
Semua anak anak Siena berkumpul, termasuk Samuel di ruang tamu. Mereka bicara dari hati ke hati, tanpa ada emosi dan ego.
Semua di awali dari Jiro yang bicara, ia menceritakan panjang lebar awal dia melihat dunia hingga ia dewasa, lalu Ryu yang bicara. Mereka semua mengungkapkan apa yang ada du hati mereka pada Siena. Terakhir Zoya yang angkat bicara, tidak banyak permintaan gadis itu, hanya ingin hidup normal seperti keluarga lain.
"Ibu, kami sepakat mau mengikuti apa kata Ibu. Tapi, kami hanya minta satu hal. Akhiri dendam Ibu, kita mulai semuanya dari nol." Ryu mengakhiri ucapannya.
"Lalu bagaimana dengan kau, Jiro?" tanya Siena.
"Mungkin pendapatku sama seperti Ryu, kita mulai semuanya dari nol lagi. Lupakan semua dendam, kita hidup layaknya manusia pada umumnya. Aku juga lelah dengan semua ini."
"Baik, jika itu permintaan kalian. Ibu ikuti, tapi jangan minta Ibu untuk membawa Ayahmu kembali. Rasanya itu tidak mungkin, dia susah kecanduan obat obatan. Lagipula, wanita itu tidak akan berhenti mengganggu kita kecuali Ibu membunuhnya." Siena menarik napas panjang melepaskan beban di hatinya
"Tidak Bu, jangan lagi. Membunuh tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada, mereka terus akan saling membalas. Bukankah itu yang selama ini terjadi?" tanya Zoya.
"Kau benar," sahut Siena.
"Kalau begitu, lupakan masa lalu. Dan kita awali semuanya dengan ketenangan dalam berpikir!"
"Kakak Yu?!" Siena dan yang lain bangkit dari duduknya, melihat Yu dan seorang gadis berparas cantik berjalan menghampiri.
"Siena, Sam.." sapa Yu.
"Hei, bukankah ini Aira?" tanya Siena.
Gadis yang bernama Aira mengangguk, "iya tante."
"Wah kebetulan sekali, Angela punya teman." Siena memperkenalkan Angela pada Aira.
"Paman, duduklah." Ryu mempersilahkan Yu dan Aira duduk dan berbincang bincang. Sementara Zoya di bantu Jiro membuatkan minuman segar dan cemilan untuk mereka.
***
Hari demi hari, mereka menjalani hidup dengan tenang, tidak ada lagi gangguan dari pihak musuh. Angela berhasil menyelesaikan sekolahnya dan melanjutkan kuliah bersama Aira.
Sementara Zoya tengah mengandung anak Jiro, usia kandungannya tiga bulan. Samuel ikut berbahagia melihat keluarga Siena terlihat bahagia meski tanpa kehadiran Kenzi.
Empat bulan berlalu, aktifitas Siena kembali normal hanya diam di rumah layaknya seorang ibu. Sementara Kartel Siloa tetap berjalan di pimpin Samuel dan Yu. Tetapi lebih ke hal hal yang positif.
Hingga suatu hari, Avram menyatakan cintanya pada Siena dan bermaksud menjadikan Siena sebagai istrinya dan menggantikan posisi Kenzi sebagai Ayah dari putra putri Siena. Namun wanita itu masih tetap meminta waktu untuk berpikir, apakah ia akan menerima lamaran Avram atau tidak. Sementara dukungan penuh mengalir dari Angela, Jiro dan Zoya. Tapi tidak bagi Ryu, anak kedua Siena berbeda dengan yang lain. Meski ia pun memberikan dukungan demi kebahagiaan Siena, tapi hati kecilnya tetap masih memikirkan nasib Kenzi.
"Ayah, apakah kau baik baik saja?" gumam Ryu pelan.
"Ryu.."
Ryu menoleh ke belakang, nampak Samuel sudah berdiri di belakangnya. Lalu mereka duduk di kursi taman rumah.
"Ini sangat aneh paman." Ryu mengungkapkan apa yang ia pikirkan.
"Kau benar, tidak mungkin mereka membiarkan kita hidup tenang.." timpal Samuel. "Kecuali...?"
Ryu melebarkan matanya menatap Samuel.
"Ayah...?"
Samuel menganggukkan kepalanya. Pasti ketenangan yang tercipta ada sesuatu di luar sana yang di lakukan Kenzi untuk keluarganya.