
Entah sudah berapa lama Althea tertidur pulas setelah Dokter memeriksa kandungannya dan memberikannya obat. Perlahan matanya terbuka menatap langit langit kamar. Ia mengucek matanya untuk memastikan pandangannya bahwa ia benar benar ada di kamar pribadi Genzo. Perlahan ia bangun dan duduk di atas tempat tidur memeluk guling.
"Apakah ini sudah benar? apakah aku harus tetap berada di sini sementara suamiku tidak menginginkanku dan bayinya." Gumam Althea pelan. "Tapi Ibu tidak akan membiarkanku pergi, aku harus bagaimana?"
Sudah cukup Althea sakit hati selama ini, sikap dingin Genzo. Bukti kuat kalau pria itu sama sekali tidak mencintainya.
"Aku tidak tahu siapa ayahku, ibuku dan asal usulku, bahkan aku tidak tahu mengapa ada di kota ini. Aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun."
Althea mencengkram kuat rambutnya saat ia merasakan sakit di kepala tatkala mengingat tentang siapa dirinya. Nama yang ia gunakan bukanlah nama pemberian kedua orang tuanya, melainkan nama yang di sematkan oleh seorang tunawisma kepadanya.
"Ya Tuhan, berikan aku petunjukmu. Siapa aku sebenarnya, apakah benar kata orang kalau aku hanyalah anak yang di buang oleh seorang wanita penghibur? atau memang aku masih memiliki keluarga? tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya sampai sekarang, Ya Tuhan.."
"Tok tok tok!
Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Althea.
"Masuk!" sahut Althea.
Pintu terbuka, nampak Davira di ambang pintu tersenyum padanya. Di tangan wanita itu membawa nampan yang berisi makanan dan buah buahan beserta satu gelas susu hangat, berjalan pelan mendekat.
"Ibu.." sapa Althea.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Davira sambil meletakkan nampan di atas tempat tidur.
"Ibu, maafkan aku yang sudah merepotkanmu." Ucap Althea menggeser duduknya.
"Sudah kewajibanku merawatmu, dan calon cucuku. Sekarang kau makan, biar tenagamu pulih, kandunganmu sehat." Jawab Davira lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Terima kasih." kata Althea.
"Biar aku yang menyuapimu, setelah ini kau bersihkan badanmu. Aku sudah siapkan pakaian yang cocok buatmu, lalu istirahat yang banyak biar kau sehat."
Althea menganggukkan kepala, matanya berkaca kaca dan membiarkan Davira menyuapinya. Di sisi lain ia bahagia memiliki mertua seperti Davira. Namun di sisi lain ia harus menelan kepahitan jika suaminya tidak perduli dan sangat membencinya.
"Semua akan baik baik saja, kau tidak boleh putus asa. Bersabarlah kau tidak sendirian, ada aku yang akan melindungimu."
Davira mengulurkan tangannya, mengusap air mata di pipi Althea. Lalu kembali menyuapinya hingga suapan terakhir. Sesekali Davira melontarkan candaan, menceritakan bagaimana dulu ia mengandung Genzo.
***
Senja telah berganti malam, Althea masih dalam posisi yang sama. Duduk melamun di atas tempat tidur, membayangkan reaksi Genzo saat pria itu pulang nanti. Dan benar saja, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Perlahan pintu kamar terbuka, nampak Genzo di ambang pintu tengah menatapnya tajam.
"Kau sudah pulang?" sapa Althea berusaha tetap tenang dan menyapa Genzo meski ia tahu bagaimana dinginnya sikap Genzo.
Genzo melangkahkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan mengabaikan sapaan Althea. Seolah olah di dalam kamar itu hanyalah dia sendirian.
"Apa kau butuh bantuanku?" tanya Althea lalu turun dari atas tempat tidur.
"Hmm."
Genzo membuka lemari dan mengambil pakaiannya, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.
Namun baru saja Genzo membuka pintu kamar, nampak Davira berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan marah.
"Kembali ke kamarmu, istrimu butuh perhatian darimu Genzo." Ucap Davira tegas.
"Tapi Bu, aku tidak bisa tidur sekamar dengan dia. Ibu tahu aku tidak mencintainya," jawab Genzo pelan.
"Genzo! kembali ke kamarmu dan jangan coba coba tidur terpisah, aku tidak akan menaafkanmu."
Genzo menarik napas dalam, ia tidak menginginkan perdebatan terjadi diantara mereka berdua.
"Baiklah Bu!" sahut Genzo lalu mundur dua langkah, menutup pintunya kembali.
Saat Genzo balik badan, nampak Althea sudah meringkuk di atas sofa. Itu pun tidak membuat hati Genzo merasa iba. Genzo dengan santai masuk ke dalam kamar mandi membersihkan badan. Setelah selesai, ia naik ke atas tempat tidur dan memainkan ponselnya saling berkirim pesan dengan Alexa.