
Happy reading
"Key, kantin yok," ajak Laras saat kelas mereka sudah selesai.
"Gak deh Ras, gue dikelas aja. Gaji gue belum keluar soalnya," jawab Keyra pada sahabatnya itu.
"Elah udah ayo, aku traktir deh kayak sama siapa aja. Lagian Papa juga lebihin uang saku gue, dan suruh gue buat ajak jajan lu," ujar Laras pada sahabatnya.
"Aku gak enak sama Om kalau terus ditraktir kamu. Walau kalian adalah keluarga Ibuku, tapi sekarangkan Ibu udah gak ada," ujar Keyra tak enak dengan sang sahabat.
"Key... Key.... Berapa kali sih gue harus bilang, walau bagaimanapun lu tetep sahabat plus sepupu gue. Walaupun tante udah gak ada tapi darah yang mengalir di dirimu juga darah keluarga Santosa," ujar Laras pada sahabatnya yang selalu menolak ajakannya.
Keyra yang mendengar ucapan sang sahabat itu langsung memeluk tubuh sepupunya ini dengan erat.
Disaat keluarga sendiri menelantarkannya kini malah sepupunya yang membantunya. Apa ia salah jika ia sedikit memiliki rasa kecewa pada sang ayah.
Keyra juga seorang gadis yang butuh perhatian dari ayahnya tapi apa? Ayahnya malah memajakan adik tirinya hingga membuat ia yang notabene adalah anak kandung terasingkan.
Setelah pemaksaan terhadap sahabatnya, Laras langsung menarik tangan Keyra kearah kantin. Biasanya jika sudah jam istirahat kantin selaku penuh akan mahasiswa yang juga ada disana.
"Key ke sana yok," ajak Laras yang melihat bangku dipojok bertepatan dengan meja Albian dan kawan kawan.
Keyra yang melihat Albian itu tertunduk malu, dan berlalu meninggalkan kantin. Laras yang melihat sepupunya sudah menjauh itu menghela nafasnya kasar entah kenapa dengan sepupunya itu.
"Permisi ya mau lewat," ujar Laras memberanikan untuk lewat didepan mereka ber sebelas.
"Santai aja kali kita gak makan kok," ujar Ditya pada Laras yang langsung menghentikan langkahnya.
"Kalian emang gak makan tapi tatapan kalian itu bikin gue mau mati tahu gak. Sahabat gue aja sampai kabur lihat kalian," gerutu Laras berlalu begitu saja.
Albian yang mendengar itu hanya menyinggungkan senyumnya, entah kenapa ada rasa lucu saat mendengar Keyra takut melihat mereka.
Albian membeli minum untuk dibawa ke kelas, meninggalkan para teman yang menatap Albian dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa tu orang? Biasanya dia paling betah sama kantin ini belum 20 menit dia udah cabut aja," ujar Farel pada teman-temannya.
Pertemanan mereka bukan lagi seperti teman sih tapi sahabat. Tapi mereka enggan mengakui itu sahabat karena bisa saja diantara mereka saling berkhianat.
"Mungkin dia udah insyaf," balas Bobi memakan bakso ekstra pedasnya.
"Hmmm bener sih mungkin dia insyaf dan mau cari cewek," timpal Diky pada mereka yang mengangguk.
Sedangkan Albian yang sudah pergi dari kantin itu mencari dimana Keyra pergi.
"Dimana dia?" tanya Albian dalam hati.
Hingga ia melihat seorang gadis sedang duduk kursi taman bersama seorang wanita yang usianya diperkirakan di bawahnya.
Satupun sayup terdengar suara mereka berbincang disana.
"Key aku butuh duit nih mintain ke Papa dong," ucap Sisil pada Keyra.
"Emangnya kita sedekat itu? Dengan seenaknya lu suruh suruh gue? Udah cukup selama ini gue diam karena gue gak mau Papa sakit. Tapi makin kesini, lu makin jadi Sil. Gue tahu lu adik tiri gue tapi lu gak bisa seenaknya nyuruh gue minta uang sama Papa. Kalau lu butuh duit kerja Sil. Udah cukup selama ini gue diam," jawab Keyra yang sudah muak akan semuanya.
