THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 3



Minggu pukul 8:30


Seorang pria muda berdiri tegap menatap air laut yang tenang di atas sebuah jembatan. Rambutnya yang gondrong tertiup angin, menutupi sebagian wajah tampannya.


Tatapan kosong jauh ke depan, pikiran menerawang menembus tiga tahun lalu, mengingatkannya akan sebuah kisah yang kelam.


Wajahnya yang rupawan bak dewa yunani namun di balik ketampananannya terdapan sisi gelap bagai malaikat penyabut nyawa.


Ya! Dia adalah Genzo. Satu satunya yang berhasil selamat di malam penangkapan itu. Sejak malam itu, Genzo malang melintang tidak hanya di kota Hongkong. Namun ia juga melakukan banyak kejahatan yang terorganisir di Negara lain, hingga namanya menjadi salah satu daftar pencarian orang yang di cari.


Catatan kejahatannya sudah banyak, bahkan Polisi sudah mengantongi bukti. Namun sampai saat ini, Genzo tidak pernah datang ke kantor Polisi. Tangan tangan pihak berwajib tak mampu menyentuhnya, semua yang di lakukan Genzo rapi dan sangat licin.


Terlihat Genzo menarik napas dalam dalam, sesekali ia menundukkan kepalanya. Di balik kekejaman yang ia tampilkan, tersimpan luka mendalam tatkala mengingat anggota keluarganya.


"Paman!"


"Siap Tuan Muda!" sahut pria yang di panggil paman oleh Genzo, yang sedari tadi diam di belakang Genzo.


"Urus keberangkatanku sekarang juga ke kota Hongkong."


Genzo melirik ke arah pria yang di sebut paman yang tak lain adalah Joe. Joe yang terkena tembakan di malam itu berhasil selamat dan kembali bergabung dengan Genzo.


"Ariela, Kitaro, Alexa." Gumam Genzo dalam hati menyebut nama sahabat dan gadis yang ia cintai. Kemudian ia melamgkahkan kakinya di ikuti Joe dan kesepuluh anak buahnya yang berjaga jaga tak jauh dari tempat Genzo berdiri.


Genzo kembali ke mansion miliknya, sementara Joe mengurus semua hal untuk keberangkatan Genzo dari Itali menuju kota Hongkong tempat di mana ia di lahirkan dan di besarkan. Selain itu, di kota Hongkong, Genzo sudah memiliki jaringan kuat dan terkenal namanya di kota tersebut.


Satu jam berlalu, akhirnya Joe telah selesai mengurus keberangkatan Genzo ke kota Hongkong. Menit berikutnya, mereka berdua meninggalkan Negara Itali dengan menggunakan pesawat pribadi.


***


Sesampainya di kota Hongkong, Genzo di sambut puluhan anak buahnya yang sudah menanti kedatangannya. Mereka semua membungkuk hormat sesaat saat Genzo melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil yang sudah di siapkan.


Hal pertama yang akan Genzo lakukan adalah mengunjungi rumah orangtuanya yang sudah lama ia tinggalkan sejak menjadi buronan. Sepanjang perjalanan, Genzo menatap ke luar jendela kaca mobil. Banyak yang berubah dengan kota itu, namun satu hal yang tak pernah berubah di dalam hati Genzo kerinduannya pada orangtuanya.


Sesampainya di halaman rumah orangtuanya, Genzo keluar dari pintu mobil dan berdiri tegap menatap depan rumahnya yang masih sama sejak ia tinggalkan dulu. Perlahan ia melangkah dengan pelan dan berdiri tepat di depan teras rumah. Lalu ia naik ke teras dan berdiri di depan pintu rumah lalu membuka pintu lebar lebar.


"*Sayang kamu dari mana? kenapa kau selalu telat pulang sekolah?" tanya Davira lalu menarik tangannya. "Sekarang juga ganti pakaianmu lalu kau makan."


"Ibuu nanti dulu, aku sudah besar." Jawab Genzo merajuk.


"Apa kau bilang? sudah besar? tidak, kau masih putra kecil kami!" potong Ryu sambil mengacak rambut Genzo.


