
Siena dan yang lain menunggu kepulangan Kenzi dan cucunya, Genzo. Sejak mendapatkan telepon dari sopir pribadi Genzo. Membuat mereka tidak tenang, dan Kenzi pun menyusulnya.
"Ibu tenanglah, aku yakin mereka baik baik saja," ucap Jiro menenangkan Siena yang terlihat gelisah duduk di sofa.
"Aku tahu Nak, tapi ayahmu sudah tidak muda lagi," jawab Siena menatap Jiro dan Zoya bergantian.
"Grandma!"
Siena menoleh ke arah suara, matanya berbinar saat melihat Genzo dan Kenzi sudah pulang. Ia berdiri dan merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh Genzo yang menubruknya dan memeluk erat.
"Sayang, kau baik baik saja? pakaianmu basah?" tanya Siena melepas pelukannya, menangkup wajah Genzo.
"Aku baik baik saja, Grandma!" sahut Genzo kembali memeluk Siena. Matanya melirik ke arah Jiro dan Zoya yang berdiri di samping Siena.
"Kalian?" tunjuk Genzo ke arah mereka berdua.
"Genzo, sayang. Mereka Om dan Tante, orang tua Aira." Siena menceritakan semuanya pada Genzo.
"Syukurlah, akhirnya kita semua bisa berkumpul lagi," ucap Genzo tersenyum, lalu memeluk Jiro dan Zoya bergantian.
"Kau memang hebat, Nak," ucap Zoya mencium kening Genzo.
"Untung saja aku tidak datang terlambat," sela Kenzi.
"Ada apa Ayah?" tanya Jiro.
"Ayah duduk dulu, aku buatkan teh hangat," ucap Zoya, lalu ia berlalu menuju dapur.
Kenzi duduk di sofa, di ikuti yang lain. Kemudian ia menceritakan apa yang terjadi pada Genzo. Andai saja Kenzi telat datang, mungkin Genzo sudah di bawa mereka. Beruntung datang bantuan dari Aranza.
"Aranza?" ucap Siena. Ia teringat dengan Aranza, kekasih Angela dulu. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. "Orang di masa lalu, datang kembali di kehidupan cucuku. Angela, kau di mana sayang, aku sangat merindukanmu."
"Grandma, jangan menangis. Aku pasti menemukan Tante Angela." Genzo ikut terisak melihat Siena menangis, tangannya terulur mengusap air mata di pipinya. "Aku juga merindukan ayah dan ibu!" Genzo kembali memeluk Siena erat, dan menangis dalam pelukannya.
Kenzi berdiri, menghampiri mereka berdua, lalu duduk di sebelah Genzo. Memeluk merdka berdua. "Maafkan aku, Nak. Ini semua kesalahanku di masa lalu. Kau ikut menanggung ini semua."
Genzo membiarkan dirinya di peluk Siena dan Kenzi. Pelukan hangat, kasih sayang kedua orang tua, yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Kini ia rasakan kembali dari nenek dan kakeknya.
"Bukan salah, Grandpa. Jangan bicara seperti itu, aku sayang kalian semua," sahut Genzo semakin terisak.
"Ayah, tehnya. Genzo, di minum teh nya dulu. Terus kau ganti pakaianmu." Zoya meletakkan nampan di atas meja.
"Ganti pakaianmu dulu," sela Siena melepas pelukannya
Genzo menganggukkan kepalanya, lalu ia mengambil gelas teh di atas meja, menyecapnya perlahan. "Terima kasih." Ia letakkan kembali gelas di atas meja. Lalu bergegas menuju kamar pribadinya.
Bayangan wajah kedua orangtuanya terbayang di benaknya. Tujuh belas tahun menanti, berharap dan terus menunggu mereka pulang, tak pernah sirna di hati Genzo.
***
Malam tiba, sesuai janji Aranza untuk memenuhi undangan makan malam. Ia dan Ariela datang ke rumah Ryu malam itu juga. Dan di sambut hangat oleh Kenzi dan Siena.
Kenzi menjamu mereka dengan hidangan makan malam yang lezat.
Setelah mereka menyantap makan malam, Kenzi dan yang lain berbincang bincang. Sementara Genzo dan Ariela, berbincang di teras rumahnya.
Kenzi membuka obrolan dengan meminta informasi yang di janjikan Aranza tadi siang. Namun sebelum Aranza menjawab, ia terlebih dahulu menjawab pertanyaan Siena. Tentang keberadaannya yang menghilang di masa lalu.
Aranza menceritakan pada mereka semua, kalah dirinya menikah dengan wanita yang di jodohkan Avram. Selain itu, ia juga mencari keberadaan orangtua kandungnya di Negara lain.
"Jadi? info apa yang bisa kau berikan pada kami?"
Aranza menduga, hilangnya Ryu dan Davira. Ada hubungannya dengan projek yang akan di lakukan ayahnya dulu namun berhasil di gagalkan Kenzi waktu itu.
"Jadi? mereka hendak menghancurkan kota ini?" tanya Kenzi tidak percaya ada yang bisa menyelesaikan materi atom itu.
"Aku yakin, Dokter Ryu yang bisa menyelesaikannya. Sehingga mereka menculik Dokter Ryu dan Davira. Ini semua, ada hubungannya dengan penculikan kalian untuk menekan Dokter Ryu." Ungkap Aranza.
"Aku paham sekarang," sahut Jiro.
"Jika itu memang benar, kita harus bergerak cepat untuk menyelamatkan putra putriku," sela Kenzi.
"Aku bisa membantu kalian, jika di izinkan." Pinta Aranza.
"Tentu, aku membutuhkan banguanmu." Sambung Siena.
"Tapi ada hal yang lebih penting," ucap Kenzi.
"Apa?" tanya Siena menoleh ke arah Kenzi.
"Genzo, mereka mengincar cucu kita. Genzo satu satunya yang akan membuat Ryu menyerah."
"Kau benar, sayang." Siena menganggukkan kepalanya, tanda ia mulai mengerti dan titik terang jalan keluar semakin terbuka lebar.
Kemudian Kenzi meminta Cristoper dan anak buahnya menjaga Genzo dengan ketat. Tidak hanya itu, ia juga meminta anak buahnya yang bisa di andalkan untuk mencari keberadaan lokasi di mana mereka menyekap Angela.
Rencana di buat sematang mungkin, jika keberadaan Angela sudah di ketahui, dan mereka akan menyerang secara diam diam. Untuk menghindari pertumpahan darah lebih banyak lagi seperti masa lalu. Apalagi, kondisi Kenzi dan Siena tidak semuda dulu. Bukan berarti mereka tidak bisa di andalkan lagi.