Albian sedikit tahu sekarang tentang gadis yang sudah menarik perhatiannya itu.
"Cih kalau bukan karena gue ingin shopping gue juga gak mau minta gini ke lu. Dan perlu lu tahu ya Key, gue punya semua foto editan yang sangat terlihat asli tentang lu. Gimana lagi kalau papa lihat anak kandungnya sedang bersetubuh dengan laki-laki lain?" tanyanya pada Keyra.
"Brengsek lu Sil, gue gak pernah lakuin hal seperti itu. Kalaupun lu mau kasih foto editan itu ke papa gue udah gak peduli. Gue udah kecewa dengannya selama ini. Hati gue udah terlanjur sakit saat gue butuh dia tapi apa!!"
"Gara-gara lu dan nyokap sialan lu itu yang rubah semuanya, kalian hanya pura pura. Sudah cukup balasan tahu aku mengalah demi kalian, kalian ini biarkan aku egois."
"Kalian berdua bisa mengambil semuanya gue gak peduli!!"
Sisil yang mendengar itu geram, rencananya untuk meminta uang dari papa sambungnya lewat kakak tirinya terancam gagal. Dia juga marah saat Keyra mengatakan dia dan ibunya sialan.
"Awas aja lu Kay, gue bakal aduin lu sama Papa. Biar Papa semakin benci sama lu dan gue bakal jadi anak satu satunya papa," ujarnya berlalu meninggalkan Keyra yang menatapnya nahar.
"Gue gak peduli, papa memang sudah tak sayang sama aku. Dan semua itu karena kalian," gumamnya dengan sedih.
Keyra kembali duduk dan terdiam disana. Sudah cukup tadi pagi ia menangis karena semalam. Baginya ancaman Sisil dan Mamanya Sisil itu bukan apa-apa baginya. Tapi jika Ayahnya yang sudah berkata, ia bukan hanya sakit tapi hancur.
"Kenapa hidupku semenyedihkan ini? Apa aku tak pantas bahagia?" tanya Keyra menatap luas taman itu.
"Lu pantas bahagia kok," jawab Al duduk di samping Keyra.
Keyra yang melihat Albian disampingnya itu berubah jadi salting. Ia bingung harus apa, ini kedua kalinya Al menemuinya lebih tepatnya saat ia ada masalah.
"Kok diam?"
"Ya karena aku gak tahu mau ngomong apa," jawab Keyra.
"Yaaaa. ....."
"Yang tadi itu adik kamu?" tanya Albian dan diangguki oleh Keyra.
"Maaf bukan bermaksud untuk menguping tapi tadi aku gak sengaja dengar apa yang kalian katakan," ujar Al meminta maaf.
Hufftttt
"Sekarang kamu hampir mengetahui apa yang terj ag ini dengan hidupku kan? Lebih baik kamu jangan terlalu dekat denganku. Aku takut kamu terseret dalam masalahku Al. Apalagi Sisil sangat menyukaimu. ia akan terus mencari gara-gara denganku karena dekat denganmu," ujar Keyra panjang.
Al yaang mendengar kalimat terpanjang yang Keyra ucapkan itu hampir saja tercengang tapi dengan cepat menormalkan ekspresinya.
"Apa hak kamu menyuruhku mejauhimu?" tanya Albian pada Keyra.
"Karena kamu cowok yang digilai oleh banyak mahasiswi di kampus ini Al. Tolonglah, hidupku sudah banyak masalah tolong jangan menambahnya," pinta Keyra dengan menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
"Hufftttt apa aku menambah masalahmu Key?" tanya Albian dan dijawab gelengan tapi setelahnya ia mengangguk hingga membuat Albian tersenyum gemas.
Bersambung
Marhaban Ya Ramadan