
Warning!!!
(Kalau ada typo komentar ya dibagian mana, biar uthor bisa perbaiki๐โบ)
Happy reading
Setelah mandi besar mereka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh mereka. Ariana berjalan menuju lemari dan mengambil kemeja berwarna hitam yang dulu ia ambil dan juga dibuatnya jika rindu sosok Alex.
"Ini kemejamu dan celananya ini, maaf jika sedikit kekecilan. Itu celana paling besar yang dulu aku beli," ucapnya memberikan pakaian kepada Alex.
"Kamu membawa kemejaku?" tanya Alex menyinggungkan senyumnya.
"It-itu tak sengaja terbawa," elaknya langsung pergi mengambil bajunya.
"Oh .... Kau tak sengaja membawanya, tapi kenapa yang kau bawa kemejaku bukan baju bajumu?" tanya Alex yang sudah melepas handuknya dan memakai celananya.
"Entah aku juga gak ingat," jawabnya lagi. Wajahnya sudah bersemu merah saat Alex menggodanya apalagi Alex yang sengaja bertelan jang di depannya.
"Masih aja ngeles, bilang aja kalau saat kamu berencana pergi kamu gak rela kan ninggalin aku hmm?" tanyanya dengan senyum tampan.
"Enggak," ketusnya berlalu menuju kamar mandi.
Tak lama Ariana keluar dari kamar mandi dengan daster berwarna kuning kunyit yang sangat pas di tubuhnya.
(Anggap saja itu daster yang dipakai ya wkwk.)
"Cantiknya siapa ini hmm?" tanya Alex mencubit hidung merah Ariana karena tadi terlalu lama di kamar mandi.
"Cantiknya baby, ya kan nak," jawab Ariana yang mengelus perutnya.
"Cantiknya papa juga kan nak," Alex ikut mengelus perut buncit itu dengan halus.
"Iya papa," jawab Ariana menirukan suara anak kecil.
"Serius sayang kamu cantik dengan daster di tubuh kamu," ujar Alex yang meneliti penampilang sang istri. Apalagi perut buncit itu terlihat jelas di matanya.
"Aku lebih suka daster daripada dress, nyaman dipakai apalagi aku lagi hamil. Mungkin aku sudah terbiasa hidup seperti ini. Kamu jangan kaget jika aku akan selalu berpenampilan begini saat di rumah," ujar Ariana memutar badannya pelan.
"Aku rela kok kamu berpakaian begini aku gak akan larang kamu juga, selagi kamu nyaman. Apalagi kamu tambah seksi saat pakai daster." Alex meraih tangan Ariana dan mengecupnya.
"Kam...
Tok! Tok! Tok!
Belum selesai Ariana berbicara, suara ketukan pintu itu menghentikan ucapnya.
"Non .... Sarapannya sudah siap, masa dari tadi belum bangun juga," teriak Bi Erni dari luar kamar Ariana.
Kedua manusia yang ada di kamar itu saling pandang dan tersenyum ada saja yang mengganggu.
"Iya bi, Ria udah selesai. Bibi duluan aja," balas Ariana dari dalam.
"Non gak apa-apa kan di dalam?" tanya Bi Erni.
"Gak apa-apa kok bi," jawabnya.
Suara Bi Erni sudah tak terdengar lagi, Ariana memakaikan kemeja Alex dan mengancingnya.
"Kenapa di kancing segala?" tanya Alex melepas kancing kemejanya.
"Emm anu itu apa," gugupnya tak jelas.
"Kenapa sayang bilang yang jelas," desak Alex seolah tak tahu.
"Dadamu penuh dengan cupan*. Aku malu Lex, tutupin dong." Ariana terus mrngancing kemeja hitam itu tapi berulang kami dilepas oleh Alex.
"Gak mau sayang, gini aja enak. Seger gitu," ujarnya dengan nada menggoda.
