
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Siena punya ide bagus untuk mempertemukan Ryu dengan keluarganya. Akhirnya mereka memutar arah menuju rumah Siena.
"Tante, rumah ini sangat kecil. Bagaimana kalau kita sudah kumpul. Semuanya pindah di rumah Ryu?' usul Zoya.
" Tentu sayang, Ibu setuju."
Kedua wanita itu mulai membuat makanan untuk menyambut keluarga mereka yang terpisah satu sama lain.
"Ibuuu! aku pulang!"
"Tante, suara siapa itu?" tanya Zoya heran.
"Angela, putriku yang dulu masih dalam kandungan." Siena tersenyum, menatap ke arah pintu dapur. Menatap ke arah Angela yang berjalan menghampiri mereka.
"Halo." Angela menyapa menatap ke arah Zoya.
"Sayang, ini kak Zoya. Pacarnya kak Jiro." Siena menimpali.
"Kak Zoya yang di ceritakan kakak, Bu? cantik, pantas saja kak Jiro masih setia." Angela berdiri di samping Zoya yang menundukkan kepala, tersipu malu.
"Kakak, aku Angela. Putri Ibu Siena yang paling cantik." Angela merentangkan kedua tangannya memeluk Zoya dengan erat.
"Akhirnya Ibu berhasil menemukan keluarganya." Gumam Angela dalam hati.
Tak lama kemudian, Jiro menyusul pulang ke rumah. Entah kenapa hari ini ia juga ingin pulang cepat. Sesampainya di rumah, Jiro tidak percaya melihat Zoya masih hidup. Tidak ada kata lagi yang terucap selain isak tangis dan pelukan hangat.
"Maafkan aku Zoya.."
"Sst, sudahlah. Lupakan masa lalu. Kita mulai semua dari awal. Aku lelah menangis."
"Horeeeee!
Tiba tiba saja Angela bersorak gembir, saudaranya telah berkumpul lagi. Tak lama Zoya menelpon Ryu untuk pulang, dan memintanya untuk menjemput di rumah yang hanya di berikan alamatnya saja, tanpa memberitahu kalau itu rumah yang keluarganya tempati.
Setengah jam berlalu mereka menunggu, tak lama mereka mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Siena dan yang lain mengintip dari jendela. Melihat Ryu keluar dari pintu mobil, dengan kakinya yang pincang. Ryu berjalan mendekati pintu lalu mengetuknya perlahan.
Zoya meminta yang lain untuk bersembunyi di kamar sampai dia memanggilnya nanti. Sementara dia sendiri membukakan pintu untuk Ryu.
" Zoya, kau sedang apa di sini? dan ini rumah siapa?" tanya Ryu bingung.
Namun Zoya menarik tangan Ryu masuk ke dalam tumah, lalu menutup pintunya lagi.
"Aku punya kejutan untukmu," ucap Zoya tersenyum.
"Kejutan? aku belum ulang tahun kan?" Ryu semakin bingung.
"Kau mau tahu?" tanya Zoya.
Ryu mengangguk cepat, ia sudah tidak sabar lagi. Ingin segera tahu, hadiah apa yang akan di berikan Zoya.
"Kalian keluarlah!" seru Zoya.
Mata Ryu melebar, mulutnya menganga. Perlahan ia mengucek matanya untuk memastikan apa yang ia lihat bukan mimpi.
"I, Ibu..ka, kalian.."
"Iya sayang, kenarilah." Siena merentangkan kedua tangannya.
"Ibuuuuu!!" pekik Ryu menubruk tubuh Siena lalu memeluknya dengan erat. "Ibuuu.."
"Aku merindukanmu Nak, sangat merindukanmu," ucap Siena di tenfah isak tangisnya. Tidak ada yang menangis, semua menangis salam diam. Namun tangisan kali ini bukan tangisa pilu, tapi kebahagiaan setelah sekian lama terpusah dan satu sama lain menganggap bahwa mereka sudah mati.
"Aku juga Bu.." ucapnya sembari menyeka air mata. Lalu ia beralih memeluk Jiro.
"Maafkan aku, maafkan aku.." ucap Jiro penuh penyesalan telah meninggalkan mereka di malam tragedi itu.
"Sudahlah kak, aku sudah memaafkan semuanya." Ryu melepaskan pelukannya. Lalu beralih menatap Angela. "Kau ada di sini?" tanya Ryu bingung.
"Iya kak, aku adikmu!" seru Angela memeluk Ryu erat.
"Adik?"
"Ya sayang, dia adikmu yang dulu masih dalam kandungan," timpal Siena.
"Ah ternyata kau adikku, pantas saja kau pemberani." Ryu melepas pelukannya lalu mencium puncak kepala Angela.
Siena tersenyum menatap satu persatu anak anaknya yang tengah berbagi kebahagiaan, dan cerita setelah sekian lama terpisah.
"Kenzi, seharusnya kau di sini melihat mereka di sini, melihat putrimu yang sudah remaja. Putri yang sangat kau inginkan," ucap Siena dalam hati sembari mengusap air matanya.
"Nak, sebaiknya kita makan. Sudah lama Ibu tidak makan bersama kalian."
"Iya Bu!" jawab mereka serempak.
Kemudian Siena dan Zoya mempersiapkan makanan di atas meja. Mereka semua menikmati makanan yang Siena buat, tawa canda terlontar indah di meja makan. Berbagi cerita saat mereka terpisah satu sama lain.
"Ibu, bagaimana kalau wajah Ibu di operasi?" tanya Ryu menatap ke arah Siena. Semua mata tertuju pada Siena menunggu jawabannya.
Sesaat Siena terdiam, mungkin dengan mengganti wajahnya dengan rupa yang berbeda, semua musuhnya tidak akan mengenali Siena. Dengan begitu ia bisa bergerak leluasa tanpa membahayakan anak anaknya lagi.
"Tentu Ibu mau sayang, tapi-?"
"Tapi apa Bu?" tanya Ryu.
"Ibu mau mengganti wajah Ibu dengan wajah yang berbeda, supaya tidak ada yang mengenali lagi, dan musuh kita mengira aku sudah mati," ungkap Siena.
Sesaat Ryu dan yang lain terdiam, "baiklah Bu, aku setuju."
"Buat Ibu secantik mungkin, biar semua laki laki berlutut di kaki Ibu, nak." Siena tersenyum menyeringai, membuat Ryu yang lain terkejut dengan pernyataan Siena.
"Tidak, Ibu bercanda," ucap Siena tertawa kecil.