
Hari berlalu, bulanpun berganti sejak Davira melahirkan putra pertama mereka yang di beri nama Genzo. Mereka pun mengunjungi Siena dan Kenzi ke Indonesia saat usia Genzo menginjak satu tahun.
Di kediaman Kenzi dan Siena, mereka saling melepas rindu. Tawa dan canda terlontar indah di meja makan. Namun sayang, kali ini keluarga kecil Siena berkumpul tanpa kehadiran Angela dan Jiro, di karenakan kesibukan yang padat, mereka tidak dapat ikut mengunjungi Kenzi dan Siena.
Siena duduk di samping Ryu sembari merangkul bahunya dan mendekapnya erat. Davira duduk di sebelah kiri Siena sementara Kenzi duduk di kursi lain sembari menggendong Genzo kecil yang tertidur pulas di pangkuannya.
Ryu menceritakan banyak hal kepada kedua orang tuanya. Dari soal pekerjaan sampai kebiasaan putranya Genzo. Tidak ada satupun yang terlewati, hingga puncak pembicaraan Ryu menyingggung soal penawaran para mafia yang ingin bekerja sama dengannya. Sempat membuat Siena atau Kenzi terkejut, namun mereka kembali terlihat normal.
"Memimpin sebuah perusahaan atau sebuah organisasi dengan ribuan anak buah itu mudah. Sesulit apapun selalu ada jalan keluarnya. Karena masalahnya di ukur sebatas aturan dan ketentuan yang di buat secara hitam dan putih. Tapi keberhasilan seorang pria di mata publik, di ukur sejauh mana dia mampu memimpin keluarganya agar tetap utuh," ucap Siena panjang lebar memberikan pesan dan kesan untuk Ryu.
"Kau benar, Ibu." Sahut Ryu tersenyum menatap kedua bola mata Ibunya.
"Semua pria maupun wanita pasti akan selalu berjuang untuk keluarganya, dan kau tahu? kita semua tahu bukan? memimpin sebuah keluarga itu jauh lebih sulit dari pada memimpin sebuah perusahaan dengan ribuan anak buah?"
Ryu menganggukkan kepalanya, ia sangat mengerti apa yang di ucapkan Siena.
"Kau tidak perlu khawatir, yang terjadi biarkan terjadi. Yang hilang biarkan pergi, hiduplah apa adanya dan biasa saja. Supaya hatimu tenang, dan tidak terluka." Tunjuk Siena ke dada Ryu.
"Ibu, aku selalu merindukanmu.." ucap Ryu memeluk erat Siena. "Semua pesanmu akan selalu kuingat Ibu.."
"Kau, putra Ibu yang terbaik. Tapi bukan berarti Angela dan Jiro bukan yang yang terbaik. Kalian putra dan putri Ibu yang hebat," ucap Siena bangga.
"Ayah tidak bisa lagi terus ada di sampingmu Nak. Pesan Ayah, jauhi dunia hitam sebisamu. Tapi jika Yang Maha Kuasa berkehendak lain, ikuti saja alur yang ada."
"Baik Ayah, aku akan selalu mengingat pesan kalian semua." Sela Davira yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
Perbincangan hangat terus berlanjut hingga larut malam. Satu minggu sudah Ryu dan kuarga kecilnya menginap di rumah orang tuanya. Besok hari terakhir, dan mereka harus kembalu ke Hongkong.
Ryu tidak ingin melewati barang sedetikpun momen kebersamaannya bersama kedua orangtuanya. Setiap hari ia bermanja, diskusi dan meminta saran saran baik dari Siena atau Kenzi. Dari dulu sampai sekarang, Ryu yang paling dekat dengan Kenzi dan Siena. Dia juga yang paling keras kepala jika apa yang di yakininya itu benar.
Keesokan paginya, Ryu dan Davira bersiap siap untuk kembali ke rumahnya. Setelah selesai, Kenzi dan Siena mengantarkan mereka ke Bandara.
"Jaga diri kamu baik baik sayang, kalau ada apa apa, tolong hubungi kami."
"Iya Ayah!" sahut Ryu lalu memeluk erat Kenzi dengan segenap perasaan yang ia miliki.
"Ada saatnya kita bersama, ada saatnya kita berpisah. Besok atau lusa, kita yang di tinggalkan atau kita yang meninggalkan," ucap Siena lalu bergantian memeluk Ryu dengan erat. Bergantian bersama Davira juga mendapat pelukan cinta dari kedua orang tua Ryu.
"Jaga diri Ibu dan Ayah, kami pulang."
Ryu dan Davira melambaikan tangannya, menatap Kenzi dan Siena saling merangkul satu sama lain. Air mata turun membasahi pipi mereka, saling melepas satu sama lain. Ada pertemuan sudah pasti ada perpisahan.