
Happy reading
"Boleh aku mengelusnya?"
Luna menatap lelaki yang tak lain adalah ayah dari anaknya sekaligus lelaki yang sangat dicintai saudarinya itu dengan raut tak biasa.
"Aku tak akan memaksa jika kamu tak memperbolehkannya," tambahnya saat tak mendapat jawaban dari Luna.
"Maaf. Aku tak mau membuat sakit hati Clara," ujar Luna dengan lirih.
Nama Clara disebut kembali membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Kenapa ia lupa jika ia masib sangat mencintai wanitanya yang sudah tiada itu.
"Lebih baik kamu pulang, aku gak mau jadi bullyan warga gara-gara kamu disini," ujar Luna mengusir Nicola dengan halus.
"Emmm boleh ya aku nginep disini."
"Kenapa?"
"Karena aku memang mau kesini," jawabnya.
"Tapi..."
"Please... boleh ya," pintanya dengan melas.
"Oke tapi kamarnya tak sebagus yang kamu kira, karena itu adalah kamar ayahku," ucap Luna mengantarkan Nico ke kamar ayahnya.
"Iya gak apa-apa, selagi bisa sama kamu," gumamnya.
Akhirnya mereka sampai di kamar ayah Luna.
"Ini kamarnya. Selamat istirahat kamu pasti lelah karena perjalanan jauh," ujarnya berlalu begitu saja menuju kamarnya.
Nicola hanya menatap kepergian Luna dengan sendu, ia tak tahu kenapa ia menjafi sedih sekarang.
Luna yang sudah sampai di kamar itu dengan sedih, ia sangat ingin Nicola mengelus perutnya dengan lembut. Tapi ia juga masih teringat akan saudarinya. Ia tak mau membuat cinta Nico hilang kepada Clara begitu saja. Tapi kenapa rasanya sakit!!
"Kamu ingin dielus ayah ya nak? Maafin bunda belum bisa kabulin permintaan kamu. Bunda masih merasa bersalah dengan tante kamu. Dia yang selalu mencintai ayah kamu, tapi malah bunda yang..."
Ia tak melanjutkan ucapannya. Rasa sesak di dadanya saat ini. Ia hanya bisa menahannya, tapi keinginannya itu sangat besar hingga Luna hanya bisa menangis.
"Maafkan bunda," lirihnya seraya mengelus perutnya.
Tanpa diketahui Luna bahwa Nico ada dibalik pintu itu. Pria itu mendengarkan apa yang diucapkan Luna hingga tanpa sadar ia ikut meneteskan air matanya.
"Clara maafkan aku jika harus mengkhianati kamu, aku akan berusaha mencintai Luna dan anak yang sedang dia kandung. Aku akan tetap menempatkan nama kamu dihatiku tapi maaf aku harus membaginya," batin Nicola melangkahkan kakinya menuju kamar ayah Luna.
Pria itu sudah bertekat untuk berubah dan berusaha untuk menerima Luna dan anaknya yang sedang bersemayam dikandungan Luna ini.
Hari semakin gelap, Nicola yang tak bisa tidur itu mencoba untuk menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Kenapa aku tidak bisa tidur sih," geramnya bangkit dan berlalu menuju kamar Luna.
Niat hati ingin melihat wanita itu saja tapi dalam hatinya juga terbesit ingin mengelus perut wanita itu.
Ceklek.
Nico dapat melihat Luna yang tidur terlentang itu, perut buncit itu sangat terlihat jika wanita itu tidur. Selimut yang dipakainyapun sudah jatuh ke lantai.
Perlahan Nico berjalan mendekat kearah Luna dan merapikan selimut itu.
"Maaf jika aku lancang mengelus perutmu. Aku hanya ingin mengelus anakku saja," ucapnya lirih seraya mengelus perut buncit itu dengan lembut.
"Ayah bunda ya nak. Jadi kamu harus panggil aku ayah. Maaf jika ayah tak menemanimu 3 bulan ini. Ini juga gara-gara bundamu yang pergi padahal ayah ingin tanggung jawab," ucapnya berbicara pada perut Luna.
"Nico," batinnya.
"Oh ya kamu lagi apa didalam sana? Jangan buat bunda sedih ya nak. Dan do'ain ayah supaya bisa naklukin bunda kamu."
Cups
"Tidur yang nyenyak ya sayang," ucapnya dengan senyum.
Nico menatap wajah ayu Luna yang sedang tertidur itu, sama persis seperti Clara tapi satu yang membedakan mereka, Luna memiliki lesung pipi di sebelah kiri yang mrmbuat Luna tampak manis.
"Boleh ya aku tidur disini," ucapnya yang sudah naik dan memeluk tubuh Luna.
Deg deg deg
Jantung Luna berdetak hebat saat Nico memeluknya tak lupa tangan laki-laki itu mengelus perut buncit itu.
Merasa sangat nyaman akhirnya Nicola terlelap juga didampung Luna. Sedangkan wanita itu mukai membuka matanya dan menatap wajah tampan Nico dari dekat.
"Kamu memang tampan tak salah jika Clara sangat mencintaimu," batinnya mengelus kening pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di kamar Alex dan Ariana kini terjadi perang dingin karena Alex tak pernah mau mrngalah dengan Baby Zain.
Tadi sore saat Baby Bian ingin menyusu malah dihalangi oleh Alex alhasil Baby Bian menangis tak mau berhenti. Bahkan sekarang anak dan ayah itu seperti musuhan.
"Lain kali jangan gitu ya mas, aku gak suka cara kamu kayak gitu sama Bian," ucap Ariana pada suaminya.
"Tapi aku cemburu yank," ucapnya.
"Ini anak kami sendiri mas, bukan cowok lain!" geram Ariana melihat sifat suaminya yang kekanakan ini.
"Maaf."
"Aku gak mau maafin kamu sebelum kamu janji gsk bakal kayak tadi sore, kasihan Bian sampai kejer gitu," ucapnya menatap bayinya yang sudah pulas tertidur itu.
"Iya sayang mas janji. Sayangnya papa maafin papa yang tadi sore ya," ujarnya mengecup pipi putranya.
"Hmm, sini tidur."
Ariana merentangkan tangannya hingga pris 28 tahun itu tanpa ragu masuk kedalam pelukan sang istri. Hal itu sudah biasa mereka lakukan mengingat Ariana sangat jarang aa waktu dengan suaminya jika bukan malam begini.
"Besok jalan-jalan yuk yank," ajak Alex.
"Hei tuan besok anda harus kerja untuk anak dan istrimu ini," ucap Ariana mengecup kening suaminya.
"Ya sudah kamu aja yang ke kantor ya," ucapnya.
"In syaa Allah."
Alex menyembunyikan wajahnya diceruk leher Ariana, ia tahu jawaban istrinya ini bisa iya bisa juga tidak.
"Aku rindu yank," ucapnya dengan nada serak. Matanya sayu menahan gairah yang sedari tadi ia tahan.
"Lakukanlah mas!"
Ariana pasrah akan apa yang dilakukan suaminya saat ini, mungkin Alex butuh semangat darinya. Akhir-akhir ini memang banyak pekerjaan dikantor. Walau sudah dibantu Papi Arthur dari rumah.
Bersambung
📌Nafsu Atau Cinta (On going) Cerita Mami Gloria dan Papi Arthur.
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