THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Bel berbunyi tanda jam pelajaran telah selesai, semua murid berhamburan keluar kelas untuk kembali ke rumah masing masing. Genzo dan tiga sahabatnya, keluar dari dalam kelas paling terakhir.


"Siang ini kita mengerjakan tugas di rumah siapa?" tanya Alexa menatap ke arah tiga sahabatnya.


"Bagaimana kalau di rumahku saja!" usul Ariela.


"Aku setuju!" sahut Kitaro.


"Bagaimana denganmu?" tanya Ariela menoleh ke arah Genzo.


"Terserah kalian, aku ikut saja." Timpal Genzo, matanya memperhatikan sekitar halaman. Ia merasa ada orang tengah memperhatikannya.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!"


Ariela menarik tangan Alexa, lalu mereka semua berjalan bersama menuju parkiran.


"Tuan Muda, Anda hendak pergi ke mana?" tanya sopir pribadinya.


"Paman, aku mau mengerjakan tugas dari Guru." Jawab Genzo.


"Aku ikut bersamamu ya!" Kitaro langsung membuka pintu mobil milik Genzo dan duduk dengan manis.


"Kalian ikut bersamaku juga, biar Ariela yang kasih petunjuk jalannya," usul Genzo.


"Baiklah, ayo!" Ariela masuk ke dalam mobil, duduk bersebelahan dengan Kitaro. Sementara Alexa duduk di depan.


"Paman, kau pulanglah. Biar aku sendiri yang bawa mobilnya."


"Tapi Tuan Muda?"


"Paman tidak perlu khawatir, aku bisa jaga diri!" sahut Genzo lalu ia membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Alexa.


Sopir pribadi Genzo langsung menghubungi Kenzi, saat mobil mulai melaju meninggalkan sekolah.


Sepanjang perjalanan, mereka berbincang tentang cita cita mereka setelah lulus sekolah nanti. Sementara di belakang mereka, beberapa mobil penguntit mengikuti mereka dari belakang tanpa mereka sadari. Tak lama kemudian, hujan turun dengan sangat deras.


Tepat di jalan yang sepi pengendara, mobil yang mengikuti mereka mulai mengepung dari arah kanan dan kiri. Genzo yang menyadari adanya bahaya, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Genzo! pelankan mobilnya!" teriak Alexa berpegangan pada sabuk pengaman yang ia gunakan.


"Ada apa?" tanya Ariel menarik kerah baju Genzo.


"Apa kau tidak lihat?" jawab Genzo terus fokus ke depan.


Ariela, Kitaro dan Alexa menoleh ke belakang. Dan benar saja, mereka tengah di ikuti.


"Genzo ayo cepat kita pergi dari sini!" pekik Ariela menarik kerah baju Genzo lagi.


"Tenanglah, kalian jangan panik!" sahut Genzo.


Ia membanting mobil ke kanan, hingga terjadi gesekan antara mobilnya dan mobil musuh. Guncangan keras terasa oleh mereka. Ariela dan Alexa menjerit, namun detik berikutnya mereka tertawa.


"Brakkkk!! terdengar suara tubrukan mobil, saat Genzo membanting mobilnya ke kiri.


"Kau gila Genzo!! seru Kitaro.


"Siapa suruh mereka cari gara gara!" gerutu Genzo, matanya menatap tajam ke depan saat dua mobil menghalangi jalan. "Kalian semua pegangan!


" Brummmm!!!


Genzo menginjak gas, dengan kecepatan tinggi mobil melaju dan menabrak dua mobil musuh yang berada di depan.


"BRAKKK!!


Guncangan keras terdengar memekakkan telinga. Kedua mobil itu terguling dan menabrak pengendara lain.


" Hahaha! Genzo dan tiga sahabatnya tertawa, jiwa muda, semakin menantang adrenalin mereka. Bukan rasa takut yang mereka rasakan, tapi sensasi kepuasan saat mereka berhasil menaklukkan lawan.


Hujan semakin deras, dua mobil tersisa masih mengikuti mereka. Jarak pandang karena pekatnya hujan membuat jarak pandang semakin pendek. Di ujung jalan Genzo harus menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Ciiiiittt!! terdengar suara gesekan ban mobil dan jalan aspal.


" Ada apa?" tanya Kitaro.


Mereka semua menatap ke depan. Nampak sekelompok orang menghalangi jalan dengan persenjataan lengkap di tangan mereka masing masing. Tidak hanya itu, kendaraan mereka sengaja terparkir di tengah jalan untuk menghentikan mobil Genzo.


"Bagaimana ini?" tanya Ariela.


"Ariela, Kitaro, kalian berpegangan yang kuat! kita tidak mungkin keluar menghadapi mereka!" perintah Genzo.


"Baik!" sahut Ariela.


Genzo kembali fokus kedepan, selain jarak pandang yang pendek. Ia harus berhati hati, jangan sampai membahayakan tiga sahabatnya.


"BRUMMMM!!!


Mobil Genzo kembali melaju dengan kencang, menabrak sekelompok pria di depan.


"BRAKKKKK!! Terjadi tabrakan mobil, sekelompok pria itu menghindari mobil milik Genzo yang kembali mundur ke belakang, namun pergerakannya semakin sulit. Dari arah belakang, tiga mobil menghadang laju mobilnya.


" BRAKKK!! Terjadi benturan lagi.


"Kalian tenang saja!" sahut Genzo. Ia nekad menjalankan mobilnya berputar dan menabrakkan mobilnya ke segala arah. Membuat sekelompok pria itu kehabisan akal untuk memaksa Genzo keluar dari mobilnya.


