
Happy reading
Matahari sudah terbit dari ufuk timur, cahaya silau dudah masuk kesela-sela jendela kamar para manusia. Tak terkecuali dua manusia yang sedang tidur berbalutkan selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya.
Luna mengerijabkan matanya hingga mata indah itu terbuka sempurna. Ia yang merasa tubuhnya remuk redam itu bangkit dari tidurnya. Ia menatap lelaki yang telah menodainya malam tadi dengan sendu.
"Maafkan Luna, ayah.... Clara," ucapnya dengan air mata.
Dengan pelan Luna memunguti pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Luna menangis di bawah shower dengan menggosok seluruh tubuhnya yang sudah terjamah oleh Nico dengan kasar.
"Aku kotor hiks," ucapnya dengan tangis yang tak kunjung mereda.
Setelah puas dengan ritual mandinya, Luna keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang kemarin ia pakai.
Luna sempat menoleh kearah Nicola yang masih belum sadar karena pengaruh alkohol itu. Dengan sejuta rasa sakit, Luna melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Rasa sakit di intinya membuatnya harus berjalan pelan menuruni tangga mansion megah itu.
Saat turun dari tangga, Luna melihat sahabatnya yang sedang bercanda ria dengan anak dan suami itu membuat Luna tersenyum. Ia hanya berharap semoga ia mempunyai keluarga yang bahagia suatu saat.
"Ria, Alex, gue pamit ya. Udah pagi juga," ucap Luna menghampiri keluarga kecil itu.
"Loh emang kamu sudah sarapan?" tanya Ariana menatap sahabatnya itu.
"Nanti aja," jawabnya.
"Mata kamu kenapa sembab?" tanya Alex pada saudara sahabatnya itu.
"Oh... ini gara-gara nonton drakor sampai nangis-nangis," jawabnya bohong. Luna memang pecinta drakor dan juga sangat mengidolakan salah satu idol kpop disana.
"Kamu ini, lain kali jangan nonton sampai larut. Kesehatan kamu juga penting, apa lagi tuh lihat mata kamu kayak bintitan," ledek Ariana pada Luna.
"Ihh aku gak sejelek itu sampai bintitan," cebiknya menggendong sebentar Baby Bian yang sangat penurut itu.
"Aunty pulang dulu ya, kapan-kapan kita ketemu lagi. Kita jalan-jalan keliling desa," ucap Luna yang hanya dibalas pekikan oleh Bian.
Luna mengembalikan Bian keorang tuanyadan pamit untuk pulang. Mau mencegah untuk tidak pulang, Ariana tak punya hak untuk itu.
"Aku harap kita tidak bertemu," gumamnya menatap bangunan besar itu dengan sakit di hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nicola mana mas? Kok belum ada turun. Sektetaris Vito juga," tanya Ariana pada sang suami.
"Vito sudah pulang malam tadi, kalau Nicola mungkin dia masih tidur karena malam tadi ia banyak minum," jawabnya pada sang istri.
"Minum?" tanya Ariana menatap suaminya dengan tak enak.
"Mati aku kenapa sampai keceplosan," batin Alex merutuki kebodohannya.
"Mas... Jawab yang jujur. Kamu simpan minuman haram itu dimana?" tanya Ariana dengan nada tak santai.
Ariana selalu dilarang keras oleh orang tuanya untuk menggunakan minuman haram itu. Dan Ariana akan menurunkan larangan itu untuk sang suami dan anak-anak kelak.
Akhirnya Alex memberi tahukan dimana letak ia menyimpan minuman mahal itu, entah apa yang skan dilakukan sang istri dengan minumannya itu.
Sebenarnya Alex bukan peminum, tapi ia hanya mengoleksinya saja. Awalnya ia melihat situs diinternet yang menjual minuman iti dengan harga mahal dan ia iseng membelinya hingga akhirnya Alex kecanduan mengoleksi minuman itu.
"Sayang, jangan dibuang ya. Mending dijual aja," ujar Alex.
"Karena harganya mahal," jawabnya membuka pintu ruangan itu.
"Kamu sering minum ya?" tanya Ariana pada suaminya yang berjalan lebih dulu itu.
"Enggak, cuma koleksi aja," jawabnya membuka lemari kaca itu.
"Waw kenapa ini ada berliannya?" tanya Ariana menunjuk salah satu botol yang ditempeli berliannya.
Dalam lemari itu terdapat banyak botol minuman mulai dari yang murah hingga yang harganya bukan kaleng-kaleng. Mulai dari Macallan 64 Year Old in Lalique seharga Rp8,9 milyar.
Mendis Coconut Brandy VS seharga Rp14 milyar.
Diva Vodka seharga Rp14,5 milyar.
Russo Baltique Vodka seharga Rp14,9 milyar
Henri IV Dudognon Heritage Cognac Grande Champagne seharga Rp30 milyar.
Tequila Ley seharga Rp43 milyar.
Billionaire Vodka seharga Rp55 milyar.
"Ini namanya Billionarie Vodka yang dirancang oleh Leon Verre seorang desainer asal Roma sayang, kalau kamu mau aku bisa kasih ini buat kamu. Gratis!"
"Berapa harga sebotol ini mas?" tanya Ariana yang sedikit terpesona akan rancangan botol ini.
"55 milyar," jawabnya santai memperlihatkan botol itu.
"Astaga, satu botolnya 55 M, kalau ditotal semua yang ada disini mungkin bisa untuk membeli pulau kali ya," batin Ariana.
"Mana kunci ruangan ini?" tanya Ariana pada Alex.
"Buat apa?" tanya Alex.
"Siapa tahu aku udah bosen sama kamu, kan aku bisa ambil dan jual buat makan aku sama Bian," jawabnya mengambil kunci ruangan itu.
"Kamu ada niat untuk tinggalin aku?" tanya Alex dengan wajah muram.
"Tergantung kamu sih," jawabnya seraya mengajak Bian berkeliling ruangan itu.
"Aaa hhhhh," tawa Bian saat melihat lukisan besar di dinding itu.
"Baby suka sama lukisannya boleh! Tapi jangan sampai kayak papa kamu ya, ngoleksi minuman haram itu gak baik nak," ucap Ariana pada sang bayi.
"Daripada ngoleksi cewek," sambar Alex yang membuat Ariana menatapnya tajam.
"Awas aja sampai kamu koleksi cewek," ancam Ariana pada suaminya tak lupa nada datar dan tegas itu.
Setelah puas mengelilingi ruangan itu, mereka keluar dan ruangan itu dikunci oleh Ariana. Kuncinya? Tentu ditahan oleh Ariana.
Bersambung
📌Nafsu Atau Cinta (On going) Kisah Mami Gloria dan Papi Arthur.
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