
Genzo tertidur pulas di kursi hingga pagi, namun genggaman tangannya tak lepas dari tangan sang Ibu. Meski kehadiran sang Ibu di sampingnya dalam keadaan koma. Namun sudah cukup mengobati rasa rindunya selama bertahun tahun. Ia tidak mau lagi jauh, bahkan Genzo enggan menutup matanya. Ia sangat takut kehilangan Davira dari pandangannya seperti tujuh belas tahun yang lalu. Namun rasa kantuk yang mendera, perasaan lelah dalam hati memaksanya tertidur pulas di samping sang ibu.
"Sayang," bisik Kenzi di telinga Siena mengejutkannya.
"Hei, bagaimana Angela?" tanya Siena seraya mengusap wajahnya.
Kenzi hanya menggelengkan kepalanya, pertanda kalau Angela masih sama seperti Davira. Siena menarik napas panjang, menundukkan kepalanya sesaat.
Suara ketukan pelan di pintu, membuat mereka menoleh ke arah pintu. Nampak Ariela dan Alexa berdiri di ambang pintu, lalu mereka berdua menghampiri Kenzi dan Siena.
Tuan, Nyonya! sapa mereka berdua.
"Hei, kalian sudah cantik." Siena beranjak dari kursi menghampiri mereka berdua. "Sebentar, aku bangunkan Genzo, ya."
Perlahan Siena menghampiri Genzo, membungkukkan badan. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Genzo.
"Sayang bangun, sudah pagi."
Perlahan Genzo menggeliat, lalu membuka matanya. "Ibu, Ibu di mana!" ucapnya panik, seolah olah telah kehilangan Davira lagi.
Siena merangkul bahu Genzo, dan mendekapnya erat. "Tenang sayang, Ibumu ada." Siena menenangkan cucunya dan mengecup pipi Genzo sekilas.
"Grandma! sapanya menatap wajah Siena, lalu mengalihkan pandangannya pada Davira yang masih terpejam. " Ibu.."
"Sayang, ada Ariela dan Alexa. Lihat!"
Genzo menoleh ke belakang, menatap dua sahabantnya. Lalu ia berdiri dan menghampiri mereka berdua.
"Hari ini, aku tidak masuk sekolah. Aku ingin ada di dekat Ibu." Ucap Genzo menatap keduanya.
"Tidak masalah, kami hanya ingin melihat keadaanmu," jawab mereka berdua.
"Terima kasih!" sahutnya lagi.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya!"
Mereka menoleh ke arah suara, nampak tiga anggota Polisi berdiri di ambang pintu, lalu mereka berjalan mendekati mereka.
"Selamat pagi!" jawab Kenzi. Kedua alisnya bertaut, ia terkejut dengan kedatangan tiga anggota Polisi.
"Ada apa ini?" tanya Kenzi.
Salah satu anggota Polisi yang ternyata berpangkat Letnan. Maju lebih dekat dengan Kenzi, lalu menceeitakan kejadian semalam. Tentang penyerangan Genzo, menggagalkan pengiriman senjata ilegal dan obat obatan terlarang.
Kenzi terkejut mendengan pernyataan Polisi tersebut. Ia tidak menyangka, cucunya bisa melakukan itu semua.
"Kedatangan kami kesini, untuk membawa cucu anda ke kantor polisi."
"Tapi untuk apa kalian membawa cucuku?" tanya Kenzi keberatan.
"Genzo kami tetapkan sebagai saksi kejahatan dan kami membutuhkan informasinya." Jawab Polisi tersebut.
Kenzi yang sudah berpengalaman, berkaitan dengan penangkapan Genzo sebagai saksi. Ia tahu, pengkhianatan, korupsi dan manipulasi ada di setiap pekerjaan. Oleh karena itu, Kenzi tidak setuju Genzo di bawa oleh mereka.
"Aku tidak mengizinkan cucuku kalian bawa, dia masih di bawah umur!"
"Tolong kerjasamanya, kami membutuhkan informasi."
"Tidak! cegah Kenzi menarik tangan Genzo supaya menjauh.
Namun ketiga Polisi itu tetap pada keputusannya untuk membawa Genzo. Akibatnya terjadi pemaksaan di dalam ruangan itu. Ketiga polisi tersebut merebut paksa Genzk dari tangan Kenzi. Bahkan salah satu anggota Polisi memukul tangan Kenzi supaya melepaskan Genzo.
" Lepaskan cucuku!" teriak Siena menarik tangan Genzo mundur ke belakang.
"Nyonya, kerjasamanya. Atau kami akan menangkap kalian semua!"
