THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Keesokan paginya, mereka kembali ke sekolah seperti biasa. Cristoper menunjukkan tempat tinggal yang baru untuk Alexa sebelum mereka pergi ke sekolah. Setelah itu, Cristoper kembali menjalankan mobilnya menuju sekolah.


Sepanjang perjalanan, Alexa hanya diam. Menundukkan kepalanya sembari mendekap erat buku yang ia pegang. Genzo ikut diam, namun sesekali ia melirik ke arah Alexa. Hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang sekolah.


Dari kejauhan, nampak Ariela tengah menatap iri pada Alexa yang keluar dari pintu mobil mewah milik Genzo.


"Lihat, anak baru itu mulai berani. Dasar cupu!" umpat Ariela menatap benci Alexa yang berjalan bersama Genzo.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya dua temannya serempak.


"Kita lihat nanti, pas jam istirahat," bisik Ariela kepada dua temannya. "Ayo kita masuk kelas!" perintah Ariela kepada dua temannya.


***


Bel berbunyi, tanda jam istirahat. Seperti biasa semua murid berhamburan keluar dari kelas menuju kantin.


Genzo dan Kitaro berjalan bersama menuju kantin. Sementara Alexa masih berada di dalam kelas. Saat gadis itu hendak keluar dari ruangan. Tiba tiba saja Ariela dan dua temannya menghadang di depan pintu kelas.


"Ikut aku, cepat!" Ariela dan dua temannya mencengkram lengan Alexa lalu mengajaknya ke taman belakang sekolah.


"Apa salahku?" tanya Alexa ketakutan


"Hei cupu! Tunjuk Ariela ke kening Alexa dan menekannya ke belakang. " Berani sekali kau dekati Genzo!"


"Aku tidak mendekatinya, aku-?"


"Dasar pembohong!" potong Ariela marah. "Anak cupu, sialan! Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa?"


Alexa menggelengkan kepalanya, ia menundukkan kepala sesekali membenarkan letak kaca mata tebal yang ia kenakan.


"Ayahku seorang pejabat, dan kau tahu? Dia pemegang saham terbesar di Asia! Serunya bangga.


Alexa hanya diam, ia begidik saat Ariela menekan keningnya dengan telunjuk.


"Kau tahu siapa Papaku?" tanya Ariela semakin angkuh. "Percuma aku kasih tahu, kau anak cupu, bodoh!" umpatnya lagi.


"Sudahlah Ariela, cepat ikat dia. Jam istirahat sebentar lagi selesai, aku tidak bisa makan siang dong!" usul salah satu temannya.


"Oke! Kemarikan talinya!" perintah Ariela pada dua temannya.


"Matilah kau, cupu!" pekik Ariela lalu mereka berjalan mundur dan berlari, tertawa terbahak bahak, meninggalkan Alexa dalam keadaan terikat di pohon. Sementara ular kobra itu mulai berjalan menghampiri kaki Alexa yang mulai gemetar ketakutan.


"Ya Tuhan, apa salahku? Kenapa mereka jahat padaku," gumamnya litih, kepalanya tertunduk memperhatikan ukar kobra yang semakin mendekat.


"Tolong! Tolong!" jerit Alexa.


Namun tak seorang pun mendengar teriakannya, ia semakin ketakutan saat kedua ular itu tepat di dekat kakinya. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya dengan tatapan ke arah dua ular itu.


"Ibu, andai kau masih hidup, mungkin aku tidak akan sengsara seperti ini," ucapnya lirih. "Ya Tuhan! Toloooongg!" sekali lagi Alexa menjerit.


"Diam dan jangan bergerak." Bisik seseorang dari arah belakang, suara khas yang ia kenali.


"Genzo," ucapnya pelan. "Tolong aku."


"Tenanglah, jangan bergerak." Bisik Genzo di belakang pohon.


Alexa menganggukkan kepalanya, matanya melirik ke arah samping. Ia memperhatikan Genzo mulai menjauh dan berputar arah.


Hanya dengan sebilah ranting yang berukuran sedang dan panjang, ia mulai mengalihkan perhatian kedua ular itu. Awalnya ia tidak berhasil, namun dengan kesabaran. Usahanya membuahkan hasil, kedua ular itu mulai mengikuti pergerakan ranting yang Genzo pegang dan di pukulkan pelan ke rumput. Setelah merasa cukup jauh membawa kedua ular itu menjauh dari Alexa. Genzo berlari mendekati Alexa dan membuka tali yang melilit tubuhnya.


"Terima kasih, aku berhutang nyawa padamu," ucap Alexa terisak lalu memeluk erat tubuh Genzo.


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku tahu siapa pelakunya, mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal," gerutu Genzo marah.


Genzo menarik tangan Alexa, berjalan bersama menuju kelas di mana Ariela berada.


"Genzo, lebih baik kita ke kelas, jangan temui Ariela," ucap Alexa di sela sela langkahnya.


"Kenapa? dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya?" tanya Genzo melirik sesaat ke arah Alexa.


"Sudahlah!" seru Alexa menepis tangan Genzo. Ia terdiam menatap raut kebingungunga pemilik wajah rupawan di hadapannya.


"Percuma kau lakukan itu, yang ada Ariela akan semakin membenciku dan mencelakai aku. Aku tidak mau hal itu terjadi, aku mohon jangan dekat dekat aku lagi. Ariela bisa marah, Genzo!" ungkap kekesalan Alexa, lalu gadis itu berlari mendahului Genzo yang masih berdiri terpaku menatap kepergiannya.


"Hh, perempuan selalu sulit untuk di mengerti. Di tolong salah, di biarkan apalagi," gumam Genzo pelan.