
Pukul 12 malam tepat, Alex masih menunggu jam 12 tepat untuk membuka kado dari sang istri. Vito juga belum memberi kabar tentang Ariana padanya.
Alex membuk kotak itu dan betapa terkejutnya ia melihat benda pipih yang menunjukkan garis 2, dengan tulisan di bawahnya.
"You will be a father," Alex tak bodoh untuk mengartikan semua ini.
"Ja-jadi Ariana sedang mengandung?" tanyanya dengan senyum haru, ia akan menjadi seorang ayah sekarang tapi di sisi lain ia juga sedih pasti istrinya tersiksa diluar sana.
"Sayang aku mohon kembali," gumamnya memeluk tespek itu.
****
Ariana berjalan menuju halte ia berharap masih ada kendaraan lewat sekarang. Untunglah tadi ia membawa uang tabungannya, walau tak banyak tapi itu cukup untuknya bertahan hidup.
Ia memikirkan tempat dimana tidak ada yang bisa menemukannya dan bisa membesarkan anaknya.
Hingga pandangan Ariana terarah ke segerombol orang berpakaian serba hitam berlalu lalang menanyakan sesuatu pada orang orang yang masih ada disana.
"Orang yang dulu ikuti aku bukan sih?" tanyanya pada diri sendiri.
"Aku udah mundur masih aja dicari, gue harus cepat pergi dari sini."
Dengan cepat pergi dari halte dan menyamarkan penampilannya sebagai cewek culun, yah Ariana selalu menyamar jika keluar tapi berbeda dengan sekarang yang total.
Ariana melihat ada truk yang akan melintas, ia merentangkan tangannya yang otomatis memberhentikan truk itu.
"Neng siapa ya kok halangi jalan saya?" tanya Sopir itu.
"Saya Ria pak, bapak mau kemana?" tanya Ariana paa bapak itu.
"Saya mau ke kota H nak, antarin sembako buat anak anak di sana," jawabnya jujur.
"Saya boleh ikut gak pak, numpang sampai kota H. Saya anak rantau soalnya," ujar Ariana menjawab dengan polos.
"Boleh sih neng tapi di belakang ya, sekalian jaga sembako," tawar sang bapak dan di angguki oleh Ariana.
Akhirnya Ariana masuk ke belakang truk dengan berberapa sembako yang tertumpuk di sana. Pengap, dan sedikit panas. Ariana merasa truk itu berjalan.
"Sabar ya nak, mama akan dapatkan tempat yang nyaman buat kamu setelah kita keluar dari kota ini," batin Ariana dengan mata berkaca. Ia terlihat kuat jika di luar tapi rapuh saat sendiri.
***
Jari sudah mulai pagi, Alex yang terlelap dikasur karena terlalu lama menangis itu mulai bangun. Pandangan mencari seseorang yang sangat ia rindukan, mata lelaki itu bengkak karena terlalu lama menangis.
"Sayang," pekiknya dengan suara lantang.
Hingga akhirnya ia teringat jika sang istri sudah pergi. Tak menunggu lama ia bergegas mengambil kunci taksinya dan menjalankannya ke mansion orang tuanya.
Saat taksi itu masuk ke area mansion, para penjaga memberi hormal kepada tuan muda mereka.
"MAMI," teriak Alex saat masuk ke dalam mansion, di sana terlihat para pelayan berjejer menunduk hormat pada Alex.
"Mami dimana?" tanya Alex pada salah satu pelayan.
"Nyonya ada di kamar tuan," jawab pelayan itu sopan.
Dengan cepat Alex berlari menuju kamar sang mami, ia butuh pencerahan sekarang.
Sedangkan di dalam kamar, mami dan papi sedang berbagi kehangatan dengan tubuh mereka. Tubuh mereka masih menempel karena pergulatan semalam, keduanya masih terlelap dengan tangan saling membelit. Mereka tak tahu jika menantu cantiknya sudah pergi.
Suara gedoran pintu membangunkan keduanya, Mami Gloria yang tenang tidur itu terkejut begitupun dengan sang papi.
"Ehhh gak tahu sayang," jawabnya seraya menggerakkan tubuhnya hingga Mami Ariana yang sedang menatap pintu itu terpekik.
"Ahh papihhh," des ah Mami Gloria saat benda besar itu sudah kembali mengembung dan menusuk dalam miliknya.
"Yah mami, keluarkan suara indahmu," ucao Papi Arthur seraya merema* buah dada sang istri.
Alex yang masih menggedor pintu dari luar itu tak di hiraukan oleh keduanya, mereka pikir itu pelayan.
"Ashhh gak sopan banget tuh pelayan, ahh papi cepat. Biar mami kasih pelajaran tu pelayan," desak Mami Gloria saat suaminya yang bergerak lambat.
Mereka melakukan peryatuan itu hingga pelepasan masing masing. Papi Arthur mencabut terong yang sudah berubah itu dan Mami Gloria mengambil handuk kimono yang tergeletak diatas sakit itu dengan cepat.
Ceklek
"Siapa sih yang.... Alex," pekik Mami Gloria melihat sang putra berada di depan pintu kamarnya. Penampilan Alex yang acak acakan membuat Mami Gloria bergidik.
"Mami," lirih Alex memeluk tubuh sang mami dengan erat. Mami Gloria yang mengerti watak sang anak itu hanya bisa mengelus punggung Alex.
"Kamu kenapa hmm?"
Alex menatap sang mami dengan sendu, matanya sudah mengeluarkan cairan bening itu.
"Ceritanya nanti dulu, kamu mandi dan ganti pakaian dulu. Entah apa yang terjadi sama kamu."
Dengan pangkah gontai Alex menuju kamarnya begitupun sang mami yang kembali masuk dan mandi.
****
"Cerita sama mami!!"
Mami Gloria mengelus rambut sang putra dengan lembut. Papi Arthur harus menahan cemburu karena sang anak menguasai sang istri.
"Ria pergi mi, dia pergi. Dia kecewa sama aku mi. Dia tinggalim aku mi." Suara Alex terdengar pilu di telinga Mami Gloria dan Papi Arthur.
"Kenapa mantu mami bisa pergi? Pasti kamu lakuin sesuatu kan?" tanyanya pada sang anak.
"Ria tahu siapa Alex sebenarnya mi, dia kecewa sama Alex. Dia pergi," jawabnya dengan air mata yang terus keluar. Alex butuh maminya untuk bercerita.
"Kamu sayang sama dia?" tanya Mami Gloria pada Alex.
"Sangat mih, Alex sangat mencintainya lebih dari apapun," jawabnya menyembunyikan wajahnya di perut sang mami.
"Jadi untuk apa kamu masih di sini? Cari mantu kami sampai ketemu. Ariana tak akan pulang jika tak kamu cari," ujar sang papi.
"Tapi mama dan papa Ariana bagaimana mi, pih. Jujur aku belum siap ketemu mereka," Alex menatap kedua orang tuanya.
"Biar kami yang berbicara pada mereka," ujar mami sedikit menenangkan sang putra.
Seperti mendapat kekuatan lagi, Alex langsung bangun dan berlalu menuju kamarnya. Ia mengambil kunci mobil sport miliknya.
"Makan dulu Lex, mami gak mau kamu pergi sebelum mengisi perut kamu," ujar mami. Dengan cepat Alex mengambil sandwich dan berpamitan kepada orang tuanya.
Bersambung
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan difavorit kalian. Share juga novel ini ya😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