THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB2



Entah sudah berapa lama Aranza duduk termenung di depan layar monitor. Perlahan ia mengambil ponsel di atas meja. Membuka layar ponsel dan mencari sebuah foto yang lama sudah tersimpan di ponselnya itu.


Pria itu menghela napas panjang, tersungging senyum di sudut bibirnya, menatap lekat foto seorang wanita yang masih ia cintai sampai saat ini.


"Angela, apa kabarmu hari ini? tentu kau sudah bahagia bersama suamimu," gumamnya pelan. "Kau tahu? aku masih merindukanmu, apakah kau juga merindukanku?" Perlahan ia dekatkan ponsel di wajahnya, lalu mencium sekilas foto Angela.


"Andai saja, Papa tidak memaksaku untuk menikahi wanita lain. Mungkin kita masih bersama." Ia menghela napas dalam dalam, membuang rasa sesak di dalam dadanya. "Meski Papa bukan ayah kandungku, dan aku tahu dia jahat. Tapi aku tidak bisa membantah keinginannya."


"Tok tok tok!" suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Ia menutup kembali layar ponselnya dan bersikap normal.


"Masuk!"


Nampak Sean di ambang pintu berjalan menghampiri sembari menarik tangan Ariela.


"Ada apa ini?" tanya Aranza lalu ia berdiri.


"Tanya dia, Pa! Ariela masih saja berhubungan dengan anak itu!" ucap Sean dengan nada tinggi.


Aranza menoleh ke arah Ariela sesaat, lalu beralih menatap kesal Sean. "Lalu apa masalahnya? kenapa kau repot sendiri? Ariela sudah besar."


"Pa! anak ingusan itu bukan anak baik baik!"


"Benarkah? kau tahu dari mana?" tanya Aranza.


"Tidak Pa! Genzo anak baik, bahkan sangat baik," bela Ariela.


"Katakan, siapa orang tua Genzo?" tanya Aranza pada Ariela.


"Dokter Ryu..." ucapnya pelan dengan kepala tertunduk.


"Dokter Ryu?" Aranza berjengkit kaget saat mendengar nama Ryu dari mulut Ariela.


"Papa mengenalnya?" tanya Ariela.


"Tentu saja Papa mengenalnya," ucap Aranza pelan, lalu ia duduk kembali di kursi. Ia termenung sesaat mengingat wajah mereka terutama Angela. "Sean, Genzo anak baik baik. Jangan kau membuat masalah dengannya."


"Pa! kenapa Papa jadi penakut?' umpat Sean.


" Tutup mulutmu Sean! kau tidak tahu apa apa!" bentak Aranza menoleh ke arah Sean.


"Pa! kenapa Papa pilih kasih? aku berhubungan dengan San Cai tidak boleh!" gerutu Sean kesal.


"Sean! San Cai bukan wanita baik baik, dia anak seorang mafia. Papa tidak mau kau terlibat ke dalam dunia mereka!" seru Aranza tak kalah sengit.


Sean tertawa sinis, mengusap hidungnya kasar. "Atau jangan jangan, karena aku hanya anak pungut Papa?" ucap Sean pelan namun jelas terdengar Ariela dan Aranza.


"Sean!" seru Aranza lantang.


"Sudahlah Pa, aku tahu sekarang. Buat apa aku ada di sini." Sean balik badan, lalu beranjak pergi dari ruangan.


"Sean! Papa belum selesai bicara!"


"Pa, sudah Pa.." ucap Ariela menenangkan Aranza.


Aranza menarik napas panjang. Merangkul bahu Ariela dan memeluknya erat.


"Aku mau, kau jadi putri Papa yang baik. Jangan kau ikuti sifat kakakmu itu."


***


Satu minggu pasca di rawat, kondisi wanita itu mulai membaik. Ia terlihat rapi dan cantik, hanya saja trauma yang ia miliki belum pulih. Dan hasil tes DNA yang di minta Genzo, sore ini sudah bisa ia dapatkan hasilnya.


Dokter duduk di sofa bersebelahan dengan Samuel. Sementara Genzo duduk di samping wanita itu, yang tengah memeluk boneka beruang.


"Bagaimana Dok?" tanya Samuel.


Dokter mengambil dokumen di atas meja, lalu di serahkan pada Samuel.


"Ini hasilnya."


Samuel menerima dokumen itu, ia membukan dan membaca dengan teliti kecocokan DNA Genzo dan wanita itu. Perlahan tapi pasti, senyum mengembang terukir dari bibir Samuel.


"Paman Besar?" sapa Genzo.


"Paman besar, ada apa?" tanya Genzo sudah tidak sabar lagi.


"Tidak salah lagi, Tuan Muda." Samuel mengusap kedua matanya. "Ini, Nona Aira!"


"Apa? jadi dugaanku benar? Kakak Aira?!"


"Iya, Tuan Muda!" sahut Samuel senang.


"Kak, Aira!" peluk Genzo erat. "Akhirnya aku menemukan satu anggota keluargaku," ucap Genzo terisak.


