
Seketika bumi terasa berhenti berputar, jantung berhenti berdetak. Mata Kenzi melotot, tangannya masih terulur saat melihat tubuh Siena meluncur deras ke bawah gedung. Begitu juga yang terjadi dengan Yu dan Samuel, mereka tidak percaya apa yang terjadi saat ini.
"Sienaa!!"
Sementara di bawah, Angela dan saudaranya berteriak histeris dan berlari ke arah jatuhnya tubuh Siena.
"IBUUUUU!!!!
Mereka semua langsung berlari ke arah jatuhnya tubuh Siena.
" BUKKKK!!!
Terdengar suara tubuh Siena jatuh ke atas tumpukan dus dan kain sebuah mobil truk.
"Ibu?"
Langkah mereka terhenti saat tubuh Siena jatuh tepat di atas truk. Jantung mereka sesaat berhenti berdetak.
"Ibuuuu! jerit mereka bersamaan lalu berdiri di samping truk itu, nampak Davira keluar dari pintu truk menghampiri mereka. Sementara Kenzi dan yang lain langsung turun dari atap gedung setelah mengetahui Siena jatuh di atas truk.
" Davira?" ucap Dokter Ryu tidak percaya dengan sosok gadis di hadapannya.
"Sebaiknya kita bawa Nyonya Siena ke rumah sakit sekarang, aku khawatir terjadi apa apa." Davira tersenyum pada Dokter Ryu sesaat, lalu menyarankan mereka untuk mengambil langkah cepat.
"Siena!"
Ryu dan yang lain menoleh ke arah Kenzi yang berlari lalu naik ke atas truk. Di ikuti yang lainnya ikut naik.
"Sayang?"
Kenzi mengangkat tubuh Siena yang tak sadarkan diri, lalu menyeka darah segar di mulut Siena.
"Bertahanlah sayang." Kenzi memeluk erat tubuh Siena.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!" Yu minta Davira untuk menjalankan truknya kembali.
"Baik paman!" seru Davira. Lalu menarik tangan Ryu untuk ikut naik truk bersamanya di depan.
"Tidak masalah," sahutnya.
Sementara di atas truk, Kenzi terus memeluk erat Siena.
"Bertahan sayang, jangan tinggalkan aku." Kenzi terus terisak, berkali kali mencium wajah Siena, hingga noda darah menempel di wajah Kenzi.
"Tenanglah, dia pasti baik baik saja." Yu menenangkan Kenzi.
"Ayah jangan menangis, ibu baik baik saja Yah.." ucap Angela lirih.
Kenzi teeus memeluk Siena dan tak berhenti menangis, ia teringat semua perjalanan hidupnya bersama hingga berakhir perpisahan. Rasa takut kehilangan begitu besar Kenzi rasakan.
"Tuhan, berikan aku kesempatan sekali lagi untuk bersama istriku. Jangan kau ambil dia dariku..izinkan aku untuk membahagiakannya, Tuhan..aku mohon."
Melihat Kenzi seperti itu, Angela ikut menangis. Ingat semua kesalahannya pada Siena. Ia memeluk Zidan yang berada di sampingnya. Sementara Jiro duduk di sudut truk memperhatikan dengan satu tangan menangkup kepalanya sendiri.
"Maafkan aku Ibu..maafkan semua kesalahanku. Jangan tinggalkan kami bu.."
Untuk pertama kalinya Kenzi menyadari, bukan hanya takut kehilangan yang besar. Kelembutan, kasih sayang dan kesetiaan yang Siena tunjukkan bukan dengan kata kata manis. Hati sebening embun, hati yang tegar setegar karang meski di terjang ombak. Mampu menyejukkan hati Kenzi di saat meronta, kasih sayang yang terus mengalir di saat hatinya mengering. Cinta yang Siena miliki tak ternoda oleh hal apapun di dunia ini. Membuat rasa bersalah serasa mencekik lehernya. Kenzi berteriak histeris membuat yang lain terkejut dan panik.
"Sienaaa jangan tinggalkan aku!!" dengan terus mengeratkan pelukannya, menciumi wajah Siena supaya terbangun dan memarahinya.
"Kenzi, tenanglah! seru Yu ikut panik.
" Ayah..jangan seperti itu.." ucap Angela semakin terisak. Sementara Jiro menangis dalam diam tanpa mampu berkata kata lagi.
Kenzi sangat di hantui rasa bersalah atas pengkhianatannya. Angela dan Jiro menyesal telah melupakan Ibunya yang telah berkorban banyak demi mereka. Terlebih Jiro teringat kata kata Ryu dulu, saat kata maaf tak mampu lagi Siena dengar, saat kematian memisahkan mereka. Kata kata seindah apapun, kata maaf dan penyesalan tak akan terdengar lagi oleh Siena. Tangisan Jiro semakin pecah.
Ryu yang duduk di depan bersama Davira terdiam mendengar teriakan Kenzi.
"Ibu, bertahanlah. Kau berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku sendirian.." ucap Ryu pelan, air matanya menetes.
Davira hanya diam, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, supaya lebih cepat sampai di rumah sakit.