"Kancing atau aku kurung kamu di kamar ini," ancamnya berlalu begitu saja.
Keduanya berjalan menuju ruang makan, di sana sudah ada Bi Erni yang sudah menunggu mereka tak lupa senyum di sudut bibirnya.
"Mereka sudah baikan, syukurlah."
"Sarapan dulu non, nak, mainnya nanti lagi." Bi Erni mengambilkan nasi untuk keduanya.
"Bi .... Aku bisa sendiri," ujar Ariana mengambil alih centong nasi yang dipegang Bi Erni kemudian mengambilkan nasi untuk Bi Erni dan nasi untuk suaminya.
"Punyamu saja," ujar Alex yang diangguki oleh Ariana dengan senyum. Ia juga rindu makan berdua dengan suaminya.
"Loh kenapa piringnya nak Alex gak diisi non?" tanya Bi Erni.
"Ini bi," ujarnya menunjuk piringnya. Bi Erni hanya mengangguk paham.
"Biar aku suapin kamu," ujar Alex dab diangguki cepat oleh Ariana, Alex tersenyum ia tahu sang istri juga merindukannya.
"Kalian sudah baikan?" tanya Bi Erni yang sedang menahan senyum melihat kemesraan dua orang dihadapannya.
"Udah bi, Ariana cuma salah paham aja. Tapi Ariana juga gak bisa sepenuhnya percaya sama Alex, kalau gak ada bukti yang akurat," ujarnya menatap tajam Alex. Ia percaya pada Alex tapi tak menutup kemungkinan Alex berbohong.
"Buktinya akan ke sini nanti siang," jawabnya terus menyuapi sang istri.
"Siapa?" tanya Ariana.
"Ada aja, kamu bakal tahu nanti," jawabnya.
"Pesan bibi ya, kalau kalian ada masalah atau apa bicarakan dulu baik-baik," pesan sang bibi pada keduanya.
"Dan jangan main kabur kaburan, pakai surat gugatan lagi. Gak tahu apa suaminya hampir gila," sindir Alex yang membuat Ariana malu setengah mati.
Ariana yang malu itu mencubit perut Alex, tanpa ada yang tahu kecuali kedua orang itu.
"Ashhh," ringis Alex yang membuat Bi Erni menatap keduanya.
"Kenapa nak Alex?" tanya Bi Erni, Alex menatap istrinya yang melotot.
"Di gigit semut bi, maklumlah orang manis semut pun mau," jawab Alex seraya mengelus perutnya.
"Masa sih ada semut? Padahal tadi sudah bibi bersihkan," ujar bibi.
"Udah hilang kok bi, tenang aja."
"Oh ya bi, saya mau izin tingga di sini sampai Ria melahirkan apa boleh?" tanya Alex sopan, ia tahu ini rumah milik Bi Erni alangkah baiknya ia meminta izin pada yang punya rumah.
"Boleh kok nak Alex, yang penting kalian punya surat dan buju nikah kalian. Kalau sewaktu-waktu ada orang tanya kita bisa jawab," jawab Bi Erni dengan senyum.
"Iya ni, buku nikah dan surat suratnya sudah saya bawa di mobil."
"Baguslah kalau begitu."
Mereka menghabiskan sarapannya. Bi Erni dan Ariana membersihkan meja dan peralatan makan lainnya. Sedangkan Alex yang ingin membantu malah di suruh pergi ke ruang tamu.
Tok! Tok! Tok!
"Itu pasti Nico," Alex bangkit dari duduknya dan membuka pintu.
Ceklek
Alex yang baru membuka pintu itu terkejut ternyata yang datang bukan Nico melainkan lelaki yang Alex tak tahu siapa namanya dengan membawa sebuket bunga di tangannya.
"Ariananya ada?" tanya laki-laki itu sopan.
Bersambung
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan masukkan ke daftar favorit kalian. Share juga novel ini ya. Makasih๐๐๐
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.๐๐