
Kenzi menatap geram Laila. "Kau pikir aku percaya?" ucap Kenzi.
"Percayalah padaku." Laila berusaha mendekati Kenzi. Namun kali ini ia tidak ingin terpedaya. Perlahan Kenzi menarik pelatuknya dan melesatkan peluru ke arah Laila.
"Dor!"
Satu peluru bersarang di bahu Laila, wanita itu terjengkang ke belakang lalu ambruk. Namun di saat bersamaan, Avram langsung memukul tengkuk Kenzi dengan balok hingga pria itu ambruk ke jalan tak sadarkan diri, senjata di tangan Kenzi terpental jauh.
"Berani sekali kau melawanku, menentang kekuasaanku Kenzi! seru Avram tersenyun menyeringai.
"Pengawal! bawa Kenzi, ikat dan kurung di penjara bawah tanah!" perintah Avram.
"Dan kau! bawa Laila dan Hernet!"
"Baik Tuan!" sahut mereka serempak.
"Siena, lihat saja. Aku akan membuatmu membenci Kenzi seumur hidupmu." Avram tersenyum sinis.
***
Di perjalanan Siena menghentikan mobilnya, ia berpikir keras bagaiamana caranya untuk mengatakan pada Ryu kalau Ayahnya tidak mungkin kembali lagi. Namun Siena tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya pada Ryu apalagi untuk membohonginya.
"Bagaimanapun caranya, aku harus membawa Kenzi pulang."
Siena kembali memutar arah mobilnya kembali ke rumah Kenzi. Lenih baik ia tidak pulang menemui Ryu tanpa membawa Kenzi. Dari pada harus pulang tapi membohongi dan melukai harapannya untuk tetap bersama Kenzi saat seperti itu.
"Sayang, tunggu sebentar. Ibu pasti menepati janji Ibu meski harus di bayar dengan nyawaku."
"Sial! mereka pasti membawa Kenzi pergi." rutuk Siena kesal. "Baiklah, aku akan merebutnya kembali nanti malam."
Siena kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kenzi menuju markas Kartel Siloa untuk bersiap siap menyerang. Ia tidak perduli dengan pelipisnya yang berdarah, perih dan panas.
****
Sebelumnya ia menyusun rencana bersama Yu, Sementara Samuel hanya bertugas menjaga Ryu di rumah sakit bersama Davira yang selalu menjaga dan menyemangati Ryu untuk bertahan.
Malam ini Siena dan Yu bergegas menuju markas Crips. Yu bertugas mengalihkan musuh bersama anak buahnya, sementara Siena mencari keberadaan Kenzi di penjara bawah tanah. Menurut mata mata yang di tugaskan Siena. Kenzi di kurung, di siksa di penjara bawah tanah, dan di berikan obat obatan terlarang.
"Kakak Yu, kau ke sana, aku ke arah sana" Tunjuk Siena ke arah pintu belakang markas.
"Baik, kita bertemu di tempat tadi. Kau hati hati Siena," sahut Yu mengingatkan.
"Baik Kak."
Siena langsung berjalan mengendap menuruni anak tangga menuju lorong bawah tanah. Sesekali ia bersembunyi du balik tembok menghindari para penjaga di bawah tanah. Untuk pertama kakinya ia melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat banyak wanita dan pria di penjara di bawah tanah itu. Mereka di jadikan bahan percobaan obat terlarang dan sex bebas.
"Brengsek! pantas saja mereka tidak menyukai putraku, saat mengkampanyekan untuk tidak mengkonsumsi narkoba. Siena begidik ngeri, perlahan langkahnya terhenti melihat salah satu penjara, terdapat Kenzi tengah tertunduk tak berdaya, di punggungnya lebih dari sepuluh jarum suntikan tertancap di punggungnya. Dengan reflek dari bibirnya terucap kata sayang yang biasa dia ucapkan.
" Sayang.." matanya berkaca kaca. Ia menoleh ke belakang, nampak dua pria tengah berjalan di lorong. Segera Siena bersembunyi di balik meja besi. Ia memperhatikan dua pria itu membuka kunci penjara yang di tempati Kenzi. Mata Siena memperhatikan sekitar, ia melihat balok kayu berukuran sedang. Ia jongkok mengambil kayu itu, berajalan perlahan mendekati kedua pria yang tengah membuka kunci.
"BUK! BUK!"
pria itu sempat menoleh ke arah Siena, namun detik berikutnya ambruk ke lantai tak sadarkan diri. Siena segera membuka kunci penjara dan mengangkat tubuh Kenzi memapahnya keluar penjara. Suara erangan kesakitan dan teriakan para tahanan yang kecanduan narkotika membuat bulu kuduk Siena meremang. Ia bergegas meninggalkan ruang bawah tanah sebelum musuh mengetahuinya.