THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Lament



Crips telah kehilangan salah satu pemimpin mereka, namun sampai pagi ini mereka belum menyadari kalau Livian telah tewas. Mereka berpikir kalau Livian ada urusan sendiri. Berita tentang sebuah rumah yang meledak di pinggir kota belum membuat mereka curiga.


Siang ini, diam diam Kenzi pergi meninggalkan rumah untuk menemui Ryu di rumah sakit. Ia belum berani mendatangi Siena di rumahnya.


Kenzi berdiri di halaman rumah sakit, ia menatap kagum dan tersenyum. Perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit milik Ryu. Kakinya terus melangkah berharap bisa melihatnya dari kejauhan. Meski ada keinginan untuk bertemu langsung, namun rasa malu dan jijik terhadap dirinya sendiri. Ia malu untuk menemui Ryu secara langsung. Di ujung lorong rumah sakit, ia melihat Ryu tengah berjalan dengan langkah kaki pincang bersama seorang suster. Perlahan ia mengikuti Ryu dari belakang dan bersembunyi di balik tembok memperhatikan Ryu berbincang dengan salah satu pasien yang sudah sembuh dari sakitnya.


Tak terasa air matanya menetes, tangannya mengepal ingin memeluk putranya, namun apa daya ia tak punya nyali untuk menemuinya. Hatinya terasa tercabik, bingung dan menjerit dalam hati.


Ketika harapan musnah, kenangan mulai mengabur. Kini jelas terlihat sosok putra yang selama ini ia anggap mati, terbersit jalan pulang untuk kembali ke keluarga terasa begitu dekat. Namun ingat pada diri sendiri yang telah mengkhianati keluarganya seketika harapan untuk kembali sirna, kemana arah kembali pulang menghilang, mengambang. Sejuta mimpi melayang, berharap cemas kembali di terjang badai.


Kasih tak hanya sebatas imaji.


Kenzi menarik kepalanya sembunyi dari arah pandangan Ryu yang menoleh ke arahnya. Lalu ia memutuskan untuk pergi sebelum Ryu melihatnya. Dengan tergesa gesa ia menyusuri lorong rumah sakit.


"Ayah!"


Langkah Kenzi terhenti, mendengar suara putranya memanggil. Ia ragu untuk menoleh ke belakang, namun satu sentuhan lembut di pundaknya membuat Kenzi balik badan menatap wajah putranya tengah tersenyum padanya.


"Ryu, putraku."


"Ayah."


Ryu langsung memeluk Kenzi erat. Kenzi pun membalas pelukan erat Ryu. Dengan derai air mata membasahi bahu Ryu. Dari mulut Kenzi tidak berhenti terucap kata 'maaf'


"Maafkan Ayah Nak.." ucap Kenzi lirih.


Ryu melepas pelukannya, mengusap air matanya sendiri menggunakan telapak tangan.


"Aku sudah memaafkan Ayah, sebelum Ayah memintanya," ujar Ryu dengan suara hampir tersedak karena rindu.


"Ayah tak pantas dapat maafmu.." Kenzi menundukkan kepalanya.


"Pulanglah Ayah.."


Kenzi tengadahkan wajahnya menatap putranya. Lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin Nak, Ibumu pasti tidak akan memaafkanku."


"Tidak Ayah, Ibu pasti memaafkan Ayah. Kita pulang, kumpul bersama seperti dulu lagi. Aku tahu ini semua di luar keinginan Ayah. Percayalah, aku bisa mengobatimu sampai sembuh." Ryu memohon pada Ayahnya untuk kembali pulang.


"Tidak mungkin Nak." Kenzi balik badan membelakangi Ryu sembari mengusap air matanya.


"Apakah Ayah tidak merindukan, Angela?" tanya Ryu.


Ryu berjalan menghadap Ayahnya.


"Kalau begitu, pulanglah Yah..pulang bersamaku..temui Ibu dan minta maaflah padanya."


Ryu terus membujuk Kenzi untuk kembali pulang. Namun pria itu masih belum punya keberanian untuk menemui Siena langsung. Ia tahu, Siena pasti sangat sakit hati dan merasa di khianati.


"Tidak Nak, ayah tidak bisa!"


Kenzi mendorong tubuh Ryu, lalu berjalan cepat meninggalkan Ryu terpaku di lorong itu.


"Ayah! Ayah! jerit Ryu memanggil Kenzi, namun pria itu terus berjalan hingga hilang dari pandangan Ryu.


" Ayah, aku berjanji akan menyatukan kalian berdua. Tidak boleh ada yang menggantikan posisi Ayahku selain kau, Ayah."


***


Sementara Kenzi hanya terisak penuh penyesalan, sepanjang perjalanan menuju sekolah tempat Angela menimba ilmu. Tidak berhenti ia merutuki kebodohannya, begitu mudah ia terpedaya oleh kebaikan Laila, tutur katanya yang lembut.


"Tuhan, maafkan aku.." ucapnya pelan sembari terisak.


"Ambillah nyawaku sekarang Tuhan, aku tidak sanggup menghadapi keluargaku sendiri."


Perlahan Kenzi menepikan mobilnya saat melihat anak anak yang mulai berhamburan keluar pintu gerbang, karena jam pelajaran telah selesai. Mata Kenzi terus memperhatikan, namun dari tadi ia tidak melihat Angela.


"Apakah putriku tidak sekolah?"


Namun dari pintu gerbang yang sudah mau di tutup, nampak Angela dan Kyo berlari keluar dari pintu gerbang.


"Angela, putriku.." gumamnya lirih.


Kenzi terus mempeehatikan putrinya berjalan bersama sahabatnya menuju kedai mie ramen yang tak jauh dari sekolahnya. Kenzi tersenyum mengingat dia juga menyukai mie ramen.


"Ternyata seleramu sama seperti Ayah, Nak."


Air mata Kenzi turun semakin deras, ia semakin terpuruk dalam penyesalannya. waktunya habis percuma hanya bersama wanita penipu itu, bisa bisanya dia terpedaya. Kembali Kenzi merutuki kebodohannya.


"Angela, putriku. Ayah rindu kamu, Nak."


Mata Kenzi melirik ke arah lain, ia melihat anak buah Laila tengah berdiri di luar kedai mie ramen.


"Rupanya mereka benar benar memperdayaku, memberikan cerita palsu kalau keluargaku telah tiada. Selama ini mereka berbohong!" Kenzi memukul stir mobil, terus memperhatikan dari dalam mobil menhawasi Angela dan anak buah Laila.