Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Teringat masa lalu



Harap bijak memilih bacaan.


Happy reading


"Mas!"


"Ya sayang kenapa?" tanya Alex yang baru saja keluar dati kamar mandi.


"Kangen Bian Mas!"


Dengan mata berkaca, mereka sekarang sedang berada di Maldives, Maladewa, Sri Lanka sana. Kemarin setelah dua hari dibali mereka langsung terbang menuju tempat kedua.


"Kita vidcall aja ya yank, Mas juga kangen sama anak gembul kita itu," ujarnya mendekat kearah istrinya.


Dengan antusias Ariana mengangguk, tak lupa dengan senyum manis ia menunggu panggilan itu terhubung.


Alex mendeal nomor Papa Zain, dan akhirnya diangkat oleh yang punya ponsel.


"Halo pa."


"Halo Nak Alex, kenapa?"


"Bian disana pa?" tanya Alex pada papa mertuanya.


"Ada lagi main sama omanya," jawabnya mengarahkan kearah istrinya dan cucunya yang sangat akur itu.


"Ria mau ngomong sama Bian pah, kangen soalnya," sambar Ariana menatap putranya yang masih saja imut dimata siapapun.


Papa Zain mengangguk dan memberikan ponselnya pada sang istri.


"Sayang lihat itu siapa," tunjuk Mama Mariana pada cucunya.


"Mama....." pekik Bian dengan senyum.


"Hei anak Mama, sehat kan? Gak rewel kan disana sama oma dan opa?" tanya Ariana tanpa sadar mengeluarkan air matanya.


"Dia pintar kok, mungkin Bian tahu Mama Papanya ada urusan ya kan nak?" jawab Mama Mariana pada cucunya.


"Hmm. Toling jaga Bian ya Ma. Dua hari lagi Ria pulang kok."


"Iya sayang, kalau mau nambah hari lagi buat honeymoon gak apa-apa," ujar Mama Mariana yang senang akan kehadiran sang cucu.


"Maaaaa biii errrraaaaaaannnn." Celotehnya mendekap tubuhnya sendiri.


"Iya sayang. Mama juga kangen Bian," ujarnya.


Alex uang melihat istrinya menangis itu hanya bisa memeluknya dengan satu tangan yang menghapus air mata Ariana


"Udah jangan nangis."


"Tapi kangen Bian mas," ujarnya pada Alex.


"Gak lama kita pulang kok sayang," ujarnya dengan senyum.


Dari seberang mama Mariana yang mendengar percakapan anak an mantunya itu ikut bahagia. Ia merasa Alex sangat bertanggung jawab akan gelarnya kini sebagai seorang ayah dan suami.


"Paaaa."


Pandangan mereka seketika tertuju pada Bian yang terlihat dilayar ponsel.


Mereka berbincang bincang hingga Bian waktunya mandi. Panggilan video itu terputus. Kini hanya tinggal Ariana dan Alex yang menatap foto anak mereka.


"Bian makin pintar ya mas," ujar Ariana pada sang suami. Ia menyandarkan kepalanya didada sang suami.


"Iya sayang, dia juga makin lincah. Kadang aku sedih mengingat saat kamu mengandung Bian dulu, selama 8 bulan aku gak ada," ujarnya pada istrinya.


"Aku juga yang salah, gak minta penjelasan kamu dulu. Maafin Ria ya mas," ujar Ariana menelusupkan kepalanya kedalam kaos oblong sang suami.


"Sayang kamu ya," gemas Alex pada istrinya. Alex membuka kaos yang ia pakai.


"Sini tidur, aku tahu kamu capek," ujar Alex menarik tubuh istrinya untuk tidur diatas dadanya. Persis seperti Baby Bian jika akan tidur.


"Nyaman," gumamnya mengendus aroma tubuh sang suami yang sangat menenangkannya itu.


"Maaf jika membuatmu tak sempat istirahat," ujar Alex mengelus punggung sang istri.


"Udah kewajiban aku sebagai istri mas," ujarnya menatap wajah tampan suaminya.


"Aku bahagia memiliki kamu dan Bian," ujarnya dengan senyum.


