THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



"Nona, anda sudah di tunggu tuan Dareen." Salah satu pria tadi datang dan meminta Siena untuk ikut bersamanya.


"Bagaimana dengan kami?" tanya Rei pada pria itu.


"Kalian tunggu di sini, tuan Dareen tidak membutuhkan kalian." Pria itu menjawab, membuat Siena tertawa kecil melirik ke arah dua sahabatnya.


"Sialan, tuanmu tidak tahu siapa kami, ya tidak?" sahut Keenan menoleh ke arah Rei meminta dukungan Namun Rei hanya menarik bibir dan mengangkat kedua bahunya


"Ah, kau.." ucap Keenan kecewa tidak mendapatkan dukungan.


"Hei, sudah kalian tunggu di sini." Siena menggelengkan kepalanya lalu berjalan mengikuti langkah pria itu menuju sebuah ruangan tempat Dareen menunggu.


Siena menepi saat pria itu mengetuk pintu, lalu ia membukanya perlahan setelah seseorang dari dalam mempersilahkan masuk.


Siena langsung masuk ke dalam menemui Dareen yang sudah duduk di kursi tengah menatap tajam ke arahnya


"Halo Nona Siena." Dareen menyapa.


"Lebih tepatnya Nyonya." Siena duduk di kursi berhadapan dengan Dareen.


"Ok, Nyonya Siena." Dareen berdiri lalu menyodorkan dokumen ke hadapan Siena dan balpoin.


"Apa ini?" Siena menatap tajam Dareen.


"Nyonya, selama ini aku sudah menepati janjiku untuk membantumu. Sekarang giliranku menagih janjimu padaku." Dareen tersenyum sinis lalu berjalan mendekati Siena.


"Apa harus aku menandatangi? tidak bukan?" protes Siena.


Dareen membungkukkan badannya menatap wajah Siena. "Apa aku harus percaya padamu?"


"Tidak juga." Sahut Siena menyandarkan kepalanya di kursi menjauhi wajah Dareen.


"Avram sudah bergabung dengan anggota Triad lain, dan dia menjadi ketua di sana. Selama kau bekerjasama denganku, mereka tidak akan berani menyentuh keluargamu. Tapi jika kau menolak menandatanganinya, aku tidak menjamin keluargamu merasakan kedamaian yang sekarang tengah mereka nikmati. Bagaimana Nyonya? kau masih menolak?"


Siena diam tercenung memikirkan putra putrinya, ia bahagia melihat mereka hidup damai. "Baiklah, aku ikuti maumu."


"Lebih cepat lebih bagus." Dareen berdiri tegap lalu kembali duduk.


Perlahan tangan Siena mengambil dokumen di atas meja. Lalu membuka dan perlahan membaca poin poin yang harus di sepakati Siena. Perjanjian hitam di atas putih, menukar dirinya demi kebahagiaan dan ketenangan yang di inginkan keluarga kecilnya.


Sesekali Siena melirik ke arah Dareen yang tengah menatapnya tajam. Lalu ia mengambil balpoin yang tergeletak di atas meja. Di dalam surat perjanjian itu hanya terdiri dua poin dan di tandatangani dengan tinta emas atas nama Dareen.


"Poin pertama kau harus menyerahkan hidupmu untuk menjadi parrnerku, poin kedua jika kau ingkar janji, maka nyawa keluargamu menjadi taruhannya." Dareen membacakan ulang poin poin yang harus Siena tandatangani.


"Sial, licik sekali. Tapi lihat saja, aku yang tunduk padamu. Atau sebaliknya?" ucap Siena dalam hati tertawa terkekeh.


"Baiklah, aku setuju." Kemudian Siena menandatangani surat perjanjian itu.


"Bagus." Dareen mengambil dokumen yang sudah Siena tandatangani.


"Aku punya dua permintaan." Siena berdiri lalu berjalan mendekati Dareen.


"Katakan!"


"Lenyapkan wanita itu, yang Kedua, kau harus mengizinkan dua sahabatku membantu semua pekerjaanku."


"Aku setuju, kau tenang saja. Wanita itu hanya punya waktu satu jam dari sekarang untuk menghirup udara segar." Dareen berdiri tegap berhadapan dengan Siena. Saling tatap cukup lama.


"Terima kasih."


***


Sementara itu, Mei Chan yang tengah duduk di teras rumah menunggu kedatangan Kenzi dari rumah kakak Yu. Tiba tiba di kejutkan dengan kedatangan sebuah mobil masuk ke halaman. Ia melihat tiga pria kekar dengan membawa senjata tajam langsung menghampiri Mei Chan. Belum sempat wanita itu berlari ke dalam rumah, salah satu pria langsung memukul kepala Mdi Chan dengan balok kayu.


"Aaahkkk! Mei Chan berteriak histeris dan ambruk ke lantai bersimbah darah. Satu pria lain maju langsung mengagunkan pedang berukuran panjang, langsung ia sabetkan ke leher Mei Chan tanpa ada rasa belas kasih. Darah segar mengalir dari leher wanita itu membasahi lantai. Ketiga pria itu saling pandang sesaat, setelah memastikan Mei Chan tidak bergerak lagi, ketiga pria itu buru buru kembali ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Dokter Ryu.


Dua puluh menit sepeninggal pria tak di kenal. Kenzi kembali ke rumahnya, setelah menepikan mobilnya. Ia langsung keluar dari pintu mobil, melangkahkan kakinya menuju rumah. Betapa terkejutnya Kenzi, saat melihat darah membasahi lantai.


" Ya Tuhan..' ucap Kenzi menatap tubuh Mei Chan bersimbah darah. Matanya melebar, mulutnya menganga. Derit berikutnya ia langsung berlari ke arah tubuh Mei dan jongkok lalu di angkatnya kepala Mei Chan ke pangkuannya.


"Mei!" pekik Kenzi memeluk tubuh Mei Chan. Pakaian yang ia kenakan basah oleh darah. Lalu ia berdiri dan menggendong tubuh Mei masuk ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit. Kenzi tidak tahu kalau Mei Chan sudah tewas.