
Happy reading
Setelah pelajaran selesai, Albian dengan beberapa temannya berlalu menuju ruang ganti karena setelah ini mereka harus latihan basket untuk turnamen satu bulan lagi.
"Oy, ke kantin dulu yuk. Laper nih, daripada nanti pas latihan loyo," ajak Karen pada teman-temannya.
"Kalian duluan aja nanti gue nyusul," ujar Al yang memang masih memakai sepatunya itu.
"Gak lah kita kan friend jadi kita bakal tungguin lu," ujar Diky dan dianggap oleh mereka.
"Thanks ya."
Mereka ber sepuluh, berlalu bersama menuju kantin. Canda tawa mereka layangkan dengan senang.
"Kapan-kapan kita ke rumah lu ya, kangen si kembar gue. Apalagi tingkah manja adik perempuan lu, pengen deh gue kawinin," ujar Diego pada temannya itu.
"Awas aja kalau sampai lu kawinin adik gue, leher lu jaminannya," canda Al tapi penuh dengan ancaman.
"Hulu ngeri bos."
Mereka memesan makanan di kantin itu beserta air dingin untuk nanti walau banyak yang memberi mereka minum lebih tepatnya Albian.
Setelah selesai makan siang, mereka berlalu menuju lapangan dimana sudah ada pelatih disana plus dengan penonton yang rata-rata adalah perempuan.
"Cewek itu lagi," batin Al menatap perempuan yang selama ini mengikutinya lebih tepatnya ia penasaran.
Keyra yang merasa ditatap itu tersenyum dan bersembunyi diantara penonton. Tapi Al masih bisa melihat senyum itu.
Deg! Deg! Deg!
"Kenapa dengan jantungku?" tanyanya dalam hati.
"Woy ngelamun aja lu, ntar kesambet gak ada yang nolong loh," canda Putra menepuk pundak Albian.
"Di panggil Pak Edi tuh," ujarnya dengan
Albian mengangguk dan mengikuti Putra kearah anak anak berkumpul.
Setelah mendapat arahan dari pak Edi selaku pelatih, mereka mulai mengatur formasi dan latihanpun dimulai.
Sedangkan disudut lapangan lebih tepatnya di kursi penonton, Keyra menatap Albian yang tampak tampan disana. Para cewek itu terus menyoraki nama Albian dan yang lain sedangkan Keyra hanya diam dengan tangan yang meremas botol minumnya.
"Aku terlalu malu untuk memanggil namamu Al," batin Keyra dengan sendu tanpa terasa air matanya sedikit keluar tapi dengan cepat ditahan olehnya.
"Lu kenapa nangis?" tanya Laras yang ikut menonton latihan idolanya itu.
"Gak apa-apa cuma kelilipan debu," jawabnya bohong. Ia menatap sahabatnya dengan senyum.
"Oh lu bawa air minum juga buat siapa?" tanya Laras pada sahabatnya.
"Buat gue sendiri emang kenapa," tanya Keyra dengan santai. Padahal niatnya tadi minuman ini untuk Albian yang sedang bermain.
"Oh gue kira buat salah satu dari mereka, gue juga bawa nih buat Albian," ujarnya dengan senyum mengembang.
"Gak yakin gue bakal diterima," ujar Keyra membuka tutup botolnya.
"Usaha Key, siapa tahu dia nerima," ujar Laras dengan senyum manis.
Pandangan mereka kembali tertuju pada lapangan yang penuh akan sorakan para wanita yang mengidolakan Albian.
"AL SEMANGAT."
"AKU PADAMU AL."
"KAK AL SARANGHEO."
"KAK ALBIAN SEMANGAT DEDEK DISINI UNTUKMU."
"AL NANTI KALAU LU MENANG GUE HADIAHIN CIUMAN BIBIR GUE JANJI DEH."
"HUUUUUUU."