"Oma! Opa! aku sudah besar, lihat Ibu dan ayah. Mereka terlalu khawatir!" seru Genzo meminta dukungan.


"Aku tidak tahu sayang! hahaha!" ucap Siena dan Kenzi di selingi tertawa bersama*.


"Deg!"


Genzo mengerjapkan matanya, ia sadar tengah melamun menatap setiap sudut ruangan rumah itu, rumah yang menyimpan banyak kenangan. Perlahan Genzo mendekati meja tempat penyimpanan foto keluarga yang masih tetap sama terpajang di atas meja itu.


Tatapan Genzo nanar memperhatikan semua foto anggota keluarganya. "Di mana kalian.." ucap Genzo pelan. Lalu ia mengambil salah satu foto keluarganya saat di foto bersama. Kemudian ia duduk di sofa mendekap erat foto itu, dan menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ayah..Ibu..maafkan aku.." gumam Genzo pelan, matanya terpejam.


Tiga puluh menit, Genzo diam duduk di sofa mengingat semua kenangan indah namun menyakitkan saat di kenang. Detik brrikutnya, ia berdiri lalu mengambil semua foto keluarganya dan kembali meninggalkan rumah itu. Genzo memutuskan untuk tinggal di mansionnya dan membiarkan rumah itu kosong.


***


Entah sudah berapa lama ia duduk di kursi menatap layar monitor, sesekali ia mendesah kecewa sambil mengangkat cangkir kopi yang ada di atas meja dan menyecapnya perlahan.


Tak lama kemudian suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, nampak Joe berjalan menghampiri kursi lalu duduk di hadapan Genzo dan meletakkan tumpukan dokumen di atas meja.


"Bagaimana Paman?" tanya Genzo. Tangannya mengambil dokumen berwarna coklat lalu membukanya.


"Kitaro bekerja di Kepolisian, begitu juga Ariela. Menurut informasi yang kudapatkan mereka menjadi tim yang hebat dalam mengungkap kasus besar sindikat mafia dan mendapat penghargaan dan juga kenaikan jabatan." Joe menjelaskan kedua sahabat Genzo.


Genzo terdiam menatap tajam Joe, sungguh kabar yang mengejutkan sekaligus menjadi hambatan buat langkah Genzo selanjutnya.


"Alexa?" tanya Genzo.


"Alexa masih sama seperti dulu, putri salah satu gangster paling di takuti di kota ini." Ungkap Genzo lagi.


"Keluargaku?" tanya Genzo tatapannya semakin dingin menusuk.


"Tuan Ryu dan Nyonya Davira di bebaskan dari penjara dan tinggal di sebuah pulau terpencil namun pulau itu di rahasiakan pihak pemerintah. Sementara Nona Angela menikah dengan Tuang Aranza dan memiliki putri berusia 3 tahun. Nona Aira sendiri sudah menjadi hakim terkenal di kota ini.


Genzo terdiam menutup dokumennya dengan kasar. Giginya gemeletuk, rahangnya mengeras menahan gejolak amarah yang sulit ia jelaskan.


"Oma..Opa..? tanya Genzo.


Tuan Kenzi dan Nyonya Siena kami tidak menemukan informasi apapun, Tuan Muda. Bahkan kami sudah berusaha mencari tahu lewat Nona Angela dan Nona Aira. Namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan Nyonya Siena dan Tuan Kenzi.


"Apakah mereka merindukanku? mengingatku?" tanya Genzo seraya mendekatkan wajahnya.


Joe hanya menggelengkan kepala sebagau jawaban. Bahwa Angela dan Aira sudah menganggap Genzo sudah mati.


"Maaf Tuan Muda.."


Genzo menarik wajahnya kembali, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Benarkah mereka lupa? benarkah Genzo sudah tidak ada di hati mereka lagi?


"Perintahkan orang orang untuk mencari pulau terpencil itu, temukan ayah dan ibuku!" perintah Genzo


"Ayah..Ibu..aku sangat merindukanmu..lihat Ayah..Ibu..aku datang..aku masih putra kecilmu."


