
Sepanjang perjalanan Ryu senyum sendiri mengingat wajah Davira. Namun Ryu kembali menepisnya saat ia teringat kakinya yang cacat.
"Lupakan, lagipula hidupku tidak akan lama lagi," gumam Ryu lirih.
Tak lama ia telah sampai di halaman rumahnya, sang bodyguard membukakan pintu mobil untuk Ryu.
"Terima kasih paman." Ryu tersenyum pada pria yang membukakan pintu. Lalu ia melihat ke arah rumahnya. Nampak Avram tengah duduk di kursi teras rumah bersama Siena. Ryu mendengus tidak suka melihat Avram selalu datang ke rumah mendekati Siena lagi.
"Ibu.."
"Hai sayang, kau sudah pulang?" sapa Siena berdiri menghampiri Ryu.
"Dia mau apalagi datang ke rumah?" tanya Ryu menatap tajam Avram.
"Sayang jangan begitu, Om Avram hanya main saja kok," sahut Siena mengusap lembut rambut Ryu.
"Main? tiap hari?" sindir Ryu tidak suka.
Siena terbatuk kecil mendengar pernyataan Ryu, ia melirik ke arah Avram sesaat. "Sayang-?" Siena tidak melanjutkan ucapannya, tatapannya menuju ke pintu gerbang. Nampak sebuah mobil memasuki halaman, seorang pria keluar dari pintu mobil berjalan menghampiri mereka.
"Selamat siang Nyonya." Pria itu menyapa.
"Iya selamat siang, anda cari siapa?" tanya Siena.
"Maaf nyonya, apakah benar ini rumah Dokter Ryu? saya mau bertemu dengan Dokter." Pria itu membungkuk hormat sesaat.
"Oh, ini putraku Dokter Ryu." Siena memperkenalkan Ryu pada pria itu.
"Apakah dia Ayah?" tanya Ryu dalam hati.
"Mari Om masuk!" Ryu mempersilahkan pria itu masuk ke dalam.
"Terima kasih." Pria itu naik ke teras sesaat menatap tajam Avram yang tengah memperhatikannya, lalu beralih menatap Siena. "Mari Nyonya."
Siena menganggukkan kepalanya, lalu kembali duduk. Dan meminta maaf pada Avram atas ucapan Ryu tadi.
Sementara Ryu langsung mengajak pria tadi ke ruang laboratoriumnya.
"Ayah, apa kau Ayah?" tanya Ryu.
Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya Nak, ini ayah."
"Ayah.." Ryu langsung memeluk pria itu yang tak lain adalah Kenzi setelah melakukan operasi wajah dan peremajaan kulit dan tubuhnya. Kenzi terlihat lebih muda dari sebelumnya.
"Tetima kasih sayang, Ayah berhutang padamu," bisik Kenzi pelan.
"Tidak Ayah, kau tidak berhutang apa apa padaku, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai anak." Ryu melepaskan pelukannya menatap wajah baru Kenzi. Ia tertawa lebar sembari mengusap air mata di pipinya.
"Hei, jangan menangis. Ayah jadi ikut sedih dan merasa sangat bersalah." Kenzi mencium kening Ryu cukup lama.
"Ayah, Ibu harus tahu. Aku akan beritahu Ibu!" Ryu hendak melangkahkan kakinya. Namun Kenzi mencekal lengan Ryu.
"Tidak sayang."
"Tapi kenapa?" Ryu menatap Kenzi tidak mengerti.
"Baik Ayah."
"Ibumu tidak akan mudah menerima Ayah kembali, yang ada semua akan kacau. Lebih baik Ibu dan yang lain tidak perlu tahu tentang Ayah." Kenzi mengungkapkan alasannya pada Ryu. Ia tidak ingin menambah luka di hati Siena. Apalagi jika orang lain tahu, urusannya bisa tambah kacau.
"Tapi Ayah-?"
"Biarkan Ayah dekati Ibumu dengan cara Ayah sendiri, Ayah mohon." Kenzi melipat ke dua tangannya menatap Ryu.
"Berjanjilah untuk tidak mengatakan apapun pada mereka, biar Ayah menebus kesalahan Ayah dengan cara Ayah sendiri, aku mohon Nak."
"Ayah!" Ryu menggenggam tangan Kenzi. "Ayah tidak perlu seperti utu, aku berjanji pada Ayah." Kenzi tersenyum, kembali memeluk Ryu dengan erat.
"Kita susun rencana, supaya Ayah bisa mudah keluar masuk rumah ini." Usul Ryu.
"Terserah kau, Ayah ikuti." Kenzi mengusap rambut Ryu.
"Ryu, apa aku mengganggumu?"
Ryu dan Kenzi menoleh ke arah pintu, nampak Zoya berdiri di ambang pintu sembari memegang perutnya yang mulai membesar.
"Tidak kak, ayo masuk!" sahut Ryu.
"Aku minta obat, rasanya kepalaku sakit." Zoya memijit pelipisnya.
"Tunggu Kak."
"Nak, sudah berapa bulan kandunganmu?" Kenzi menyentuh perut Zoya.
"Tujuh bulan, Om!" sahut Zoya tersenyum.
Kenzi menganggukkan kepalanya tersenyum.
"Aku mau jadi Kakek?" gumamnya dalam hati.
"Ini kak obatnya." Ryu membetikan botol kecil yang berisi beberapa kapsul.
"Terima kasih." Zoya mengambil botol obat di tangan Ryu, lalu iq kembali melangkah keluar ruangan.
"Sayang, Jiro kemana?" tanya Kenzi.
"Keluar kota, ada pekerjaan penting. Angela belum pulang kuliah. Sebaiknya kita keluar supaya Ibu tidak curiga." Ryu mengajak Kenzi kembali keluar ruangan.
"Tunggu Nak, ayah lupa bertanya. Apakah pria di luar tadi yang hendak menikahi Ibumu?" tanya Kenzi.
"Benar Ayah, tapi Ibu menolaknya."
"Ah syukurlah Siena menolaknya, lagipula bukankah itu Bos utama yang tempi hari itu? jadi? selama ini dia dekati Siena dan berpura pura baik?" gumam Kenzi dalam hati.
"Ayah kenapa melamun?" tanya Ryu.
"Tidak sayang, ayo kita keluar."