beraktifitas seperti biasa, membalaskan dendamnya kepada mereka semua. Hingga pihak kepolisian menurunkan anggota terbaik mereka yaitu Kitaro dan Ariela untuk menangkap Genzo dan anak buahnya.


"Ada baju wanita? apakah sebelumnya ada wanita tinggal di sini?" ucap Davira yang berada di kamar tempat Althe dulu tidur di kamar itu.


Kemudian Davira memeriksa seluruh ruangan dan lemari pakaian yang telah kosong. "Aneh, mengapa cuma satu pakaian wanita saja? tidak ada yang lainnya."


Davira semakin penasaran, ia kembali memeriksa di bawah meja hingga akhirnya dia menemukan dua obat dalam botol kecil.


"Obat untuk Ibu hamil. Tapi siapa yang hamil? di sini tidak ada wanita?"


Davira menarik napas panjang, lalu bergegas keluar dari kamar menemui Genzo. Namun putranya sudah tidak ada di kamarnya. Lalu Davira menemui Joe yang berada di teras rumah.


"Katakan padaku, apa sebelumnya ada seorang wanita tinggal di rumah ini?" tanya Davira tegas.


"Maaf Nyonya, saya tidak berani lancang. Sebaiknya Nyonya bertanya langsung pada Tuan Muda." Jawab Joe membungkuk hormat.


"Katakan padaku, aku yang bertanggung jawab!" seru Davira kesal.


"Istriku benar, sebaiknya kau katakan apa yang sebenarnya terjadi?" timpal Ryu yang baru saja datang mendengarkan percakapan mereka.


"Baiklah Nyonya."


Joe menceritakan krologi kejadian antara Genzo dan Althea, Joe sendiri menjelaskan kalau Althea tidak sedang mengandung.


"Begitu rendahnya sikap putraku.." ucap Davira semakin marah. "Kau bilang gadis itu tidak hamil, lalu ini apa!!" bentak Davira menunjukkan dua botol obat obatan.


Joe terhenyak, dia berkali kali minta maaf kalau dirinya sama sekali tidak tahu kalau Althea tengah hamil. Bahkan Joe meminta Althea untuk di periksa namun Althea menolaknya.


"Aku tidak mau tahu, cari Althea sampai dapat! perintah Davira tegas. "Kerahkan anak buahmu, jangan kembali ke rumah ini sebelum Althea di temukan, kau paham?!!"


"Baik Nyonya!"


Joe bergegas pergi meninggalkan Davira dan Ryu, untuk menemui anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk mencari Althea.


"Tenanglah, kita minta penjelasan Genzo." Sela Ryu menenangkan Davira.


"Tentu saja, aku minta putra kita bertanggung jawab atas perbuatannya."