THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
You are dead



Entah sudah berapa lama Siena duduk meringkuk di bawah pohon. Matanya sembab, rambutnya berantakan. Bahkan ia ia tidak perduli dengan sekelilingnya. Perlahan ia menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang ia kenakan. Siena bangkit dari duduknya, memperhatikan sekitar sesaat.


"Sudah mulai sore, mungkin anakku sudah menunggu di rumah," gumam Siena pelan. Lalu ia membenarkan kerudungnya supaya menutupi sebagian wajahnya yang rusak. Ia melangkahkan kakinya menyusuri tepi jalan sembari menundukkan kepalanya, ia malu jika ada orang yang melihat wajahnya.


Ia semakin mempercepat langkahnya, tapi sialnya karena ia berjalan merundukkan kepala, tanpa sengaja menabrak seorang pria yang tengah berdiri sembari menelpon. Hingga akhirnya ponsel miliknya terjatuh ke jalan dan berantakan.


'Ma, maaf Tuan," ucap Siena pelan tangannya tetap memegang ujung kerudung supaya tidak lepas.


"Maaf, maaf, kalau jalan lihat lihat!" gerutu pria itu kesal. Lalu ia membungkukkan badan mengambil ponselnya yang berantakan.


"Kau lihat? ponselku rusak gara gara kau!"


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja." Siena membungkukkan badannya lalu kembali melangkahkan kakinya, tapi pria itu masih kesal pada Siena. Lalu ia menarik ujung kerudung Siena hingga terlepas. Siena langsung balik badan coba menarik kembali kerudungnya, tapi sayang kerudungnya jatuh ke bawah.


Pria itu terkejut melihat wajah Siena, ia langsung balik minta maaf padanya, "Maaf Nyonya." Kemudian ia memungut kerudung milik Siena lalu di berikan padanya.


"Terima kasih." Siena mengambil kerudung di tangan pria itu lalu memakainya kembali. "Saya permisi tuan." Siena membungkukkan badannya sesaat lalu balik badan.


"Hei, kau mau kemana?" tanya pria itu menarik lengan Siena.


"Saya mau pulang tuan, anak anak saya sudah menunggu di rumah."


Pria itu terdiam sesaat, "aku antar kau pulang, sebentar lagi gelap. Ayo." Pria itu menarik lengan Siena.


"Terima kasih Tuan." Siena tidak menolak tawaran pria yang seusianya itu. Kakinya cukup lelah untuk terus berjalan.


Sepanjang perjalanan Siena hanya diam, ia tidak dapat melupakan kejadian tadi di rumah Kenzi. Tiada bisa ia lupakan saat yang indah bersama Kenzi, semua kenangan dan kebiasaan yang telah mereka lewati telah menjadi kenangan. Kini ia merasa sendiri benar benar sendiri, tiada lagi Kenzi di sampingnya yang akan menemani hari hari melewati suka dan duka.


"Jika itu yang terbaik untuk diriku, walau berat berpisah denganmu. Aku iklas, kau telah mengingkarinya, kau telah mengkhianati semua yang telah kau janjikan padaku," gumam Siena dalam hati.


"Sudah cukup aku menderita, sudah cukup aku menangis," tangannya mengusap air matanya dengan ujung kerudung, pria yang mengemudikan mobil sesekali melirik ke arah Siena.


"Kau pengkhianat! kau telah mengkhianatiku, Kenzi!" jerit Siena dalam hati.


Pikiran boleh menyangkal, bahwa ia bisa dan iklas. Namun hati tidak dapat ia pungkiri, luka yang Kenzi berikan terlalu dalam menyakiti perasaannya. Wanita mana yang bisa tahan melihat suaminya tengah bercinta dengan wanita lain, apalagi situasinya dalam keadaan buruk.


"Namamu siapa?" tanya pria itu membuyarkan lamunan Siena.


"Siena." Ia menjawab dengan singkat.


"Avram." Pria itu menyebut namanya, tapi Siena sama sekali tidak perduli. Saat ini hatinya sedang hancur.


Tak lama mereka telah sampai di depan rumah Siena. Pria itu menepikan mobilnya.


"Terima kasih telah memberiku tumpangan." Siena tersenyum samar, lalu membuka pintu mobil.


Avram hanya menganggukkan kepalanya, ia memperhatikan Siena yang melangkahkan kakinya menuju rumah.