"Aku juga bangga memiliki suami seperti kamu, maaf jika dulu aku menyusahkanmu karena harus mengajariku ari nol sampai aku bisa mandiri sekarang," ujar Ariana.


Mereka mengingat saat dimana Alex harus mengajari Ariana mencuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel lantai, masak. Hingga sekarang Ariana lebih pandai memasak daripada dia.


"Hei sayang, aku malah menginginkan saat saat itu terulang kembali, aku ngajari kamu masak walau sesekali aku curi pelukan dari kamu," ujarnya pada sang istri.


"Dan kamu ingat betapa polosnya aku saat kamu menyebut anakonda. Aku pikir kau beneran memelihara anakonda mas, ternyata itumu, duh malu jika mengingat itu."


"Tapi kamu menyukainya hmm. Bahkan berberapa kali kamu minta nambah," ujarnya pada sang istri.


"Habisnya keenakan sih," jawabnya tanpa filter.


"Aku harap anak kita nanti mendapat istri dari kalangan sederhana, gak bisa bayangin anak orang kaya yang bisanya hanya minta tanoa mau berusaha. Masa cuma bisa masak air. Kan kalau orangnya sederhana bisa memenuhi kebutuhan anak kita," ujarnya.


"Tidak juga sayang, kadang orang yang hidup sederhana malah mengandalkan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhannya," ujar Alex lembut.


"Heemm, tapi intinya aku mau yang terbaik untuk anak-anak kita. Mau itu kaya, miskin, atau apalah. Yang penting hatinya," ujar Ariana.


"Aku setuju dengan katamu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat berbeda ada seorang wanita dengan pakaian polos digilir oleh 3 pria yang sama polosnya. Dia adalah Sinta. Semua ini hukuman dari Papi Arthur karena sudah berani mengusik cucunya dan nyawa istrinya.


Yah kemarin saat Bian bermain ditaman dengan Mami Gloria dan berberapa baby sister, Sinta datang menghampiri Bian yang sedang bermain bola.


Mengetahui niat jahat Sinta, Mami Gloria langsung menggendong sang cucu untuk menjauh dari Sinta. Entah apa yang merasuki wanita itu hingga ia mengejak Mami Gloria dan melukai lengan Mami Gloria. Dengan sigap bodyguard mengamankan Sinta dimarkas sahabatnya dulu.


Dan disinilah Sinta sekarang, sebuah ruangan yang bahkan gudangpun lebih baik daripada ruangan ini.


"Ouhh cukup ahhh aku takhhh kuat," rintihnya disela desa hannya.


"Cih ini sebuah kenikmatan nona, harusnya Anda berterima kasih karena tuan besar tak membunuh Anda," ucap pria itu menghujam kasar pusakanya kemilik Sinta.


Kedua pria yang memang pencandu se* itu merasa tak nafsu dengan tubuh ini, tapi tak apa anggap saja sebagai makan siang.


"Gue gak suka bodynya, banyak lemak dan terlalu norak."


"Hmm aku pun, aku lebih baik menyewa jalan* daripada dia."


"Tapi ini perintah."


"Oke gas lah," ujarnya.


"Ahhh ahhhhh aakkuuuuhhh mohonn lepas ahh kan aku."


"Tidak semudah itu," ujar pria satunya.


"Ahhh sakitt ohhh lebih cepat.. ahhhhh ouhhh hhhh."


Kedua pria itu memasukkan pusaka mereka bersamaan sedangkan satunya memasukkan pusakanya kemulut Sinta dan melajukannya dengan kencang.


Mata Sinta memerah menahan sakit, nikmat, dan perih berlabu menjadi satu hingga ia tak kuat dan pingsan disana.


"Dia tepar."


"Cih gak guna, argghh."


Mereka menyudahi aktifitas mereka dan memborgol kembali tubuh Sinta.


Bersambung


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, KASIH HADIAH SEIKHLASNYA AJA. FAVORITKAN JUGA YA.


📌Nafsu Atau Cinta (On going) Cerita Mami Gloria dan Papi Arthur