"DORRRR!!!


Mereka menghujani mobil Genzo dengan peluru, yang terus menabrakkan mobilnya ke segala arah.


"DOR DOR DOR!!!


Ariela dan Alexa menjerit saat peluru terus menghujani, namun tak satupun menembus kaca mobil milik Genzo. Hingga akhirnya, Genzo harus menyerah. Saat mobilnya terhimpit oleh mobil musuh dari segala sisi.


" Ayo cepat keluar!" perintah salah satu pria mengarahkan senjata api pada kaca mobil. Genzo paham, jika mereka terus terusan menembak kaca mobil di satu titik. Bisa membuat pecah kaca mobil meski anti peluru.


"Kalian jangan keluar, biar aku saja!" perintah Genzo.


"Tidak, kita semua ikut. Kita sahabat Genzo, aku tidak mau terjadi apa apa denganmu," sahut Kitaro dan dua sahabatnya.


"Aku bilang jangan! bentak Genzo. Lalu ia keluar dari pintu mobil sendirian dengan kedua tangan di angkat ke atas.


" Tuan Muda, sebaiknya kau ikut bersama kami. Dan kami akan membiarkan ketiga sahabatmu itu!" ancam salah satu pria dengan senjata api di arahkan pada Genzo.


"Baik, aku ikut kalian!


Genzo melangkahkan kakinya mengikuti perintah pria tersebut. Dari arah lain terdengar suara benturan keras dan peluru yang berseliweran. Genzo merunduk, dan mendorong pria itu menggunakan kepalanya hingga terjungkal kebelakang. Dengan sigap, Genzo memanfaatkan situasi. Ia merebut senjata api milik pria itu, lalu memukul pria itu menggunakan ujung senjata api laras panjang berkali kali hingga tak sadarkan diri.


Kemudian ia berlari dan bersembunyi di balik mobil yang terbalik. Ia memperhatikan siapa yang telah menolongnya dari situasi terjepit.


"Grandpa! paman!" pekik Genzo senang, lalu ia berlari dari satu mobil ke mobil lain. Lalu ia melesatkan peluru ke arah musuh, satu persatu musuh tumbang. Jarak pandang yang pendek akibat hujan, mulai berkurang. Hujan berhenti, dan memudahkan Genzo mengenali musuhnya. Ia alihkan pandangan ke sisi lain, nampak seorang pria paruh baya menghabisi musuh tanpa ampun.


"Bukankah, itu Papa nya Ariel" ucap Genzo pelan.


Genangan air di jalan berubah warna merah darah, mayat bergelimpangan di jalan. Asap mengepul yang keluar dari mobil yang terbakar. Suara ledakan mobil dan peluru berseliweran mulai mereda. Genzo dapaf bernapas dengan lega. Pasukan Kenzi dan Aranza berhasil melumpuhkan musuh.


"Papa!! pekik Ariela keluar dari dalam mobil menghampiri Aranza dan memeluknya erat. Kemudian Alexa dan Kitaro keluar dari dalam mobil menghampiri Genzo dan yang lain.


" Grandpa! Paman!" panggil Genzo menghampiri Kenzi dan Samuel.


"Sayang, kalian tidak apa apa?" tanya Kenzi menatap Genzo dan sahabatnya


"Aku baik baik saja, Granpa!" sahut Genzo.


"Tuan Kenzi! apa kabar!" sapa Aranza berjalan mendekati Kenzi sambil terus memeluk Ariela.


"Aranza? kaukah itu?" tanya Kenzi, tidak percaya bertemu dengan Aranza yang selama ini di kabarkan menghilang. Dan para mafia menuduh Kenzi yang telah melenyapkan Aranza.


"Kabarku baik Tuan Kenzi, bagaimana dengan Angela?" tanyanya.


"Angela-?" Kenzi tidak meneruskan ucapannya.


"Nona Angela menghilang sejak tujuh belas tahun yang lalu," sela Samuel.


"Menghilang? Aranza terkejut mendengar kabar tentang wanita yang ia cintai sejak dulu. Bahkan rasa cintanya masih tetap utuh dan terjaga di dalam hatinya hanya untuk Angela, meski ia telah menikahi wanita lain.


" Benar!" sahut Kenzi.


"Apa ada hubungannya dengan pekerjaan Ryu?" tanya Aranza lagi.


"Mungkin!" sahut Kenzi.


"Tuan, sebaiknya kau mampir ke rumahku di ujung jalan sana! tunjuk Aranza ke ujung jalan. " Mungkinz aku bisa memberikan sedikit informasi. Sekalian kalian mengeringkan pakaian." Usul Aranza.


"Tidak, terima kasih. Kami pulang saja. Aku mengundangmu makan malam di rumah kami." Kenzi tersenyum pada Aranza.


"Baiklah!" Aranza membungkukkan badannya sesaat.


"Genzo, ayo kita pulang. Sam, kau antarkan sahabat cucuku pulang ke rumahnya masing masing!" perintah Kenzi.


"Baik Tuan!" sahut Samuel.


"Genzo! sampai ketemu besok!" Ariela melambaikan tangannya pada Genzo dan dua sahabatnya.


"Oh, jadi dia? Genzo yang kau sukai? pantas saja, Papa setuju!" goda Aranza memperhatikan Genzo dan yang lain meninggalkan tempat itu.


"Papa! sekarang aku dan mereka berteman!" sungut Ariela mencubig gemas perut Aranza.


"Hahaha!" Aranza tertawa melihat raut wajah Ariela yang cemberut. "Ayo kita pulang!"



Alexa



Ariela



Genzo