"Tuan Muda, selamat ya." Samuel menepuk pundak Genzo pelan.


"Kak Aira...maafkan aku..maaf aku telat menemukanmu." Genzo terus memeluk Aira, sampai rasa sesak di dalam dadanya berkurang. Perlahan ia melepaskan pelukannya, membenarkan rambut di wajah Aira. "Kak, sekarang kau aman bersamaku."


"Dokter, apa yang menyebabkan Nona kami seperti ini?" tanya Cristoper sembari duduk di sofa.


"Nona Aira mengalami hal yang buruk, sepertinya Nona mengalami kekerasan." Jelas Dokter.


"Kekerasan?" ucap Genzo menatap ke arah Dokter.


"Benar Tuan!" sahut Dokter.


"Ya Tuhan, apa yang telah menimpa Paman Jiro dan Tante Zoya," ucap Genzo kembali memeluk Aira.


"Tuan Muda, tenanglah. Aku berjanji akan menemukan keluarga anda secepatnya." Samuel berdiri lalu beranjak pergi, ia tidak tahan melihat kesedihan yang di rasakam Genzo. Bagaimana tidak? Samuel satu satunya saksi sejarah kehidupan keluarga Kenzi dan Siena.


"Paman Besar."


Samuel menoleh ke arah suara. Ia melihat Genzo sudah berdiri di belakangnya.


"Tuan Muda."


"Ceritakan padaku, Paman besar. Siapa Ayahku, Ibuku, Kakek dan Nenekku? aku ingin tahu Paman besar."


"Tuan Muda, kemarilah."


Samuel merangkul bahu Genzo dan mengajaknya duduk di kursi. Menghela napas panjang, tersenyum tipis, matanya menerawang. Semua peristiwa jelas masih terekam di kepalanya. Ia ceritakan semua peristiwa tanpa ada yang terlewatkan sama sekali. Bagaimana perjuangan Kenzi, bagaimana perjuangan Siena mempertahankan keluarganya tetap utuh, berkorban demi kebahagiaan putra putrinya. Kenzi dan Siena banyak mengajarkan apa itu bahagia, apa itu derita. Keluarga, persahabatan, perjuangan hidup, salah dan benar. Hingga kedua hal itu bagaikan dua sisi mata koin yang tak dapat di bedakan lagi.


Genzo tersenyum bangga, memiliki seorang nenek yang luar biasa, dari wanita biasa menjadi luar biasa karena terpaan kehidupan yang enggan berpihak padanya. Genzo bangga pada sang ayah, yang begitu gigih mempertahankan apa yang di anggapnya benar, berjuang menyatukan keluarganya.


"Ayah..Ibu.." ucap Genzo lirih.


"Kau putra Ryu yang hebat, kau juga cucu kakek dan nenekmu yang hebat. Paman yakin, kau bisa setangguh mereka," ucap Samuel mengusap lembut rambut Genzo.


"Iya Paman besar!" sahut Genzo tersenyum mengembang.


***


Keesokan paginya, seperti biasa Genzo sudah bersiap siap untuk berangkat sekolah, tapi kali ini ada yang beda. Sebelum ia berangkat sekolah, Genzo menyempatkan diri menemui Aira di kamarnya. Gadis itu tengah duduk di depan kaca jendela yang terbuka memeluk boneka beruang yang tak pernah ia lepaskan.


"Kak Aira.." sapa Genzo jongkok di hadapannya. "Aku sekolah dulu, kakak baik baik di rumah ya. Tunggu aku pulang, nanti kita main bersama," ucap Genzo mengusap lembut pipi Aira.


Gadis itu hanya diam memperhatikan Genzo, kemudian menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang di ,katakannya. Genzo tersenyum, kembali berdiri tegap. Kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar Aira, untuk segera berangkat kesekolah. Kali ini Genzo memilih membawa mobilnya sendiri, tanpa pengawasan Cristoper. Cristoper sendiri, tengah menyelidiki perusahaan di mana Jiro bekerja.


Tak butuh waktu lama, Genzo telah sampai di area parkir sekolah. Ia keluar dari pintu mobil, dan mendapati Alexa sudah menunggunya untuk masuk ke dalam kelas bersama. Tidak hanya Alexa yang menunggu, nampak Ariela tengah berdiri tak jauh dari tempat Genzo berdiri.


"Ariela, selamat pagi." Sapa Genzo.


"Pagi!" sahut Ariela menundukkan kepala.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Genzo.


"Tidak ada!" sahut Ariela lalu ia berlalu begitu saja dari hadapan Genzo.


"Perempuan memang aneh, di sapa salah, tidak di sapa juga marah. Di diamkan merajuk, di perhatikan katanya berlebihan." Gumam Genzo tertawa kecil, menggelengkan kepalanya, lalu ia menghampiri Alexa.


"Kau sudah lama menungguku? lain kali kau tidak perlu menungguku," ucap Genzo lembut.


"Oke!" sahut Alexa, terus berlari meninggalkan Genzo.


"Aku salah lagi ya?" ucapnya tertawa kecil menatap punggung Alexa yang berlari meninggalkannya.