THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 3



Sore itu, Genzo baru saja pulang dari aktifitasnya. Ia terkejut melihat raut wajah Davira dan Ryu yang terlihat marah.


"Ayah, Ibu? kalian kenapa?" tanya Genzo menatap bingung keduanya.


"Ini apa??" Davira menunjukkan dua botol obat ibu hamil di tangannya.


"Apa ini?" tanya Genzo balik, mengambil dua botol obat itu dan memperhatikannya.


"Itu obat obatan buat ibu hamil." Jawab Davira.


"Ibu hamil? Ibu dapatkan dari mana? dan siapa yang hamil? Ibu hamil?"


"Bukan aku yang hamil, tapi Althea!" sahut Davira kesal.


"A, Althea? Ibu, aku bisa jelaskan!" Genzo meletakkan obat itu di atas meja, lalu meraih kedua tangan Davira, namun sang ibu menepisnya.


"Aku tidak butuh penjelasanmu, yang aku pertanyakan. Mengapa kau mempermainkan sebuah ikatan pernikahan? mengapa kau dengan mudah menikahi perempuan lalu membuangnya? kenapa kau anggap semua itu lelucon hanya sebatas perjanjian di atas kertas dan materi? siapa yang mengajarimu seperti itu!!" seru Davira meluapkan kekecewaannya.


"Tenanglah, biarkan putra kita bicara. Kau dengarkan dulu penjelasannya. Kau lupa? hidup kita, putra kita, itu semua tidak mudah!" Bela Ryu yang coba menengahi.


Genzo menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di kaki sang Ibu, wajahnya tengadah menatap sedih Davira.


"Aku kalut, aku bingung, aku kesepian, aku rindu kalian. Aku hampir putus asa mencari keberadaan kalian, aku berjuang sendiri untuk bangkit, ayah..ibu.." ucap Genzo lirih.


"Bangunlah Nak.." Davira mengangkat tubuh Genzo supaya berdiri lalu memeluknya dengan erat. "Maafkan Ibu.."


"Aku memang salah, tapi aku sudah berusaha untuk bertanggung jawab." Genzo melepas pelukan Davira.


"Althea masih istrimu, dia dalam keadaan hamil. Kau tidak bisa menceraikannya begitu saja." Timpal Ryu.


"Tapi aku tidak mencintainya, Ayah.."


"Alexa? wanita itu lagi bukan? Alexa! Alexa terus! dia bukan wanita yang pantas untukmu Nak!" sela Davira.


"Ibu, aku-?"


"Cukup!" potong Davira marah. "Aku sudah memerintahkan Joe untuk membawa Althea pulang."


"Ibu-?"


"Jadilah pria yang baik dan bertanggung jawab, jangan pernah menyakiti dan menginjak injak harga diri seorang wanita. Kau terlahir dari seorang wanita, dan semua wanita di dunia ini adalah calon Ibu." Jelas Ryu, sambil menepuk bahu Genzo.


Genzo hanya bisa diam, tidak dapat ia pungkiri semua kata kata Ibu dan Ayahnya benar, tapi rasa cinta yang ia miliki hanya untuk Althea.


***


Berhari hari Davira, Ryu menunggu kabar Joe dan anak buahnya, akhirnya membuahkan hasil. Di hari yang ke enam, Joe berhasil membawa pulang Althea dalam keadaan sakit. Joe langsung membawa Althea ke hadapan Ryu dan Davira.


"Nyonya, ini Nona Althea."


Althea tersenyum, membungkukkan badan sesaat. "Selamat siang Nyonya, Tuan."


"Panggil aku, Ibu..sekarang aku, Ibumu dan ini Ayahmu juga." Davira memperkenalkan diri lalu memeluk Althea sekilas.


"Nyonya..maaf..Bu..untuk apa aku di panggil kemari lagi?" tanya Althea antara senang dan sedih campur aduk.


"Kau menantuku, dan kau istri putraku. Bagaimana mungkin aku membiarkan kau di luar sana sementara dalam perutmu ada cucuku." Ungkap Davira tangannya terulur mengusap perut Davira yang masih terlihat rata.


"Joe, panggil Dokter!" perintah Ryu.


"Baik Tuan!" sahut Joe.


"Ayo ikut aku, kau harus di periksa. Tubuhmu kurus dan tak terawat."


Davira merangkul bahu Althea dan membawanya ke kamar pribadi Genzo.


"Mulai sekarang kau tidur di sini, dan jangan bantah perintahku." Davira membantu Althea naik ke atas tempat tidur lalu membaringkannya.


"Tapi Bu-?"


"Diam dan istirahat, tunggu Dokter datang."


Althea menganggukkan kepalanya, ia tersenyum memperhatikan Davira dan Ryu keluar dari kamar.


"Ya Tuhan, apalagi ini?" ucapnya pelan.