"Sepertinya dia sedang mengalami hal yang buruk, wajahnya terlihat menakutkan. Tapi senyumannya sangat manis." Avram bicara sendiri. "Tidak ada salahnya kalau aku ingin mengenal Siena dan keluarganya." Avram tersenyum lalu ia memutar mobilnya setelah memastikan Siena masuk ke dalam rumahnya.


***


"Bagaimana Bu? apa ada kabar tentang Ayah?" tanya Jiro memapah tubuh Siena duduk di kursi, sementara Angela membawakan air mineral untuk Siena.


Mendapat pertanyaan seperti itu, hati Siena semakin teriris perih. "Aku tidak akan mengatakan kalau Ayahnya masih hidup dan tengah bahagia bersama wanita lain. Rasa bangga mereka terhadap Ayahnya tidak boleh ternodai oleh kebencian," ucap Siena dalam hati.


"Ibu kenapa?" tanya Angela khawatir.


Siena menarik napas dalam dalam, ia pejamkan matanya sesaat. "Ayahmu sudah mati."


"Apa?!" Jiro menatap tajam Siena. "Jadi benar apa yang di beritakan selama ini?"


Siena menganggukkan kepalanya, lalu tangannya terulur menarik bahu kedua anaknya.


"Doakan saja dia tenang, yang terpenting sekarang kalian masih punya Ibu." Siena memeluk erat keduanya. "Kita fokus cari adikmu Ryu."


"Kau benar Bu," sahut Jiro.


Siena terdiam, bibirnya tersenyum tapi batinnya menangmenangis.


***


Sementara itu Kenzi yang tengah betistirahat di kamarnya, ia tidak dapat memejamkan matanya. Bayangan Siena dan kedua putranya terbayang bayang di pelupuk mata.


"Sayang, maafkan aku yang telah mengkhianatiku. Beristirahatlah kau dengan tenang di sisiNya," gumam Kenzi, berpikir kalau keluarganya tidak ada yang tersisa.


Perlahan ia bangun lalu turun dari atas tempat tidur, berjalan menghampiri jendela menatap lurus ke depan.


"Kenapa aku tidak mati saja Tuhan, buat apa aku hidup seperti ini. Aku benar benar malu dan menjijikkan," ucap Kenzi merasa dirinya sudah kotor. Matanya terpejam mengingat wajah Siena. Ia menundukkan kepalanya mendesah kecewa. Sepintas mata, ia melihat sesuatu yang bersinar di bawah jendela kamarnya. Perlahan senyumnya mengembang, saat teringat dulu. Sewaktu memberikan hadiah ulang tahun untuk pertama kalinya pada Siena. Sebuah kalung liontin, kalung itu akan bersinar berwarna biru apabila terkena cahaya lampu.


"Kalung?" Kenzi buru buru keluar dari kamarnya menuju tempat di mana sinar itu berada.


"Kalung liontin?" Kenzi membungkukkan badannya mengambil kalung liontin yang bersinar biru terang. Ia menatap kalung itu di tangannya. Rasa penasaran semakin kuat, ia memperhatikan dengan seksama kalung itu.


"Milik siapa ini?" Kenzi bergegas masuk lagi ke dalam rumah, lalu menyalakan layar monitor, di rumahnya terpasang cctv untuk memastikan ia tidak kecolongan seperti dulu lagi dari pihak musuh yang mungkin masih punya rasa dendam. Kemudian ia memutar kejadian dari pagi hingga detik ini. Kenzi terdiam saat melihat seorang wanita berpakaian warna hitam, kepalanya menggunakan kerudung hitam tengah mengintip lewat kaca jendela.


"Siena kah? kau kah itu?' gumam Kenzi.


" Ya Tuhan, jika benar itu istriku. Apa yang sudah kulakukan padanya." Kenzi memukul kepalanya sendiri berkali kali.


Kenzi kembali menatap kembali layar monitor, memperhatikan langkah kaki wanita di dalam layar itu.


"Ya Tuhan, itu Siena istriku!" pekik Kenzi menutup mulutnya sendiri.


Meski wajahnya tidak nampak, namun Kenzi sangat mengenali tubuh mungil Siena.


"Apa yang sudah kulakukan Tuhan.." Kenzi mematikan layar monitor saat suara pintu ruangan terbuka. Nampak Laila berdiri di ambang pintu tersenyum padanya.


"Ah, aku bodoh!" ucapnya dalam hati.