
Saat Siena sampai di pintu rahasia, ia langsung membuka pintu. Namun pihak berwajib sudah berkumpul di depan pintu dengan siaga, senjata api mereka arahkan ke pintu.
"Kalian sudah kami kepung!"
Siena langsung menutup pintu lagi. Lalu berlari kembali masuk ke dalam menuju tangga darurat.
"Cepat, kalian harus keluar dari sini." Siena memberi perintah.
"Tapi bagaimana denganmu Bos?" tanya salah satu anak buahnya.
"Aku bisa jaga diri, cepat!"
Namun baru saja mereka hendak menuruni anak tangga. Dua anak buah Hernet dari arah bawah tangga langsung menembaki Siena dan yang lain. Namun sasaran mereka meleset.
"Dor Dor Dor!!!"
Siena dan yang lain bersembunyi di balik tembok, sesekali kepala Siena menyembul membalas tembakan mereka.
"Dor! Dor!
Satu, dua, pria itu tersungkur jatuh dari tangga, Siena dan yang lain buru buru menuruni anak tangga, lalu berlari menyusuri lorong gedung.
" Dor! Do!"
Dari arah belakang tiga pria mengejar dan melesatkan peluru ke arah Siena dan yang lain. Siena dan yang lain merunduk membalas tembakan mereka.
"Kalian pergi cepat! biar aku yang melindungi kalian. Jangan ada yang membantah, ini perintah!"
"Baik Bos!" anak buah Siena langsung berlari belok ke arah kanan menyusuri lorong lain menuju jendela, lalu mereka keluar lewat jendela yang terlebih dahulu di dobrak.
Sementara Siena terus berlari setelah merobohkan anak buah Hernet. Lalu ia berlari ke arah kiri menuju pintu belakang gedung. Saat ia membuka pintu, sosok pria yang ia kenal tengah berdiri di hadapannya dengan senjata api mengarah ke pelipisnya.
"Avram?" ucap Siena dalam hati.
"Luar biasa permainanmu Nona, kau lincah dan cerdik juga. Berhasil lolos dan mengelabui mereka semua." Avram menarik pelatuknya, ujung senjata api menempel di pelipis Siena lalu turun ke lehernya.
"Apa maumu? dan siapa kau? apa kau bagian dari cecunguk Hernet?" ucap Siena mencemooh.
"Tentu bukan Nona." Tangan Avram terulur hendak melepas topeng di wajah Siena. Namun tangannya di tepis Siena.
"Kenapa? apa kau takut di ketahui?" Avram tersenyum. "Lihat di belakangmu!" seru Avram mengecoh kewaspadaan Siena, dengan reflek Siena melirik ke samping.
"Srettt!" Avram berhasil melepas topeng Siena.
"Kau?" Avram terkejut melihat wajah di balik topeng itu ternyata Siena.
Dari arah samping dua pria datang langsung mengarahkan senjatanya pada Siena, tapi Avram lebih dulu menerjang dua pria itu hingga tersungkur lalu menembak bahu dua pria itu sekaligus.
"Dor! Dor!"
"Ayo ikut aku!" Avram menarik tangan Siena lalu mereka berdua berlari menuju mobil yang terparkir tak jauh dari halaman belakang gedung.
"Dor! Dor! Dor!
"Dor! Dor! Dor!
Dari dalam mobil Siena melesatkan peluru ke arah musuh yang semakin banyak. Sementara Avram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya mereka berhasil lolos dari kejaran para musuh. Di tengah perjalanan Siena meminta Avram untuk menurunkannya.
"Berhenti di sini!"
Avram menepikan mobilnya tepat di dekat sebuah jembatan.
"Kau mau kemana?" tanya Avram menatap Siena keluar dari pintu, lalu ia menyusul Siena ikut keluar dari dalam mobil.
"Kau mau kemana? Avram menarik tangan Siena hingga wanita berbalik menghadapnya.
" Bukan urusanmu!" Siena menepis tangan Avram dengan kesal.
"Memang bukan urusanku, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah terlibat, aku perlu tahu." Avram menarik tangannya.
Siena tersenyum di sudut bibirnya, menatap jengah pria di hadapannya. Ia merasa tidak mengenal pria itu, tapi dia seolah olah sudah mengenal Siena.
"Memang kau siapa? hah?" tanya Siena menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ya..aku memang bukan siapa siapa kau, tapi aku perduli." Avram menundukkan kepalanya sesaat. Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengatakan siapa dirinya.
"Halah! basi!" sungut Siena lalu balik badan melangkahkan kakinya. Namun Avram kembali menarik paksa tangan Siena.
"Apalagi?!" ucap Siena kesal.
"Aku menyukaimu." Avram langsung berterus terang tentang perasaannya pada Siena.
Sesaat Siena mendengarkan tapi detik berikutnya ia tertawa terbahak bahak mendengar pernyataan Avram. Menurut Siena, pria itu tidak cocok karena Siena merasa usianya tidak muda lagi. Apalagi sejak pengkhianatan Kenzi, tidak mungkin ia percaya dengan kata kata cinta dari mulut pria lagi.
"Ada yang lucu?" tanya Avram.
Namun Siena hanya mengibaskan tangannya di wajah Avram lalu ia balik badan dan berlari sekencang kencangnya meninggalkan Avram yang masih terpaku melihat kepergian Siena yang berlalu begitu saja.
"Siena sayang, kau benar benar wanita tangguh dan benar benar menjaga kesetiaan. Kau tidak pernah ingkar janji," gumam Avram tersenyum.
***
Sementara di rumah sakit, Kenzi menunggu di ruang tunggu bersama Hernet dan Livian. Mereka menunggu Laila yang tengah menjalani operasi.
"Aku tidak mau tahu, kau harus cari tahu tentang si pelaku. Aku yakin, wanita itu juga yang selama ini mengacaukan outfit!" ucap Hernet geram.
"Kau tenang saja, aku sudah menerintahkan anak buah dan pihak berwajib untuk mencari tahu identitas wanita itu." Livian tersenyum sinis melihat Kenzi raut wajahnya nampak kebingungan. Bagi Livian, kini Kenzi bukanlah musuh yang perlu ia takuti lagi, baginya Kenzi tak lebih dari seorang pecundang. Dalam hatinya, ia berharap Kenzi selamanya menjadi pria bodoh.
"Suaranya, rambutnya, tubuhnya, cara dia memukul mengingatkanku pada Siena. Tapi itu tidak mungkin, Siena sudah tiada." Kenzi membatin.
"Tapi, wanita yang ada di cctv itu juga mirip Siena, meski aku tidak melihat wajahnya, kata kata wanita itu seolah mengingatkanku pada keluargaku. Apakah mereka masih hidup? jika mereka masih hidup. Aku tidak akan berani menunjukkan wajahku pada mereka. Aku sudah hina dan kotor," ucap Kenzi dalam hati. Pikirannya semakin kalut dan bingung. Setiap kali ia coba berpikir keras, rasa sakit di kepalanya semakin mencengkram.