
Matahari sudah menunjukkam sinarnya. Cahaya mentari menerobos masuk lewat celah jendela kaca dan menyinari wajah Genzo yang masih tertidur pulas di atas karpet.
Perlahan matanya terbuka dan bangun lalu duduk di atas karpet. Genzo terkejut mendapati dirinya tanpa menggunakan sehelai benangpum di tubuhnya. Matanya tertuju pada botol minuman yang berserakan di lantai, lalu perhatiannya tertuju pada bercak darah di atas karpet yang berwarna krem.
"Darah?" ucap Genzo pelan, lalu ia mulai mengingat kejadian terakhir.
"Gadis itu? apakah semalam aku?" Mata Genzo melebar, lalu ia berdiri dan bergegas ke kamar mandi.
Tiga puluh menit berlalu, Genzo telah selesai membersihkan diri dan terlihat sudah sangat rapi, ia bergegas menemui Joe.
"Paman, di mana gadis semalam?" tanya Genzo.
"Pagi pagi sekali dia pergi, Tuan Muda." Jawab Zoe sambil mengulum senyumnya membuat Genzo salah tingkah.
"Kenapa Paman biarkan dia pergi?" tanya Genzo lagi.
"Dia mengatakan kalau kau yang menyuruhnha pergi, jadi aku mengizinkannya pergi." Joe menjelaskan kenapa ia membiarkan gadis itu pergi.
"Paman, cari orang terbaik untuk melukis wajahnya dan informasi tentang gadis itu. Lakukan dengan cepat paman!" perintah Genzo.
"Baik Tuan!" sahut Joe membungkukkan badan sesaat lalu ia berlalu dari hadapan Genzo.
'Aku harus menemukan gadis itu dan bertanggung jawab atas perbuatanku semalam." Gumam Genzo pelan.
***
Dua hari berlalu, akhirnya apa yang di minta Genzo akan segera di dapatkan. Joe berhasil mendaoatkan informasi identitas gadis itu.
Suara ketukan di pintu menghentikan aktifitas Genzo yang tengah mengendikan bisnisnya lewat media internet.
"Masuk!"
Pintu terbuka, ia melihat Joe masuk ke dalam ruangan membawa dokumen lalu menghampirinya dan duduk di kursi.
"Bagaimana Paman?" tanya Genzo sudah tidak sabar.
"Informasi yang kau butuhkan. Tuan muda." Joe meletakkan dokumen di atas meja.
Genzo mengambil dokumen itu, lalu membuka dan membaca dengan seksama. Sesekali kedua alis Genzo bertaut, dan melirik ke arah Joe sekilas. Lalu kembali menatap beberapa foto milik gadis itu yang ada di dalam dokumen.
"Selain itu, Paman?" tanya Genzo, lalu ia menutup dokumen tersebut dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Gadis itu yatim piatu, asal usulnya tidak jelas. Selama ini gadis itu tinggal di jalanan, namanya Altea."
Genzo menganggukkan kepalanya, terdiam sesaat memperhatikan raut wajah Joe.
"Paman, kerahkan anak buahku. Perintahkan mereka untuk mencari Altea dan bawa gadis itu kehadapanku tanpa cacat sedikitpun. Siapapun yang berani menyakitinya, habisi Paman!"
"Baik Tuan!" sahut Joe, lalu berdiri tegap. Membungkukkan badan sesaat, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Genzo.
"Altea.." gumam Genzo pelan.
Saat itu juga, Joe memerintahkan bawahannya untuk mencari keberadaan gadis itu dan membawanya ke hadapan Genzo.
"Ingat, jangan sampai gadis itu terluka. Perlakukan dia layaknya Nona Muda, kalian paham?!"
"Siap Bos!!" jawab mereka serempak.
Setelah bicara seperti itu, Joe kembali ke ruangannya untuk melakukan pekerjaan lain mencari keberadaan pulau terpencil itu.
Sementara jauh dari kediaman Genzo. Di tepi jalan raya, seorang gadis tengah duduk di bangku halte. Ia tengah termenung memikirkan hidupnya dan kejadian semalam yang telah menimpanya.
"Bodohnya aku, kenapa aku harus menerima tantangan pria brengsek itu?" umpatnya kesal.
"Bagaimana kalau aku hamil? tidak mungkin aku datang padanya dan mengatakan kalau bayi dalam kandunganku adalah anaknya."
Gadis itu tersenyum samar dan berkali kali memukul kepalanya.
"Bodoh! bodoh! dia pria kaya Altea, sedangkan kau?" rutuknya. "Jika memang ternyata hamil, aku tetap akan membesarkan bayi ini dengan caraku.." ucapnya tersenyum lagi.
"Wah, aku lapar sekali. Tapi aku tidak punya uang, aku harus melakukan sesuatu."
Gadis itu yang tak lain Altea, berdiri tegap. Matanya menatap liar keseluruh toko yang ada di seberang jalan. Ia tersenyum saat mendapati celah untuk mencuri.
"Altea, ayo beraksi!" ucapnya pelan.