Di saat bersamaan, perlahan Davira membuka mata. Samar samar ia mendengar suara keributan. Matanya melirik ke arah samping, ia melihat Kenzi dan Siena tengah melindungi seorang anak remaja. Pelan tapi jelas terdengar, Siena menyebut nama Genzo. Davira berusaha bangun dan mencabut alat medit di tangan dan hidungnya. Meski kondisinya masih sangat lemah, ia berusaha turun dari atas tempat tidur.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menoleh ke arah Davira. Terutama Genzo, ia segera melepaskan diri dari cengkraman Polisi. Kemudian berlari menubruk tubuh Davira dan memeluknya erat.
"Ibuuu!"
"Genzo, ini Ibu.." ucapnya lemah sembari memeluk tubuh Genzo erat.
"Ibu, aku sudah besar Bu.. aku sudah besar Ibu."
Sesaat, mereka terdiam. Mendengar kata kata rindu yang di ucapkan mereka berdua. Deraian air mata membasahi pipi Siena dan Kenzi. Begitu juga kedua sahabat Genzo, mereka terharu melihat pertemuan mereka setelah sekian lama terpisah. Namun di lain pihak, Polisi bekerja sesuai peraturan. Mereka tidak bisa menunggu lama, lalu mereka bertiga mendekati Genzo. Menarik paksa dari pelukan Davira.
"Jangan ambil anakku! pekik Davira menarik tangan Genzo dengan sekuat tenaganya
" Ibuuu..!
"Genzo, putraku! jangan ambil anakku! jangan ambil anakku!" jeritnya lagi, lalu memeluk tubuh Genzo erat erat. "Pergi kalian!" bentaknya pada tiga Polisi itu.
"Nak, tenangla.." Siena dan Kenzi memeluk mereka berdua dengan erat.
"Ayah, usir mereka! usir mereka! pinta Davira kepada Kenzi.
" Tenanglah, tenang." Ucap Kenzi khawatir dengan kondisi Davira yang masih lemah.
"Ibu."
Genzo melepaskan pelukan Davira, menangkup wajahnya. "Dengarkan aku Bu."
"Anakku, kau sudah besar sayang," ucap Davira tersenyum samar.
"Ibu, biarkan aku ikut dengan mereka," ucap Genzo menatap lekat wajah Davira.
"Tidak, tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku." Kembali Davira memeluk Genzo erat.
"Percaya padaku Bu, semua akan baik baik saja. Tidak ada seorangpun yang akan memisahkan kita lagi." Genzo melepas pelukannya.
Davira menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan ucapan Genzo. "Tidak sayang, Ibu takut."
"Nak, percayalah. Genzo pasti baik baik saja, aku akan ikut bersamanya," sela Kenzi.
"Berjanjilah Ayah, bawa kembali putraku," pinta Davira.
"Pasti Nak, pasti!" sahut Kenzi.
"Ibu dengar? Genzo tersenyum. " Aku pasti kembali, ada Grandpa!"
"Baiklah sayang."
Perlahan Davira melepas pelukannya, dan membiarkan ketiga Polisi itu membawa Genzo.
"Ibu menunggumu Nak!" seru Davira.
Siena memeluk Davira, menatap kepergian Genzo dan Kenzi bersama ketiga Polisi itu. Sementara Alexa dan Ariela hanya diam sambil berpelukan.
"Siapa kalian?" tanya Davira pada dua sahabat Genzo.
"Mereka teman sekolah putramu, Davira," jawab Siena menimpali.
Di pihak lain, Jiro dan Aranza yang hendak menemui Kenzi, mereka terkejut saat rpas pasan dengan Genzo dan Polisi tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Jiro pada mereka.
Sesaat Polisi menerangkan pada Jiro, alasan mereka membawa Genzo. Namun Jiro baik Aranza tidak percaya dengan ucapan ketiga anggota Polisi. Mendengar penuturan Polisisi, agaknya merska mulai mencium adanya konspirasi. Akhirnya, Aranza memutuskan untuk ikut mendampingi Genzo bersama Kenzi. Sementara Jiro tetap berada di rumah sakit untuk menemani Siena, Angela dan Davira.
Iringan mobil Polisi yang membawa Genzo mulai meninggalkan rumah sakit, di ikuti mobil Kenzi dan Aranza dari belakang. Sepanjang jalan, suara sirine yang berasal dari mobil Kepolisian terus berbunyi. Apa yang menjadi kekhawatiran Kenzi dan Aranza terbukti. Dari pihak lain, musuh mulai mengejar dan memepet mobil Kepolisian untuk merebut Genzo dari tangan mereka. Tentu saja Kenzi dan Aranza tidak tinggal diam. Dengan kecepatan tinggi, anak buah Kenzi melajukan mobilnya supaya sejajar dengan mobil Polisi.