
Kenzi tengah merenung memikirkan cara terbaik untuk merebut Siena dari tangan Dareen, ia memikirkan ulang niatnya untuk menyerang mansion milik Dareen.
"Percuma aku menyerang ke sana, Dareen pasti sudah lebih dulu mengancam Siena. Tuhan apa yang harus aku lakukan?" tanya Kenzi pada dirinya sendiri. "Apa aku harus datang sendiri?" tanyanya lagi.
Kenzi menganggukkan kepalanya, lebih baik menghadapi Dareen sendirian tanpa harus membawa pasukannya. Ada dan tiadanya bantuan anak buah, hasilnya akan sama. Tapi jika di lakukan secara diam diam, mungkin akan berbeda. Pikir Kenzi lagi sembari mengangguk anggukkan kepalanya.
Setelah ia pikirkan matang matang, Kenzi beranjak dari duduknya dan mulai mempersiapkan segala hal yang di butuhkan untuk mendatangi kediaman Dareen. Lalu menelpon rumah untuk tetap waspada dalam segala hal. Setelah semua selesai, ia menggunakan jalur pantai dan naik kapal Ferari menuju macau
***
Siena berjalan mengendap menuju ruangan tempat Keenan dan Rei berada. Lalu membuka pintu perlahan, membuat kedua sahabatnya terkejut.
"Siena?"
"Stttt!" Siena meletakkan satu jari di bibirnya.
"Ada apa?" tanya Keenan pelan.
"Sekarang juga kalian pergi temui Kenzi, katakan aku menunggu di perbatasan kota."
"Oke, bagaimana dengan Dareen?" tanya Rei khawatir.
"Dareen tidak ada, dia pulang nanti malam. Sebaiknya kau cepat." Tangan Siena merangkul bahu kedua sahabatnya lalu membisikkan rencana pada mereka berdua, setelah mereka memahami maksud Siena. Dua sahabatnya bergegas pergi meninggalkan mansion untuk menemui Kenzi.
Sepuluh menit sepeninggal dua sahabatnya, Siena mempersiapkan senjata api di balik pinggangnya. Lalu ia bergegas pergi meninggalkan mansion milik Dareen. Penjaga di mansion itu tidak mengetahui kepergian Siena karena melalui jalan rahasia yang sudah di ketahui Siena semenjak ia tinggal di mansion Dareen.
"Percuma aku menepati janji, rupanya dia akan melakukan serangan balik terhadap Kenzi," ucap Siena pelan. "Semoga Kenzi cepat cepat menemui aku." Siena melajukan mobil yang sudah ia persiapkan dengan kecepatan tinggi menuju perbatasan kota Hongkong.
"Semoga itu Kenzi," ucap Siena menatap waspada ke arah mobil. Dan benar saja, Kenzi keluar dari pintu mobil, setelah itu mobil yang Kenzi gumpangi kembali memutar arah meninggalkan mereka berdua.
"Siena.." Kenzi langsung memeluknya dengan erat.
"Syukurlah kau cepat datang, apa kau bertemu Rei dan Keenan?" tanya Siena.
"Ya," sahut Kenzi sembari melepaskan pelukannya. Memegang erat kedua tangan Siena. "Maafkan aku, seandainya aku tidak melalukan kesalahan, mungkin hal ini tidak akan terjadi."
Siena menghela napas panjang dan tersenyum. "Lupakan masa lalu, aku sudah memaafkanmu. Sebaiknya kita pergi dari sini, ayo cepat!" Siena menarik tangan Kenzi lalu masuk ke dalam mobil. Baru saja Kenzi menyalakan mesin, dari arah belakang peluru melesat mengenai kaca spion.
"Mereka mengejar kita!" Kenzi langsung tancap gas meninggalkan lokasi. Sementara di belakang mereka, iring iringan mobil pasukan Dareen mengejar mobil yang di tumpangi Kenzi dan Siena.
"DOR DOR DOR!
"Sayang, apa kau takut?" tanya Kenzi melirik ke arah Siena yang terus memperhatikan musuh yang berada jauh di belakang.
"Tidak sayang, kematian bukan hal yang menakutkan lagi." Siena menjawab dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Jadi?"
"Kita reuni sayang!"
Kenzi tertawa lebar, saat Siena mengingatkan masa mudanya dulu. Di ikuti Siena yang ikut tertawa. Masa muda penuh dengan tantangan, masalah dan bayang bayang kematian begitu di hindari dan jadi momok yang mengerikan. Kini di masa tua mereka, setelah melewati banyak hal, darah dan air mata. Bukan lagi hal yang menakutkan untuk mereka berdua. Sementara Dareen dan pasukannya terus mengejar mobil Siena dan Kenzi.