THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Pagi ini Genzo bangun kesiangan, dengan tergesa gesa ia menuruni anak tangga. Lalu menghampiri asisten rumah tangga yang tengah berdiri menyambutnya dengan nampan di tangannya .


"Tuan Muda, sarapan dulu," ucap wanita itu.


Genzo mengambil sepotong roti, lalu mengambil gelas yang berisi susu hangat, menyecapnya perlahan lalu ia simpan kembali di atas nampan.


"Makasih," ucapnya sembari mengunyah roti, lalu berjalan keluar rumah.


Di halaman rumah, Cristoper sudah menunggu. Melihat Genzo, ia langsung membukakan pintu mobil untuknya.


"Cepat paman, aku sudah kesiangan!"


"Baik Tuan!" sahut Cristoper menyalakan mesin, dan mobilpun melaju meninggalkan rumah.


***


Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah. Genzo keluar dari pintu mobil dan bergegas memasuki halaman sekolah. Langkahnya terhenti, saat beberapa anak laki laki menghadangnya.


"Genzo!" sapa Kitaro melambaikan tangannya. "Kau terlambat lagi, ayo cepat!"


Genzo berjalan setengah berlari ke arah Kitaro. Lalu mereka berjalan bersama memasuki ruang kelas. Seperti biasa, Genzo duduk di belakang. Sesaat ia memperhatikan Alexa yang duduk di depannya nampak gelisah.


"Halo!"


Genzo menoleh ke arah suara, nampak seorang gadis cantik berdiri di sampingnya. Ariela namanya, siswi terpopuler di sekolah itu. Siapa yang tidak kenal dengan Ariela, anak salah satu milyuner di kota itu dan memiliki pengaruh besar di jajaran pemerintahan.


"Hai!" sahut Genzo dingin.


"Nanti ke kantin bareng, mau?" tawar Ariela.


"Tidak bisa, kau ke kantin saja sendirian," tolak Genzo, membuat Ariela mendengus kesal. Tiap kali ia berusaha mendekati Genzo, selalu di tanggapi sikap dingin.


"Kenapa kau-?" Ariela tidak melanjutkan ucapannya, karena guru wali kelas sudah memasuki ruangan. "Aku tunggu kau di kantin," ucap Ariela pelan, lalu ia berjalan keluar dari ruangan. "Hey bisa bisanya kau menolaknya," bisik Kitaro yang duduk di sebelah Genzo, menyiku lengannya.


"Kalau kau mau, ya sana temui dia di kantin." Genzo menjawab dengan santai, dengan tatapan lurus ke arah guru yang berdiri di depan kelas.


Waktu terus berputar, suasana kelas hening. Semua murid mencatat apa yang di tulis sang Guru. Sementara Genzo tidak melakukan apa apa, ia memikirkan keluarganya yang hilang entah kemana. Hingga tak terasa, jam istirahat bel berbunyi. Suasana kelas yang hening berubah riuh. Semua murid nerhamburan keluar kelas menuju kantin.


"Aku lapar, kita ke kantin." Ajak Kitaro menarik tangan Genzo supaya berdiri.


"Kau duluan, aku menyusul," Genzo menolak untuk ikut, entah kenapa ia tertarik memperhatikan Alexa yang terlihat gelisah sejak tadi.


"Baiklah, jangan lama lama. Nanti siapa yang bayarin makananku." Celoteh Kitaro tertawa kecil, lalu ia bergegas meninggalkan Genzo dan Alexa yang tengah membereskan buku.


"Dia kenapa?" tanya Genzo dalam hati, terus memperhatikan Alexa. Gadis itu berdiri dan tergesa gesa meninggalkan ruangan.


Genzo yang sejak tadi penasaran, diam diam mengikuti langkah gadis itu dari belakang menuju gerbang sekolah. Nampak Alexa belok ke kiri menyusuri tepi jalan raya. Genzo semakin penasaran dan terus mengikuti langkah Alexa. Hingga akhirnya, langkahnya terhenti saat melihat dua pria bertubuh kekar keluar dari dalam mobil. Kedua pria itu mencegat langkah Alexa dan menarik paksa tangannya supaya masuk ke dalam mobil. Namun gadis itu meronta berusaha lepas dari cengkraman tangan dua pria kekar tersebut.


"Tuan, lepaskan aku!" pekik Ariela.


"Siapa kalian?" tanya Genzo menatap waspada kedua pria itu. "Kau kenal mereka? Tanya Genzo melirik sesaat ke arah Alexa yang berdiri ketakutan di belakangnya, mencengkram kerah baju Genzo dengan kuat.


"Kau, anak kecil! Jangan ikut campur!" bentak salah satu pria itu menunjuk ke arah Genzo.


"Dia temanku, kalian bisa aku laporkan pada Polisi!" sahut Genzo.


Pria itu tertawa lebar mendengar penuturannya. "Bocah ingusan, anak itu sudah di jual ayahnya pada kami! Jadi, kau jangan ikut campur!"


"Di jual?" gumam Genzo pelan.


"Kemarilah anak manis!" pria itu berjalan dan tangannya mencengkram tangan Alexa.


"Lepaskan!" Genzo menepis tangan kekar pria itu dan menarik mundur tubuh Alexa.


"Berani sekali kau! Apa kau tidak tahu siapa kami?" ucap pria itu menepuk dadanya sendiri.


"Tidak penting, aku tahu siapa kalian!" balas Genzo.


"Kau cari mati rupanya!" pria itu mengangkat tangannya hendak menampar wajah Genzo. Namun dengan sigap, tangan Genzo menahan pergelangan tangan pria tersebut


"Apa kau tidak tahu siapa aku?" tanya Genzo balik, membuat kedua pria itu geram.


"Anak sialan!" umpat pria itu menepis tangan Genzo, namun ia kesulitan melepaskan cengkraman tangan Genzo yang dianggap anak remaja yang mudah dia takut takuti.


Pria itu menatap tajam wajah Genzo, mendengus kesal , giginya gemeletuk menahan amarah.


Genzo tersenyum sinis, lalu ia turunkan tangan pria itu perlahan. "Kau pikir aku takut?" ucapnya berjalan mundur menarik tangan Alexa. Ia memutuskan untuk kembali ke sekolah dan tidak ingin mencari keributan dengan dua pria tersebut.


"Kita pergi, Alexa!"


Keduanya berjalan tergesa gesa meninggalkan kedua pria itu. Sesekali Alexa menoleh ke belakang khawatir mereka akan mengejar.


"Sekarang kau mau kemana?" tanya Genzo di depan pintu gerbang sekolah.


"Aku-?" Alexa tidak melanjutkan ucapannya, ia mendekap erat buku di tangannya dan sesekali membenarkan letak kaca mata yang ia kenakan.


"Sebaiknya kau masuk kelas, aku janji akan mengantarkanmu pulang," timpal Genzo menatap raut wajah ketakutan Alexa.


"Tapi-?"


"Sudahlah, ayo!" potong Genzo menarik tangan Akexa memasuki gerbang sekolah.


Dari kejauhan nampak Kitaro memperhatikan mereka. "Hah? sejak kapan anak itu perduli sama perempuan?" ucapnya terkejut.


Berbeda lagi dengan Ariela, yang menyukai Genzo sejak di pertama kali bertemu, dengan tatapan benci mengumpat Alexa.


"Berani sekali anak baru itu mendekati Genzo, dasar cupu!" ujar Ariela kesal.