"KAK AL LOVE YOU. "
"Gue harap lu bisa terus keluarin senyum itu Key. Terlepas dari apa yang lu alami selama ini, gue mau Key yang dulu," batin Laras tersenyum. Ia serasa melihat sahabatnya dulu.
Laras kembali melihat ke arah lapangan dan tujuannya mengarah ke Al yang sudah berkeringat itu dengan kaos yang sudah basah akan keringat menambah kesan tampan dalam diri Albian.
"AAAA AL, SEMANGAT!!" teriak Laras yang membuat Keyra melunturkan senyumnya.
"Ayo Key, semangatin kak Al," desak Laras.
"Lu aja deh Ras, gue cukup untuk melihat apa yang ada dihadapan gue aja," jawabnya dengan santai bahkan ia meminum air yang ia bawa tadi.
Laras tak bisa memaksa untuk sahabatnya ini memberi semangat untuk Albian.
Setelah 1 jam bertanding di istirahatkan, para ciwi berbondong untuk turun dari bangku penonton menuju lapangan untuk memberikan air dan handuk yang mereka bawa.
Keyra yang melihat itu hanya diam di kursinya, segitu populernya Albian.
"Al ini gue bawa handuk sama air buat lu."
"Jangan Al! Punya gue aja udah dijamin bersihnya."
"Enak aja Al cuma boleh nerima punya gue ya."
"Daripada punya kakak kakak ini mending ambil punyaku kak."
"Maaf ya semua bukannya aku nolak tapi aku udah beli tadi. Jadi itu buat kalian aja, selamat menikmati permainan kita," ujar Albian tanpa senyum sama sekali.
Albian sempat melirik keatas sana dan masih terlihat perempuan yang malu malu itu. Tak mau perempuan itu pergi lagi Albian tak menatapnya lama. Ia kembali ke kumpulan teman temannya dan permainan kedua kembali di mulai.
Skip
Tak terasa kini sudah jam 3 sore, latihan basket mereka sudah selesai. Albian pamit dulu dengan teman-temannya karena ia sudah janji dengan adik adiknya.
"Gue duluan ya, udah janji sama triple tadi. Kalau ingkar bisa digorok leher gue sama mereka," ucap Al pada teman-temannya.
"Yoi bro, titip salam buat tante cantik," pesan Farel yang sangat mengidolakan Mama Ariana.
"Siap, itu mah kalau gitu gue pergi dulu semua."
Setelah mendapat persetujuan dari semua teman temannya Albian berlalu meninggalkan lapangan dan mengambil tasnya yang ada ruang ganti.
Albian berlalu menuju parkiran motornya, dan berlalu meninggalkan tempat itu. Lagi dan lagi ia harus melihat cewek yang menghindarinya itu sedang duduk di halt.
"Hei."
Keyra menoleh, dan betapa terkejutnya jika yang menyapanya adalah Albian. Tapi ia masih sempat tersenyum pada Albian.
Deg
"Senyumnya astaga manis banget," batin Al terpesona akan senyum manis wanita ini.
"Lu lagi nungguin bus?"
"Ya."
"Bareng gue aja yuk, gue lihat lu juga ada di halte dekat rumah gue. Pasti sejalan."
"Kamu duluan aja, aku masih maununggu bus," jawabnya.
"Gue gak terima penolakan sekali gue ngajak lu harus mau," ujar Albian memaksa Keyra untuk pulang bersama.
Tak kunjung mendapat jawaban dari wanita itu membuat Albian sedikit kesal dan menarik tangan Keyra.
"Maaf Al. Aku naik bus aja," ujar Keyra dengan menangkupkan kedua tangannya.
Bertepatan dengan bis yang biasa ia tumpangi datang. Keyra langsung meninggalkan Albian disana.
"Gagal lagi, kenapa sih susah banget cuma mau tahu namanya aja," batin Al kesal.
Albian kembali menjalankan motornya dan berlalu menuju mansion walau sedikit kesal, daripada ia di bejek bejek adik adiknya bisa gawat jika itu terjadi.
Bersambung