***


Keesokan harinya Genzo memutuskan untuk menghadiri pertemuan penting pemilihan ketua K14 Yakuza dan Ketua Mafia. Kedua ketua kejam terdahulu telah tertangkap Polisi dan di jatuhi hukuman mati.


Sebelum berangkat Genzo mempersiapkan diri, ia tidak ingin di kenali. Oleh sebab itu Genzo menggunakan topeng kulit sesuai dengan warna kulit, sehingga waahnya tidak di kenali siapapun. Dengan menggunakan topeng kulit dan sedikit menggunakan tipuan luka sayatan di topeng kulit itu, hingga menampilkan kesan angker dan wajahnya terlihat sangat jelek. Selain itu, Genzo tidak pernah menggunakan namanya lagi, ia lebih di kenal dengan nama Dareen.


Setelah selesai, ia dan anak buahnya termasuk Joe bergegas menuju gedung tempat di adakannya pemimpin baru untuk kedua gangster itu.


Hanya butuh waktu lima belas menit dari mansion milik Genzo. Mereka telah sampai di gedung pertemuan itu. Genzo langsung keluar dari dalam mobil bersama Joe yang sama menggunakan topeng kulit namun tidak terlalu buruk seperti Genzo. Mereka berdua di sambut dengan baik dan di persilahkan memasuki gedung. Sementara anak buah Genzo menunggu di luar gedung dan berjaga jaga jika terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan.


Di dalam gedung mereka berdua di sambut para pentolan K14 dan anggota mafia Sisilia. Mata Genzo teralihkan pada seorang sosok wanita berparas cantik, wanita yang ia kenal dan pernah ia cintai sampai sekarang.


"Alexa.." ucap Genzo dalam hati. Ia melangkah hendak menghampiri wanita itu namun langkahnya terhenti saat seorang pria berwajah tampan lebih dulu mendekati Alexa dan mencium pipi wanita itu dengan mesra.


"Siapa pria itu? kekasihnyakah?" tanya Genzo dalam hati.


"Tuan Dareen, silahkan duduk!" salah satu pentolan K14 mempersilahkan Genzo untuk duduk di kursi yang telah di sediakan.


Genzo dan Joe kemudian duduk di kursi bersama anggota lainnya. Namun tatapan Genzo terus tertuju pada Alexa yang sedikitpun tak melihat ke arah Genzo.


"Alexa..kau telah banyak berubah, tapi hatiku tetap sama.." ucap Genzo dalam hati. Ia sama sekali tidak memperhatikan yang lain. Meski pemilihan ketua tengah berlangsung.


Lamunannya buyar saat terdengar tepuk tangan dari beberapa anggota mafia yang sepakat dengan terpilihnya ketua baru. Genzo menatap ke arah pria yang baru saja menjadi pemimpin mereka yang tak lain pria yang mencium pipi Alexa.


Setelah selesai mereka semua bersulang dan mengucapkan selamat pada pria tersebut, namun Genzo memilih meninggalkan ruangan itu dari pada harus berlama lama melihat kemesraan Alexa dan pria tersebut.


Sesampainya di halaman gedung, Genzo dan juga Joe memutuskan untuk kembali ke mansionnya. Sepanjang perjalanan, Genzo enggan untuk mengomentari pemilihan ketua baru, ia asik membayangkan wajah Alexa. Hingga tak terasa mereka telah sampai di mansion miliknya.


Namun baru saja mereka sampai di halaman Mansion. Genzo dan Joe di kejutkan dengan terikan seorang gadis yang tertangkap basah menjadi penumpang gelap di dalam mobil tanpa di ketahui Genzo dan juga yang lainnya.


"Pencuri! kau harus mendapatkan hukuman!" seru salah satu anak buah Genzo.


"Ampun Tuan, aku tidak mencuri. Aku hanya menumpang, karena aku di kejar kejar penjahat." Jelas gadis itu melipat kedua tangannya.


Genzo menatap gadis yang menggunakan kaos longgar dan celana jeans yang di kenakan gadis itu, lalu memperhatikan wajahnya yang terlihat cantik meski tanpa make up. Rambutnya yang keriting panjang di ikat sembarangan.


"Bawa dan kurung dia!" perintah Genzo.


"Tidak Tuan, aku mohon lepaskan aku. Aku janji tidak akan banyak bicara.." pinta gadis itu setengah mata terpejam memperhatikan wajah Genzo yang menggunakan topeng kulit.


"Cepat bawa!" sela Joe.


"Baik Tuan!" sahut pria itu lalu menarik paksa tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam mansion.


***


Malam pukul 9:30


Gadis yang berada di dalam tahanan di bawa salah satu anak buah Genzo lalu di bawa menghadap Genzo.


Genzo yang tengah mabuk akibat frustasi melihat Alexa dengan pria lain. Membuatnya patah hati, selama ini Genzo masih menyimpan cintanya untuk Alexa. Ia kembali ke Hongkong selain demi keluarga dan membalaskan dendam. Ia juga berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan Alexa.


"Pergilah!" perintah Genzo pada anak buahnya.


"Baik Tuan!" sahut pria itu lalu berjalan mundut meninggalkan ruangan tersebut.


Kini tinggallan gadis itu bersama Genzo yang tengah duduk di sofa menatapnya tajam, sesekali ia menenggak botol minuman di tangannya tanpa bicara sepatah katapun. Kemudian detik berikutnya ia mulai angkat bicara.


"Siapa namamu?" tanya Genzo menatap gadis di hadapannya yang hanya menundukkan kepalanya.


"Kau tidak perlu tahu namaku!" jawab gadis itu mengangkat wajahnya menatap ke arah Genzo.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Genzo lagi.


"Tidak ada Tuan, aku tidak sengaja masuk ke dalam mobil hanya untuk menghindari penjahat yang mengejarku." Ungkap gadis itu ketakutan.


"Bohong!" seru Genzo marah.


"Tuan, aku-?"


"Buktikan kalau kau tidak berbohong!" potong Genzo. Lalu ia berdiri dan mengambil satu botol minuman di atas meja, dan menghampiri gadis itu.


"Jika memang kau tidak berbohong, minum ini. Cepat!" perintah Genzo.


"Tapi Tuan?"


"Minum!" perintah Genzo memaksa. Ia bermaksud membuat gadis itu mabuk supaya bisa berkata jujur apakah dia gadis yang sengaja menyelendup untuk jadi mata mata atau bukan.


Dengan ragu ragu dan setengah ketakutan, gadis itu mengambil botol minuman di tangan Genzo lalu meminumnya, lalu ia muntahkan kembali karena rasanya sangat aneh di lidah gadis itu. Namun Genzo memaksanya hingga tetesan terakhir, tidak berhenti di situ. Genzo kembali memberikan setengah minuman di tangannya lalu memaksa gadis itu untuk meminumnya lagi. Hingga gadis itu benar benar mabuk dan tidak dapat mengontrol kesadarannya lagi.


Genzo yang sedang frustasi dan mabuk, merasa ada teman akhirnya ia kembali memberikan minuman itu pada gadis tersebut hingga ambruk di lantai tertawa cekikan di bawah pengaruh alkohol begitu juga Genzo.


Hari semakin larut malam, dua manusia tengah mabuk berat di ruangan itu, tertawa bersama di bawah pengaruh Alkohol membuat Genzo memiliki keberanian menyentuh dagu gadis itu dan menyentuh pelan wajahnya lalu pindah ke rambut gadis itu lalu ******* bibirnya dengan liar.


Sementara gadis itu yang sama sama di pengaruhi alkohol, tidak menolak hasrat Genzo yang menggebu gebu. Malam itu, malam di mana Genzo tanpa sadar merenggut kesucian gadis itu. Setiap sudut ruangan menjadi saksi bisu apa pun yang Genzo lakukan pada gadis tersebut. Terdengar desahan napas saling memburu dan teriakan kecil dari bibir gadis tersebut.


Satu jam berlalu, di ruangan itu sepi tanpa ada suara. Hanya terdengar bunyi jam dinding dan desahan napas yang teratur dari kedua anak manusia yang tertidur kelelahan tanpa sehelai benangpun di atas karpet lantai.